
"Harusnya kamu gak banyak melamun di depan Dea. Dia jadi berpikir yang macam-macam," ucap Tian setelah sampai di rumah.
"Maaf," sahut Ressa pelan berjalan ke kamarnya. "Nanti kalau kamu ke sana aku gak usah ikut aja dulu, biar Dea gak sedih," usulnya.
"Kamu ini kenapa sih?" Ujar Tian kesal karena merasa diabaikan seharian ini.
"Kenapa? Huhh, dasar laki-laki tidak peka!" Desis Ressa dalam hati.
"Aku cuma capek."
"Kamu capek ngapain sih, di kantor juga cuma duduk. Gak masak, gak ngapa-ngapain kan. Diajak ngomong juga diam terus." Tian mulai lelah menghadapi tingkah Ressa yang sangat labil.
"Kamu mau aku gimana? Aku di rumah, kerja, atau apa. Biar aku gak selalu salah di mata kamu, Tian. Yang kamu lihat cuma Aru, Dea. Aku bukan Aru. Aku capek dibandingkan!!"
Tian menghela napas kasar, "Dea itu anakku, Ressa. Wajar aku memperhatikannya, selama ini dia tidak pernah dapat perhatian dariku."
"Kalau Dea dulu tidak mendapat perhatian darimu, apa itu salahku, Tian. Kamu terlalu banyak menuntutku, aku tidak bisa seperti Aruna. Kamu bahkan tidak bertanya padaku kenapa aku bisa pulang dengan Jeri kemaren. Apa aku pernah melarangmu bertemu, Dea. Kalau kamu merasa berat bersamaku, lepaskan."
"Sedikit-sedikit ada masalah minta cerai. Tidak bisakah kau berpikir lebih dewasa. Jangan seperti anak kecil!!" Tian meninggalkan kamar, takut mulutnya tidak bisa terkendali lagi.
__ADS_1
Ressa masuk ke kamar mandi selepas Tian keluar kamar.
"Aku sudah berusaha menerima kenyataan kamu menikahi kakakku, Tian. Rasanya semakin sakit saat kau membandingkanku seperti ini."
Ressa memegangi perutnya, "memang sebaiknya kamu pergi, Nak. Agar tidak melihat air mata ibu ini. Berat buat ibu melalui kenyataan pahit ini."
Selesai mandi Ressa pergi ke dapur. Dia masih lapar, tadi hanya makan sedikit di rumah Aruna. Ressa teringat dengan Tian lalu mencarinya ke kamar satunya. Tapi tidak ada, mobilnya juga tidak ada di garasi.
Perempuan itu menyibukkan diri di dapur untuk menghindari pikirannya yang kalut. Ressa memang suka memasak untuk meluapkan segala sakit hatinya.
Sampai tengah malam Ressa berkutat di dapur dan mendengar suara mobil suaminya pulang. Ia tetap sibuk dengan adonan kukisnya, paling Tian juga masih marah padanya.
"Sayang, ngapain tengah malam masih bikin kue?" Tanya Tian kaget melihat istrinya sibuk memainkan adonan.
"Bikin kukis, Sayang. Mau coba, ada di toples yang sudah jadi." Jawab Ressa sambil tersenyum sudah lupa dengan segala beban hatinya.
"Kamu bikin buat apa sebanyak ini. Sudah, stop. Ini tengah malam, kamu istirahat."
"Ya, aku tunggu yang di oven matang dulu ya." Ucap Ressa melepas adonan di tangannya. Dia tidak mau membuat Tian marah-marah karena dibantah lagi. Ressa lelah bertengkar, dia memang harus bersikap dewasa dan meluapkan sakit hatinya dengan hal lain.
__ADS_1
"Mau coba dulu?" Tawar Ressa yang ditolak Tian.
"Enggak, aku sudah makan banyak di rumah Aru tadi."
Ressa mengangguk, "kamu tunggu di kamar. Aku selesaikan ini lima belas menit lagi." Ujar Ressa mengabaikan hatinya yang tersentil saat Tian menyebutkan nama Aruna.
"Setelah itu mandi, kamu keringatan." Ucap Tian.
"Siap Sayang," Ressa mengangkat tangan seperti hormat disertai seringaian.
Apa yang terjadi, kenapa Ressa berubah secepat itu dalam beberapa jam. Apa yang membuat mood Ressa kembali bahagia seperti lupa dengan pertengkaran tadi.
Tian memutuskan untuk mandi setelahnya dia memeriksa ponsel Ressa. Siapa tau Jeri yang menelpon dan membuat suasana hati istrinya itu berubah.
"Apa ada yang menelpon, Sayang?" Tanya Ressa mendekati Tian.
Tian menggeleng meletakkan ponsel Ressa kembali ke atas nakas.
"Maaf, aku selalu membuatmu emosi dan bersikap kekanak-kanakan, Sayang." Ressa membelai pipi Tian.
__ADS_1