
"Hei Sayang, mana bisa seperti itu. Jangan jelaskan terlalu rinci, itu bukan anakku. Anakku cuma ada di sini." Tian menahan tawanya, mengusap perut Ressa dengan lembut.
Pria paruh baya itu ikut berpikir, benar juga bagaimana anak muda itu menghamili anaknya kalau mereka tidak bersentuhan.
"Ayah, perempuan itu hanya perempuan murahan yang Tian bayar untuk mengelabui kita." Seloroh Audrey tidak terima karena kalah dari sekretaris murahan itu. Jangan sampai sang ayah lebih percaya pada ucapan perempuan itu.
"Hei Nona, kau menganggapku perempuan bayaran!!" Ressa mengambil buku nikah di laci Tian, melemparnya ke depan Audrey.
"Baca baik-baik, itupun kalau kau masih bisa membaca aksara yang tercantum di sana. Aku takutnya kau hanya mengerti bahasa kalbu!" Sarkas Ressa benar-benar geram, tidak sedang berakting.
Tian tersenyum melihat singa betinanya sudah beraksi.
"Jangan marah-marah, Sayang. Tidak baik." Tian menyandarkan kepala Ressa ke bahunya.
"Mereka suka sekali menganggapku perempuan murahan. Memang mereka anggap semua perempuan sama seperti dirinya, menjual diri hanya demi bisa membeli barang-barang branded." Ucap Ressa masih mengoceh dalam pelukan Tian.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya saya harus menenangkannya. Kalau kalian masih perlu sesuatu bisa hubungi asisten saya." Tunjuk Tian pada Denis yang berada di pojok ruangan sedari tadi sambil mengikuti lomba tahan tawa.
"Pulang Audrey!" Teriak sang ayah karena malu, anak muda yang dia tuduh benar-benar sudah menikah.
"Tapi Ayah..." rengek Audrey.
"Tidak ada tapi-tapian, pulang! Atau kau semakin ingin membuat Pak Tua ini malu karena kelakuanmu itu." Sarkasnya langsung menarik Audrey meninggalkan ruangan.
"Apa spe*rma juga bisa di kirim lewat bluetooth, Honey. Agar aku bisa segera memiliki anak darimu dan tidak perlu menunggu dua minggu lagi." Ujar Tian memeluk gemas istrinya yang kalau dibiarkan bisa asal bicara.
"Itu benar bukan anakmu kan, Tian?" Ressa mengubah wajahnya ke mode serius menatap Tian tajam.
"Aku gak ada bertemu siapapun selain kamu dan Dea. Kalau ketemu Aru juga pasti bersama Denis. Kamu bisa cek setiap detik aktivitasku saat kamu gak ikut ke kantor, Sayang." Jelas Tian serius.
"Usia kandungan Audrey baru tiga minggu, mana mungkin anakku. Kalau iya anakku pasti usianya lebih dari usia kandunganmu sebelum keguguran, Honey." Lanjut Tian meyakinkan Ressa.
__ADS_1
"Aku tidak segila itu memeriksa setiap detik aktivitasmu, apalagi tidak memperbolehkanmu keluar dari kamar setiap malam." Sarkas Ressa menyindir, Denis dan Tian tertawa gelak.
"Aku rela kamu larang keluar kamar setiap malam, Sayang." Goda Tian. "Sungguh, sangat rela."
"Hm, baiklah. Mari puasa lebih lama, Sayang." Ressa mengerling jahil.
"No... No Honey, ini sudah berbulan-bulan tanpa kamu." Rengek Tian, mau ditambah lagi jatah puasanya. Oh sungguh terlalu.
"Kalian lanjutkan berdebat masalah ranjangnya, aku mau menjemput putriku dulu." Ujar Denis melimpir dari ruangan Tian.
Pasangan suami istri itu hanya terbengong. "Yang daddy sesungguhnya siapa?" Tanya Ressa melongo.
"Daddy Dea ada dua, Sayang. Jangan khawatir dia akan kekurangan kasih sayang. Yang ku khawatirkan, milikku kekurangan belaian." Sebut Tian dengan tatapan menggoda.
"Apa aku masih bisa mempercayaimu lagi, Tian?" Ressa tidak merespon ucapan Tian mengalihkan topik yang dibahas.
__ADS_1