
"Daddy, Tante Ressa juga ada di sini?" Tanya Dea dari depan pintu.
"Dea kita pulang, Sayang." Ajak Aruna pada putrinya.
"Aku mau pulang kalau Daddy ikut pulang!" Deandra masuk ke dalam rumah mendekati Tian. Lelaki itu menyambutnya dengan pelukan dan kecupan di kening.
"Daddy sakit!" Pekiknya, "ayo kita pulang, Dea obati di rumah."
Ressa semakin membenamkan wajahnya pada sang ayah, tidak tau apalagi yang akan terjadi setelah ini. Dea mungkin akan sangat membencinya. Ia sudah cukup lelah dengan semua drama yang ada di rumah tangganya ini.
"Ayah temani Ressa di kamar, mau?" Lirih Ressa sangat pelan. Matanya tidak menangis, hanya hatinya yang menangis pilu.
"Iya Sayang," Amrin menuntun putrinya ke kamar melewati Tian yang sedang memeluk Dea.
"Mulai sekarang Ayah akan menemani kamu." Amrin mendudukkan Ressa di sisi tempat tidur.
"Aku sudah besar Ayah, tidak perlu ditemani. Cukup ayah nikmati hidup dengan anak istri, Ayah." Ressa tersenyum meyakinkan Amrin kalau dia baik-baik saja.
__ADS_1
"Harusnya tangan itu tidak pernah mendarat di sini dengan kasar." Amrin mengelus sayang pipi Ressa yang sedikit memar.
"Aku tidak selemah itu, Ayah. Biasanya aku menampar nyamuk lebih kasar dari ini." Ujar Ressa terkekeh kecil. Amrin kembali memeluk putrinya tanpa berkata apa-apa.
Sementara di ruang tamu Tian sedang memberikan penjelasan pada putri kecilnya.
"Maaf, Daddy gak bisa ikut pulang sama Dea." Tian mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri, "sebelum Daddy bertemu Dea, Daddy sudah menikah dengan Tante Ressa. Mungkin Dea akan marah sama Daddy setelah ini." Jelas Tian pelan sambil memegangi kedua bahu Deandra.
"Jadi benar, Daddy sudah menceraikan Mommy?" Tanya Dea tanpa ekspresi, Tian mengangguk lemah.
"Honey," Tian mengusap-usap bahu Deandra agar lebih tenang.
"Aku bisa terima kalau istri Daddy perempuan lain, tapi aku gak bisa terima kalau perempuan itu Tante Ressa." Ucap Dea lalu pergi dari hadapan Tian sambil menangis. "Mommy, ayo pulang!" Teriaknya nyaring.
Tian menjatuhkan tubuhnya di lantai melihat kepergian putrinya yang membawa serta air mata. Dia tidak bisa mengejar Dea saat ini.
Tian menghubungi Denis, satu-satunya orang yang bisa dimintainya tolong untuk menenangkan Dea.
__ADS_1
"Ya, ada apa? Ressa masih belum bisa dibujuk." Tanya Denis dari seberang telepon.
"Tidak hanya Ressa, Dea sekarang ikut-ikutan mengamuk. Barusaan mereka datang, ibunya Aru membuat keributan. Bantu tenangkan Dea, Denis."
Terdengar Denis menghela napas panjang dari seberang sana, "semakin hari tugas gue semakin berat, Tian. Lebih baik gue mengurus perusahaan keluarga daripada mengurus keluarga lo."
"Ayolah, lo harus bisa mengambil hati Dea biar bisa menikah dengan ibunya," rayu Tian.
Denis berdecak, "mengurus ibunya yang manja itu sangat meresahkan junior gue, Tian. Kalau gue kesana gak hanya putrinya yang manja ibunya juga ikutan manja. Bisa lepas dari sangkar sebelum waktunya si junior."
Tian tertawa gelak mendengar curhatan Denis, "cicil dikit-dikit gak papa kali."
"Dasar setan," umpat Denis. Tidak tau saja Tian, kalau dia sudah mulai mencicil pagi tadi. Hah, mengingat itu membuat tubuhnya gerah.
"Cepat lo datang ke rumah Aru, gue khawatir Dea malah mengajak Aru pulang ke Sydney. Dan lo tidak memiliki kesempatan mencicil lagi." Ujar Tian sengaja memancing.
"Iya-iya, gue berangkat sekarang, bawel." Jangan sampai dia dibuat gila karena Aruna yang ikut-ikutan menghilang dari pandangan mata. Denis sudah terlanjur memantapkan hatinya pada Aruna.
__ADS_1