Aksara Cinta

Aksara Cinta
23. Berakhir


__ADS_3

Sepulang dari rumah Erfan, Tian mendatangi apartemen Audrey. Dia sudah berjanji mengunjungi perempuan itu.


"Kangen," Audrey merentangkan tangan minta di peluk. Tian menurut, memberikan kecupan di kening. Dia menyayangi Audrey yang manja ini.


"Kangen apa, hm?" Tian menautkan keningnya dengan kening Audrey. Sungguh aneh, dia tidak merasakan bergairah walau tubuh mereka menempel, tidak seperti biasanya. Dalam kepalanya hanya muncul bayangan Ressa saat berada dalam kungkungannya.


"Kenapa gak dilanjutin?" Tanya Audrey kecewa, dia sudah butuh disentuh. Tapi Tian tidak memberikan sentuhan apapun yang bisa membuatnya melayang.


Tian hanya tersenyum, membawa Audrey duduk di sofa. "Aku mau ngomong serius," katanya.


"Apaan?" Audrey duduk sambil memeluk lengan Tian manja, menyandarkan kepala pada bahu lelaki itu.


"Aku mau nikah, gak bisa terus sama kamu." Ucap Tian to the point.


Audrey memiringkan kepala Tian agar menatap ke arahnya, "maksudnya kamu mau ninggalin aku?"

__ADS_1


"Iya," Tian mengangguk mantap.


"Kenapa kamu tega Tian, siapa perempuan itu?" Ucap Audrey dengan mata berkaca-kaca. Jadi ini maksud ucapan Tian tadi siang yang berharap dia melupakan lelaki itu.


"Aku sayang sama kamu, tapi aku gak bisa terus sama kamu. Maafin aku." Jujur, Tian tidak tega melihat Audrey seperti ini. "Cari laki-laki yang gak brengsek seperti aku."


"Silahkan kamu nikah tapi jangan tinggalin aku, Tian." Mohon Audrey, dia sangat menyayangi Tian. Tidak rela jika lelakinya ini lebih memilih perempuan lain.


"Aku gak bisa, saat aku memutuskan untuk menikah. Aku gak akan main perempuan lagi, itu sudah janji aku."


"Maaf, aku gak bisa sama kamu. Kamu sempurna, tapi hati aku bukan buat kamu." Lirih Tian, menarik Audrey dalam pelukannya. Sungguh dia laki-laki yang sangat kejam.


"Kamu nyakitin aku, Tian. Kamu tega. Kamu jahat." Tangis Audrey pecah, hatinya sangat sakit. Setelah puas dengan tubuhnya, Tian mencampakkannya dengan tega.


"Maafin aku yang pecundang ini. Kamu pantas bahagia Audrey." Tian menyeka air mata yang mengalir deras di pipi Audrey.

__ADS_1


"Maafin aku," berkali-kali Tian menggumamkan kata maaf. Ia tau, itu semua tidak akan bisa mengobati hati Audrey yang hancur.


"Aku cuma mau sama kamu, jangan tinggalin aku." Audrey semakin menguatkan pelukannya seakan tidak ingin berpisah walau sedetikpun.


"Maaf aku gak bisa, Audrey."


"Jangan tinggalin aku Tian, jangan." Gumam Audrey di tengah tangisnya.


"Dari awal aku sudah bilangkan, gak bisa kasih hati aku buat kamu. Maafin aku. Jangan cari aku lagi." Tian mengecup puncak kepala Audrey lama kemudian mengurai pelukan.


Ia pergi meninggalkan perempuan yang masih berurai air mata itu. Walau tidak tega, tapi Tian harus mengambil keputusan.


"Kamu jahat Tian! Kenapa kamu campakkan aku begini. Aku salah apa?" Raung Audrey. Matanya sudah membengkak karena terlalu lama menangis. Bodohnya dia menangisi lelaki yang sudah membuangnya tanpa rasa kasihan.


Dalam mobil Tian memukul-mukul setir. Sungguh dia sangat jahat, sudah menghancurkan hati Audrey. Kenapa dia harus menggunakan perasaan saat berhubungan dengan perempuan itu. Selama ini dia tidak pernah menggunakan perasaan pada lawan mainnya, yang berakibat Audrey semakin terjerat dalam pesonanya.

__ADS_1


Hah, kenapa harus memikirkan Audrey, dia membayar perempuan itu dengan memberikan uang bulanan secara rutin. Bukan tanggung jawabnya kalau Audrey patah hati.


__ADS_2