Aksara Cinta

Aksara Cinta
127. Berbahaya


__ADS_3

"Aku sudah peringatkan agar kamu tidak mengenalnya, Ressa." Ucap Tian dingin, suasana mobil jadi tambah dingin karena bersatunya suhu dari AC dan sikap Tian.


"Aku tidak tau kenapa bisa bertemu dengannya, Sayang." Jawab Ressa masih dengan suara lembut.


"Bagaimana bunga itu bisa ada dimobilmu kalau kalian tidak bertemu?" Tian sengaja memeriksa mobil Ressa sebelum pulang untuk memastikan apa yang putrinya kirim itu benar.


"Sekali lagi aku peringatkan. Aku tidak suka kamu mengenal lelaki yang bernama Jeri Andreas Alden itu!" Sebut Tian dengan nada yang tidak biasa Ressa dengar. Sangat kental aura kemarahan di wajah Tian.


"Aku sudah jelaskan Tian, aku bahkan tidak mengenal laki-laki itu. Kenapa sangat marah padaku, aku tidak tau apa masalahmu dengan lelaki itu. Kenapa aku yang jadi dibawa-bawa." Balas Ressa tidak terima dirinya yang dipojokkan.


Tian menghela napas gusar, gara-gara bertemu Jeri dia jadi sangat emosi. Mana mungkin kebetulan, semua sudah Jeri rencanakan, bahkan sampai mengikuti Ressa.


"Maaf aku emosi, dia berbahaya buat kamu, Sayang." Ujar Tian melembutkan suaranya, memberikan sentuhan di puncak kepala Ressa. "Dia sudah mengikutimu, tidak ada yang kebetulan, Honey. Semua ini sudah dia rencanakan. Berhati-hatilah padanya."


"Kamu mengenalnya?" Selidik Ressa, suaminya ini seperti banyak tau tentang laki-laki bernama Jeri itu.

__ADS_1


"Sangat mengenalnya, Honey." Jujur Tian, daripada nanti terjadi salah paham lagi. "Dia sangat berbahaya, Sayang. Percayalah, setelah tau kamu istriku. Dia akan semakin gencar mengejarmu."


"Apa kamu meragukanku Tian, dan menganggapku akan berpaling darimu!" Sarkas Ressa.


Tian menggeleng pelan, "bukan itu Honey. Dia sangat licik dan bisa melakukan segala cara untuk menaklukkan lawannya. Audrey salah satu mangsanya, dia mengejar Audrey karena tau dekat denganku. Dan anak yang Audrey kandung itu adalah anaknya. Dia sengaja ingin menghancurkanku, Sayang."


Ressa dibuat menganga dengan penjelasan Tian. "Dan orang yang menyatakan kamu sebagai penjamin di rumah sakit adalah Jeri." Tebaknya, karena hari itu mereka bertemu di rumah sakit.


"Yes Honey, jaga dirimu baik-baik." Tian mengecup kening Ressa setelah memarkirkan mobil. Mereka sudah sampai di kantor Tian.


"Aku tidak bisa menjelaskan itu sekarang, Sayang. Suatu saat nanti akan aku ceritakan." Tian menatap Ressa lembut, "kita turun sekarang, Honey."


"Baiklah, aku akan menagih cerita darimu setiap hari sampai kamu menceritakannya, Sayang." Ancam Ressa, yang menduga Tian hanya ingin menghindari pembicaraan tentang Jeri saat ini.


"Itu terdengar sangat mengerikan, Sayang." Tian turun dari mobil lebih dulu membukakan pintu untuk Ressa dan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Lebih mengerikan mana dengan tidur sendirian, Sayang." Tatap Ressa usil.


"Itu lebih mengerikan, otot kekarku inipun langsung gemetar kalau mendengar kalimat keramat itu." Kelakar Tian.


"Bagaimana keadaan Audrey?"


"Aku bukan bodyguardnya Ressa, jadi tidak tau bagaimana perkembangannya. Kecuali kamu dengan suka hati mengijinkanku menjadi bodyguardnya."


"Aku tidak melarangnya, Sayang. Kalau itu yang kamu ingikan," ucap Ressa sambil tersenyum.


"Kalimat ini bisa membuatku langsung merinding, Honey."


"Apa kamu selemah itu, Tian. Baru mendengar kalimat dariku sudah langsung merinding, hm."


"Kamu tidak perlu angkat senjata untuk membuatku kalah, Sayang. Cukup kalimat yang keluar dari mulut manismu ini, itu sudah bisa membuatku bertekuk lutut."

__ADS_1


Tian menggandeng Ressa memasuki lift khusus petinggi perusahaan. Walau Ressa sudah sering ikut ke kantor, itu tidak mengurangi sorot-sorot mata elang yang menatapnya bak lampu sorot di atas panggung.


__ADS_2