
Denis menjemput Aruna dan Dea di hotel. Ia akan membawa mereka ke rumah yang sudah Tian beli, hanya berbeda blok dari rumah Ressa. Di sana memang bukan komplek perumahan elit, jadi rumahnya tidak terlalu besar.
"Kok bukan Daddy yang jemput?" Tanya Dea pada Denis.
"Daddy sibuk Sayang, jadi Om yang bantu jemput." Denis mengusap kepala Dea lalu merangkulnya. Dua orang itu seperti ayah dan anak, Aruna tersenyum mengamatinya.
"Hei, kenapa melamun?" Denis menarik tangan Aruna yang ternyata belum bergerak keluar kamar. "Dea bisa ke mobil duluan, Sayang?" Pintanya sambil tersenyum.
"Iya Om."
"Tau jalan?" Tanya Denis lagi sambil menyipitkan mata.
"Of course, aku bisa membaca Om walaupun tidak tau arah." Katanya dengan riang, lagi-lagi Denis tersenyum. "Gadis pintar, jangan cepat dewasa Sayang. Aku tidak mau ada yang langsung meminangmu," goda Denis.
"Denis, Dea tinggalin Mommy sama Om mau ngomong dulu ya."
"Yes, Mom." Deandra berjalan dengan riang keluar kamar.
__ADS_1
"Mikirin apa, sih?" Denis mendekati Aruna mengusap di kepala. Mereka memang bersahabat saat kuliah dulu dan sangat dekat. Dia merupakan tempat Aruna mencurahkan segala keluh kesah. Saat kesalahan Aruna dan Tian terjadi, hubungannya juga ikut merenggang.
Aruna merentangkan tangan minta di peluk, "ternyata gak enak seperti ini, Denis. Aku kangen meluapkan segala sesak di dadaku ini sama kamu."
Denis mengusap punggung Aruna yang berada dalam pelukannya. "Gak ada yang nyuruh kamu menghilangkan. Jadi tanggung sendiri akibatnya," ucapnya setengah bercanda.
"Denis!" Aruna memukul dada Denis sambil cemberut.
"Kita cuma punya waktu sebentar, Dea pasti sudah menunggu di mobil. Sekarang mau cerita apa dulu."
"Ya sudah jatuh cintanya sama aku aja," lagi-lagi Denis menanggapinya dengan candaan.
"Katanya cuma punya waktu sebentar, dari tadi kamu ledekin aku terus. Senang lihat aku menderita."
"Kalau sakit jangan dipaksa, cari tempat berlabuh yang nyaman. Bukan cuma Dea yang perlu bahagia. Kamu juga perlu bahagia." Denis tersenyum pada perempuan yang selalu manja padanya ini. Walaupun mereka bertiga berteman dekat, sebenarnya Aruna lebih sering menempel padanya dibanding Tian.
"Kalau kamu tau dengan bertahan itu bisa menyakiti hati banyak orang untuk apa. Kamu, Ressa, Tian bahkan Dea juga bisa saja tersakiti karena hubungan kalian ini."
__ADS_1
"Sekarang aku harus apa?" Tanya Aruna sambil memonyongkan bibirnya.
"Kebiasaan," Denis mencubit bibir Aruna. "Untung yang ada di sini itu aku, kalau laki-laki lain kamu bisa sudah habis di sikat."
"Emang pernah lihat aku begini kalau gak sama kamu?"
"Heh, jangan mentang-mentang aku ini sahabat kamu, jadi bisa seenak jidat ya. Kamu ini sudah jadi istri Tian. Kalau ada yang melihat tingkahmu begini padaku mereka pasti salah paham." Denis menjitak pelan kening Aruna.
"Iisshh, sakit." Rengek Aruna sengaja dimanja-manjakan. "Aku minta solusi malah diomeli terus dari tadi."
"Tanya hatimu maunya bagaimana, cuma kamu yang bisa memutuskan semua ini. Percuma saran dari aku, itu tidak akan berpengaruh."
"Jahat!"
"Sudah-sudah jangan kebanyakan drama, Dea sudah menunggu di mobil." Denis melepaskan pelukannya dengan pelan. Tidak taukah Aruna pusakanya sudah bangkit dari kubur dengan jarak sedekat tadi. Tapi apa mau dikata, perempuan itu memang selalu manja padanya.
"Terimakasih Denis. Huuh, sudah lebih lega." Teriak Aruna tidak terlalu nyaring. Denis hanya menanggapi dengan geleng-geleng kepala.
__ADS_1