Aksara Cinta

Aksara Cinta
60. Hal Terindah


__ADS_3

Setelah sang ibu pulang Ressa duduk melamun di pinggiran tempat tidur sambil memainkan jemarinya. Ibu sudah tau dengan kehamilannya. Hatinya terkoyak, bukan karena menanggung malu dari anak yang dia kandung, tapi karena sang ibu.


Anak mana yang akan kuat mendengar setiap perkataan pedas dari mulut ibu kandungnya sendiri. Itu sangat menyakitkan.


Tian mengirimkan pesan pada Denis, kalau pagi ini dia tidak bisa ke kantor. Jika kondisi sudah memungkinkan baru ia berangkat kerja.


"Honey!" Tian menepuk lembut bahu Ressa lalu membawanya dalam pelukan. "Semua ini karena aku, maaf sudah membuatmu jadi sehancur ini."


Andai ia tidak menuruti kemauan Ressa malam itu, pasti ini semua tidak akan terjadi. Ressa tidak akan sampai dibenci ibunya sendiri.


"Ini bukan salah kamu, Tian." Ressa melingkarkan tangannya di pinggang sang suami, "mungkin kamu pikir ibu marah karena aku hamil dan nikah sama kamu. Bukan, ini bukan salah kamu. Jangan khawatir, aku akan kuat melalui semua ini." Ucapnya sambil tersenyum, walau ada air mata yang terjatuh di pipi.


Tian segera menyeka butiran bening yang sangat berharga itu. Sangat berharga, sampai ia tidak akan membiarkan air itu terjatuh lagi dari mata sang istri.


"Aku gak suka ada orang yang membuat kamu menangis, Sayang. Mungkin hari ini aku bisa tenang saat melihat ibu menyakitimu. Tapi lain kali aku tidak tau."


Tian mengecup puncak kepala Ressa. Menyalurkan perasaannya, kalau dia sangat menyayangi perempuannya ini.


"Jangan terlalu emosional, bukannya kita mau belajar jadi orang baik. Orang baik itu harus penyabar kan?" Tanya Ressa seperti anak kecil. "Siap-siap ke kantor, aku sudah gak papa kok."

__ADS_1


Tian tersenyum lalu menggeleng, "nempel nih gak bisa jauh-jauh dari kamu. Lemnya lengket banget, maunya bawa kamu kemana-mana. Aku mau bikin kantong doraemon biar bisa sama kamu setiap saat."


"Kamu bisa gak sih, jangan bikin aku jadi klepek-klepek kayak cabe-cabean." Ujar Ressa malu-malu.


"Kamu cabe rawit, bukan cabe-cabean Honey." Tian tertawa kecil menangkup pipi Ressa dan menyatukan kening mereka. "Hal terindah yang pernah aku miliki adalah saat bersamamu. Aku berharap Tuhan memberikan kesempatan bisa selalu bersamamu sampai kita menua bersama. Satu hal janjiku, jika kamu terluka bersamaku maka aku akan sebisa mungkin menjadi penawarnya sekaligus. Aku tidak ingin melepaskanmu pada siapapun. Biarkan Ardiya Tiandra ini tetap menjadi lelaki yang egois demi memilikimu."


"Apa bercinta dengan penakluk wanita akan selalu mendapatkan kalimat manis seperti ini, hm." Ressa tersenyum menanggapi ucapan sang suami.


"No Honey, kalimat ini baru aku ungkapkan untukmu. Hargai dong perjuanganku merangkai kata." Tian menggigit gemas hidung Ressa, lagi serius tapi dibuat istrinya bercanda. "Kamu membuatku kehilangan kata-kata pamungkas," lanjutnya.


"Aku pikir cuma ini yang pamungkas," Ressa terkekeh geli menoel milik suaminya. Dia tipe orang yang tidak terlalu suka memikirkan masalah terlalu lama. Selalu mengubah sedihnya menjadi ceria. Walau sebenarnya hanya kepura-puraan.


"Enggak takut, wee." Ressa menjulurkan lidah mengejek Tian.


"Aku gak salah pilih istri berarti, aku suka yang pemberani. Apalagi di atas ranjang, hm." Goda Tian nakal.


"Tian ih mesum terus. Mau aku potong belalainya."


"Jangan, ini aset yang bisa muasin kamu, Sayang. Nanti kalau gak ada kamu nyari laki-laki lain. Aku gak mau." Ujar Tian memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Kan gak cuma kamu yang mau coba sana sini. Aku mau coba juga dong." Ressa menggoda Tian balik, dengan wajah dipasang semanis mungkin.


"Sayang, jangan ngomong gitu. Aku beneran gak rela kamu disentuh laki-laki lain." Ucap Tian sayu, "cuma laki-laki yang boleh punya istri empat." Lanjutnya dengan wajah tengil, sontak Ressa membulatkan mata.


"Jangan harap kamu bisa punya istri empat, Tian. Aku ikat sekarang nih!" Ancam Ressa yang membuat Tian tergelak.


"Aku rela diikat sama kamu Honey, sekalian jangan dilepas ya dari guanya." Goda Tian semakin menjadi-jadi. Ressa mengeluarkan tangan kepitingnya yang langsung mengubah ekspresi tawa Tian jadi mengaduh kesakitan. Pasalnya perut Tian yang jadi sasaran, mending kalau cuma dicubit. Ini ada plus-plusnya, cubit plus dipelintir lama.


"Honey, ampun! Please dielus aja," mohon Tian sambil memelas.


"Rasakan suami mesum!" Pekik Ressa tertawa jahat.


Tian dengan malas pergi ke kantor karena paksaan Ressa. Padahal dia masih ingin menemani istrinya itu, walau terlihat baik-baik saja Tian tau selama ini Ressa menyimpan segala lukanya sendirian.


Ia tidak akan membiarkan Ressa dihina ibu kandungnya sendiri. Tian akan membuat ibu mertuanya itu menyesal suatu saat nanti karena telah menyia-nyiakan Ressa.


...💥💥💥...


Hai baca juga cerita aku yang lain ya, semoga suka. Semua sudah tamat. Jangan lupa like, komen dan votenya. Terimakasih sudah mampir 😊

__ADS_1



__ADS_2