Aksara Cinta

Aksara Cinta
202. Marah


__ADS_3

Dea melamun di meja makan sambil memegangi liontin yang di lehernya. Semua yang terjadi tadi malam itu seperti mimpi. Ia sangat bahagia bisa memeluk lelaki dewasa itu lagi.


"Itu hadiah dari siapa Sayang? Kenapa terus dipegang?" Tanya Tian yang mengawasi putrinya sedari tadi. Ia jadi penasaran, itu bukan liontin pemberiannya.


"Bukan dari siapa-siapa Daddy," katanya menggeleng pelan. Melepaskan tangan dari liontin itu.


"Siapa yang ngajarin Dea bohong!!" Ucap Tian tegas karena sangat yakin putrinya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sayang," Ressa menyentuh tangan Tian. Mengingatkan agar tidak terlalu keras pada Dea.


"Om yang ngasih," jawab Dea sambil menundukkan wajah takut karena terus ditatap sang daddy.


Tian mendesah berat, mereka kecolongan. Azmi sampai bisa menyelinap masuk. Rumah mereka memang sudah tidak dijaga ketat lagi. Karena Tian pikir Azmi tidak mungkin datang mencari Dea.


"Apa yang sudah kalian lakukan?" Tian sangat tau bagaimana agresifnya putri kecilnya ini saat bertemu Azmi.


Deandra menggeleng ketakutan, tidak berani bersuara.


"Jangan bohong sama Daddy, Dea!!" Tegas Tian dengan suara keras sekali lagi. Deandra memegangi leher dan bagian bawahnya.


"Praankkk!!"


Tian langsung melempar piring yang ada di tangannya ke lantai. Lalu pergi dari meja makan, ia sudah tidak nafsu untuk sarapan. Tian marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga sang putri dan menjadi ayah yang baik.


Deandra hanya menangis dalam diam, Rina memeluk cucunya membawa ke kamar. Sementara Ressa menyusul suaminya yang sedang kesetanan.


"Dea tau, apa yang Dea lakukan sama orang dewasa itu tidak pantas." Nasehat Rina lembut masih memeluk cucu kesayangannya.

__ADS_1


"Dea gak tau Om datang Nek, waktu Dea terbangun badan Dea sudah panas dingin gak bisa nolak." Ucap Dea polos sambil menahan tangis. Bukan dia yang meminta orang dewasa itu untuk datang.


"Itu namanya nafsu Sayang, makanya perempuan dan laki-laki yang belum menikah tidak boleh berdekatan. Karena bisa menghadirkan nafsu yang tidak terkendali," jelas Rina.


Deandra mengangguk saja, dia sedang tidak ingin mendengarkan apapun. "Dea pamit sekolah dulu Nek."


"Berangkat sama siapa Sayang?"


"Dea bisa naik ojek kok Nek," jawabnya sambil tersenyum mengambil tas. Ia tidak berniat berangkat ke sekolah, hanya ingin menenangkan diri ke taman.


Gadis remaja itu berjalan sambil menangis menggenggam kalung berliontin love di tangannya. Di dalam liontin itu ada foto Dea dan Azmi yang tertawa bahagia setelah berenang.


Ia memang salah karena masih bertemu dengan orang yang dibenci sang ayah.


"Kenapa kita harus ketemu ya Om, jadinya hubungan Dea sama Daddy begini. Daddy sangat marah sama Dea." Deandra menyeka air matanya duduk di kursi taman. Perutnya lapar karena belum sarapan, dan tadi pagi belum sempat di kasih uang saku sama buba-nya.


"Dea mau ikut Om aja, Dea takut sendirian. Pasti Daddy gak sayang lagi sama Dea," gumamnya menangis lagi.


"Mas, kamu membentak Dea. Yang pantas kamu salahkan laki-laki brengsek itu, bukan putri kita. Kamu membuatnya ketakutan."


"Dea itu anak usia dua belas tahun, dan dia sudah... Aaarrkkkhhh!!" Tian berteriak frustasi menarik rambutnya kasar.


"Kalau kamu membiarkan Dea sendirian dia akan semakin terjerat dengan rasa nyaman yang Azmi berikan. Dia akan menganggap kamu tidak menyayanginya." Ucap Ressa lembut, memeluk sang suami dari belakang dam memberikan usapan lembut di tangan untuk menenangkan.


"Aku benci dengan diriku sendiri! Aku benci karena tidak bisa menjadi ayah yang baik."


"Kamu sudah berusaha menjadi ayah yang baik Sayang. Selama ini kamu melakukan yang terbaik untuk Dea." Ressa memutar tubuhnya memeluk Tian dari depan.

__ADS_1


"Minta maaf sama Dea, Sayang. Dia pasti sedij karena kamu memarahinya." Perempuan itu mengusap lembut rahang tegas Tian sambil membujuknya.


"Aku akan membunuh Azmi kalau bertemu dengannya!" Gumam Tian.


Ressa menggeleng pelan, "aku gak mau Mas jadi pembunuh. Aku gak mau anakku memiliki ayah seorang pembunuh." Lirihnya sambil menangis. Ressa takut Tian benar-benar menjadi pembunuh.


Tian menarik napas panjang seraya memejamkan mata membalas pelukan Ressa.


"Terserah kamu mau apakan laki-laki itu, asal jangan membunuhnya Mas. Dea akan marah kalau Daddy-nya membunuh orang yang dicintainya," ucap Ressa pelan.


"Aku takut Dea kenapa-kenapa Sayang. Aku takut," lirih Tian sendu.


"Dea akan baik-baik saja kalau Daddy bisa memahami perasaannya. Masuk ke dalam hatinya sebagai pengobat rindu, bukan sebagai penentang cintanya."


"Apa aku bisa, sedang aku terlalu takut. Takut apa yang aku lakukan dulu berimbas pada Dea. Aku takut putriku dipermainkan laki-laki."


"Kamu bisa Sayang, aku akan selalu di sini untuk menemanimu menjaga anak-anak."


Tian mengangguk, mengajak Ressa mendatangi putrinya.


"Dea mana Bu?" Tanya Ressa pada ibunya yang baru keluar dari kamar Dea, di sana tidak ada putrinya.


"Berangkat sekolah, katanya mau naik ojek aja."


"Dia gak punya uang Bu, bagaimana mau naik ojek. Aku belum ngasih uang sakunya," ucap Ressa panik.


"Mungkin masih ada uang sisa kemaren, kamu gak perlu khawatir berlebihan, Nak."

__ADS_1


"Ibu, tadi malam ada yang masuk kamar Dea. Siapa yang menjamin sekarang orang itu tidak mengawasinya," rengek Ressa yang benar-benar khawatir pada putrinya itu.


"Kita susul Dea Sayang," Tian menenangkan istrinya. "Bu kami susul Dea dulu ya, ibu sarapan aja duluan." Pamit Tian, Rina mengangguk. Dia mengerti kenapa Tian tadi sangat marah.


__ADS_2