
"Jalan atau gendong?" Tawar Denis. Erra meletakkan telunjuknya di dagu seperti sedang berpikir.
"Jalan, Erra kan sudah besar. Eee, tapi kata uncle gak boleh jalan. Nanti kalau jatuh tangannya sakit terus Erra diantar Uncle Tian pulang, Erra gak mau pulang," katanya bimbang.
Denis tersenyum geli ulah tingkah bocah di depannya ini. Dia membawa Erra berkeliling, bocah kecil itu dengan riang menyapa setiap orang yang ditemuinya. Mulutnya tidak berhenti menanyakan hal-hal yang baru dilihatnya.
"Sekarang Erra mau kemana?" Tanya Denis setelah hampir setengah hari membawa Erra berkeliling.
"Erra ngantuk, hoam." Ucapnya sambil menutup mulut saat menguap.
"Oke, kita tidur. Uncle Tian punya kamar rahasia," jelas Denis antusias.
"Realy?" Asisten Tian itu hanya menganggukkan kepala, membawa Erra kembali ke ruangan. Tian masih belum selesai meeting.
Denis membuka pintu ruang istirahat Tian, dari luar terlihat seperti pintu lemari. Padahal di dalam ruangan perabotan lengkap seperti kamar.
"Wow," Erra berdecak kagum naik ke atas tempat tidur. "Aku mau nonton kartun," teriaknya riang.
__ADS_1
"Siap princess," Denis menghidupkan televisi mencarikan chanel yang menayangkan kartun. Sialnya tidak ada tayangan yang cocok untuk anak-anak. Terpaksa ia mencarikan di internet.
"Mau kartun apa baby?" Tanya Denis.
Hening, tidak ada jawaban. Lelaki itu menoleh, "astaga tidur." Gumamnya, derita Denis jadi babysitter. Sungguh usahanya sia-sia menyalakan televisi.
Denis keluar dari ruang istirahat, setengah hari dia membuang waktu hanya untuk menjaga anak kecil.
"Erra tidur?" Tanya Tian.
"Menurut lo?" Denis balik bertanya dengan wajah sewot, menghempaskan tubuh di sofa.
"Ya kali gak ngerepotin, gue mendadak jadi babysitter. Sekarang jelaskan, lo gak sedang dapat karma karena ada dua orang perempuan yang hamilkan? Seperti kutukan gue."
Tian mendadak sayu, "sayangnya itu semua terjadi." Ucapnya lemas.
Denis menghela napas berat, "selanjutnya apa rencana lo?"
__ADS_1
Lelaki itu menggelengkan kepala, tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. "Audrey sudah menggugurkan kandungannya dan Ressa pergi."
"Gue tau lo gak selemah itu, Tian. Lo pasti tau kemana Ressa pergi. Dan ini kesempatan lo mengakhiri semuanya dengan Audrey. Kalo Audrey datang dan minta pertanggung jawaban, lo bisa jadikan ini sebagai alasan untuk menolaknya. Dan sekarang perjuangin Ressa." Ujar Denis berapi-api, entah kenapa dia yang jadi bersemangat.
"Mungkin ini cara Tuhan untuk menyelamatkan lo agar tidak menikahi keduanya." Lanjut Denis sambil menerawang, "dari awal gue gak berpihak sama siapapun perempuan yang ingin lo nikahi. Gue cuma malas lihat lo jadi galau seperti orang gak ada kerjaan."
"Apa itu gak terlalu jahat, beralasan agar bisa lepas tanggung jawab." Hati nuraninya tidak membenarkan semua itu. Tapi Tian juga bingung kalau keduanya minta pertanggung jawaban, bagaimana.
"Sudahlah, lo gak usah mikirin itu. Dia aja gak mikirin anaknya sendiri. Ibu mana yang tega membunuh anaknya dengan sengaja demi bisa hidup bebas. Uang bulanan yang lo berikanĀ selama ini sudah lebih dari cukup. Lo urus Ressa, gue bereskan Audrey." Ujar Denis tenang, dia akan menghalau apapun yang bisa mengacaukan pikiran bosnya itu.
"Oke, tapi jangan sampai lo sakiti Audrey."
"Iya-iya, gue gak bakal bunuh dia." Denis berdecak, "walau lagi haus darah." Ujarnya sambil menyeringai jahat.
"Darah ayam? Kurang sesajen lo, gue pesanin!"
"Sekalian nitip kembang tujuh rupa sama kemenyan," Denis tertawa gelak.
__ADS_1
"Dasar asisten lucknut!" Umpat Tian.