
Tian mengamati foto hasil USG yang ada di hadapannya lalu tersenyum.
"Selamat, sebentar lagi anda akan menimang cucu." Ujar Tian tenang, "apa hanya untuk ini anda ke sini?" Lelaki itu mendorong foto ke depannya.
Pria paruh baya yang duduk di hadapan Tian itu mengepalkan tangan. Wajahnya sudah memerah karena menahan marah.
"Apa kamu tidak merasa sudah melakukan sesuatu anak muda? Apa sudah lupa dengan darah dagingmu? Setelah puas kamu ingin mencampakkan?" Sindir ayah Audrey. "Jangan karena kamu berkuasa jadi bisa melakukan apapun seenaknya."
"Saya tidak akan lupa dengan darah daging saya sendiri, apalagi sengaja melenyapkannya." Jawab Tian tersenyum miring pada Audrey.
"Saya mau kamu bertanggung jawab atas janin yang Audrey kandung!" Tukas lelaki itu.
"Saya tidak akan bertanggung jawab atas hal yang tidak saya perbuat." Tian lagi-lagi tersenyum, "mungkin anda salah orang. Atau putri anda yang salah menginformasikan tentang teman tidurnya."
"Audrey, katakan apa benar dia yang melakukannya?" Tanya sang ayah dengan kilat amarah yang siap membakar Audrey.
Audrey mengangguk, "iya Ayah. Dia mengancamku dengan foto ini." Perempuan itu menunjukkan foto panasnya bersama Tian yang masih tersimpan di ponsel.
__ADS_1
"Sekarang kamu mau mengelak apalagi, hah?" Ayah Audrey murka melihat putrinya di gagahi seperti itu.
"Mungkin anda bisa tanya itu foto kapan?" Tian tersenyum menunjukkan kalau foto itu diambil empat bulan yang lalu.
"Saya sudah menikah dan sudah lebih dari tiga bulan saya tidak menyentuh Audrey bagaimana dia bisa hamil darah daging saya?" Suami Ressa itu mengangkat sebelah alisnya seraya menerbitkan senyuman miring.
"Di sini Audrey baru hamil tiga minggu, mungkin ada lelaki lain yang menyentuhnya selain saya." Lanjut Tian menunjuk foto USG yang ada di depan ayah Audrey.
"Kamu tetap harus bertanggung jawab!!" Putus ayah Audrey, kadung sudah malu.
"Saya sudah membayarnya, apa masih perlu pertanggung jawaban?" Tian mengeluarkan bukti uang yang dia keluarkan untuk jatah bulanan Audrey, nilainya ratusan juta.
"Dia bohong Ayah, dia bisa saja merekayasa semua bukti-bukti itu. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau." Jawab Audrey dengan mata berkaca-kaca untuk melengkapi sandiwaranya.
"Sial, dia ingin bermain-main denganku." Gerutu Tian dalam hati.
"Audrey benar, bisa saja kamu sudah menyiapkan semuanya agar bisa lepas dari tanggung jawab dan malah balik memfitnah putriku."
__ADS_1
"Anda terlalu mudah dibohongi darah daging anda sendiri Pak Tua." Tian tersenyum miring, "untuk apa saya masih meniduri perempuan lain kalau saya sudah memiliki istri."
"Jangan berbelit-belit anak muda. Kamu tetap harus bertanggung jawab pada putriku karena sudah menyentuhnya!"
"Apa perempuan yang menjual dirinya untuk kepuasan pantas mendapatkan pertanggung jawaban. Sedang mereka sudah mendapatkan imbalan?" Tanya Tian tegas dengan sorot mata tajam.
Audrey mendongakkan wajah, "cukup menyudutkanku Tian!" Teriaknya lantang.
"Apa kamu merasa tersudutkan Audrey, aku sudah peringatkan jangan pernah mengganggu hidupku lagi!" Ucap Tian dingin dengan tatapan yang bisa membunuh lawan bicaranya.
"Sayang, kenapa ada suara perempuan?" Ressa membuka pintu kamar menampakkan wajah cemberutnya langsung mendekati Tian. Ia duduk di pangkuan sang suami tanpa mempedulikan tamu yang ada di sana.
"Sudah bangun Honey," Tian mengecup pipi Ressa dengan mesra. "Maaf, istriku memang sangat manja dan possesif. Jangankan keluar untuk menemui Audrey. Keluar meninggalkan kamarpun dia tidak akan mengijinkan kalau sudah malam. Jadi bagaimana caranya aku menanamkan benih ke dalam rahim Audrey."
"Kamu punya anak dari perempuan lain, Tian?" Tanya Ressa dengan nada suara yang tidak mengenakkan.
"No Honey. Kamu percaya akukan?"
__ADS_1
"Jelas aku percaya kamu, Sayang. Setelah menikah kamu tidak pernah lepas dari pandangan mataku. Jadi bagaimana caranya pembuahan itu bisa terjadi kalau spe*rma milikmu tidak masuk ke dalam rahimnya. Apa kamu mengirimnya lewat wa atau ojek online, Sayang. Cepat katakan?" Desak Ressa.
"Hei Sayang, mana bisa seperti itu. Jangan jelaskan terlalu rinci, itu bukan anakku. Anakku cuma ada di sini." Tian menahan tawanya, mengusap perut Ressa dengan lembut.