Aksara Cinta

Aksara Cinta
91. Malam Panjang


__ADS_3

"Mas kenapa gak pulang?" Aruna terpekik melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu artinya mereka sudah tertidur beberapa jam setelah pertempuran sengit sore tadi. Ia lekas membangunkan Tian.


"Yes, Honey. Ada apa, hm?" Tian tersenyum manis semakin mengeratkan pelukannya pada Aruna.


"Kamu gak pulang Mas, Ressa pasti nungguin kamu. Ayo cepat bangun... Pulang!!" Aruna khawatir adiknya akan semakin merasa berkecil hati kalau Tian tidak pulang.


"Aku sudah bilang menginap Ru," jawab Tian tenang sambil mengendus-endus pipi Aruna.


"Astaga, pantas saja Ressa tidak mempercayaimu, Mas. Baru diservis begini kamu sudah melupakannya."


"Hei, aku tidak melupakannya. Aku sedang menemani istri pertamaku, apa itu salah. Aku belum pernah menemaninya tidur semalaman." Ujar Tian tidak terima dibilang melupakan Ressa. Hanya ditinggal satu malam tidak akan membuat Ressa bunuh diri lalu dia akan kehilangan anak dan istrinya itukan.


"Terserah kamu saja, Mas." Jengkel. Aruna bangkit dari tempat tidur. Dia bukan tidak suka Tian menemaninya, hanya saja takut adiknya itu semakin terluka.


"Hei, jangan merajuk, Sayang." Tian menangkap Aruna dan memeluknya dari belakang. "Jangan ikutan suka merajuk, kepalaku ini bisa pecah mengurus kalian."

__ADS_1


"Siapa yang merajuk, Mas. Aku mau mandi. Gerah!" Elak Aruna ketus.


"Aku ikut," lelaki beristri dua itu memasang tampang polosnya. Aruna menurut saja, Tian tersenyum langsung menggendong Aruna ke kamar mandi.


Di kala Tian sedang asik memandikan Aruna dan mencumbuinya. Di tempat lain Ressa sedang melawan rasa sakit yang datang menyerang perutnya. Perempuan itu mengerang dalam kamar dengan keringat dingin.


Aaarrrkh, sungguh ia sedang mengalami seperti di drama-drama sinetron. Saat suami menginap di rumah istri pertama dia sedang kesakitan di rumah sendirian.


Ressa bangun ke kamar mandi, tubuhnya sangat lemas sekarang. Perempuan itu menghubungi Tian, bukan niat ingin mengganggu suaminya. Tapi dia sudah tidak tahan lagi. Namun berkali-kali mencoba menelpon tidak ada jawaban.


Ia terpaksa menelpon Hira, siapa lagi yang bisa membantunya sekarang. Ibunya? Itu hanya mimpi. Atau ayahnya, yang ada menimbulkan pertengkaran sang ayah dengan ibu saja nanti.


"Ressa!" Panik Hira, melepaskan tangan Erfan yang melingkar di perutnya.


"Ada apa, Sayang?" Erfan ikut bangun.

__ADS_1


"Bee, cepat pake baju. Ressa kesakitan katanya Tian belum pulang. Gak tau apa yang yang sakit." Hira langsung melompat dari tempat tidur lari ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Dengan malas Erfan juga ikut bangun, awas saja kalau cuma sakit perut gara-gara kebanyakan makan sambel. Ia akan mengomeli mantan sekretarisnya itu karena sudah mengganggu malam panjangnya.


Hira berulang kali menghubungi Ressa balik, tapi tidak ada jawaban. Apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.


"Sialan, kemana Tian bisa-bisanya meninggalkan Ressa sendirian." Gerutu Hira, Erfan hanya mendengarkan istrinya marah-marah sambil mempercepat laju mobilnya.


"Tenang Sayang, Ressa pasti baik-baik saja." Erfan menenangkan Hira yang panik, perempuan itu langsung berlari setelah turun dari mobil.


"Siap-siap dobrak, Mas." Hira mencari keberuntungan membuka pintu rumah Ressa, berharap tidak di kunci. Ternyata benar bisa Hira buka. Rumah itu gelap, hanya lampu kamar yang menyala.


"Astaga, terkutuk kau Tian!" Maki Hira sambil mencari saklar lampu dengan senter ponselnya. Ia berlari ke kamar memanggil Ressa yang sama sekali tidak ada jawaban.


Erfan hanya menunggu di ruang tengah sambil geleng-geleng kepala melihat kepanikan istrinya yang terus mengumpat sepanjang jalan.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Maaass!!!" Teriak Hira panik melihat Ressa tergeletak di lantai dengan kaki yang berlumuran darah.


"Kenapa, Sayang?" Erfan langsung menyusul istrinya dan dia sangat terkejut melihat kondisi Ressa.


__ADS_2