Aksara Cinta

Aksara Cinta
156. Cemburunya Dea


__ADS_3

Denis membawa Aruna ke kamar setelah bisa menjinakman Dea, memberikannya sedikit pengertian.


"Aku lelah," keluh Denis manja berbaring di pangkuan Aruna.


"Tidurlah sebentar, tadi malam kamu tidur subuhkan." Aruna menyisiri rambut Denis dengan jemarinya, "terimakasih sudah menyayangi Dea."


Lelaki itu memiringkan tubuh, melingkarkan tangannya di pinggang Aruna. "Kita jadi menikah kan? Kalau iya, berarti dia juga putriku. Jangan berterimakasih, sudah seharusnya aku menyayanginya Sayang."


Aruna tersenyum, mengecup kepala Denis dari samping. Dia sangat beruntung ada Denis yang mau menerima segala kekurangan dan masalalunya.


"Jangan memancingku Aru, walau lelah aku masih bisa memakanmu." Ucap Denis dengan mata terpejam.


"Benarkah, aku belum pernah tau rasanya dimakan Daddy Denis." Pancing Aruna dengan sengaja.


"Aku masih waras Aru, takkan terpancing dengan rayuanmu itu. Aku tidur sebentar."


"Tidur yang benar, Sayang. Kakiku pegal nanti." Aruna mengangkat kepala Denis memindahkannya ke bantal.


Denis menatap Aruna dengan mata berbinar. "Coba ulang sekali lagi, kamu memanggilku dengan sebutan apa tadi?" Tanyanya semangat.


"Sayang, Daddy Denis." Jawab Aruna pelan langsung memalingkan kepalanya.


"Hei masih malu-malu," Denis bangun memeluk Aruna, "aku bahkan sudah tau semuanya. Kamu malu-malu gini membuatku semakin tergoda." Ujarnya seraya memberikan hadiah kecupan di pipi.

__ADS_1


"Ayo tidur!" Aruna mendorong tubuh Denis secara paksa, dia malu kalau Denis mengulang-ulang kalimat itu lagi.


"Peluk," pinta Denis manja. Aruna menurut berbaring di samping lelaki itu.


Denis menyampirkan rambut Aruna ke belakang telinga lalu berbisik. "Aku harus menunggu belasan tahun sampai akhirnya takdir memberikanmu padaku. Dan itupun belum sepenuhnya, aku tau di sini masih ada Tian." Katanya meletakkan telapak tangan di dada Aruna sambil memejamkan mata.


"Aku mencintaimu Aruna, sejak dulu. Sejak Dea belum terlahir ke dunia ini." Lanjutnya menarik Aruna dalam pelukan.


Yah, Aruna memang tau Denis mencintainya. Itulah kenapa dia memilih Denis untuk membebaskannya dari perasaan yang salah ini.


"Aku sedang belajar mencintaimu, Denis."


Denis mengangguk kecil, "terimakasih sudah berusaha keras Sayang. Aku akan membantu membuatmu jatuh cinta padaku." Katanya setelah itu berlabuh ke alam mimpi.


Putrinya itu sedang dalam mood yang tidak baik setelah dia bercerai dengan Tian. Walau mau menerima dan bersikap baik pada Ressa tapi kadang suka mengeluh sang daddy lebih menyayangi Ressa.


"Daddy Denis pulang?" Tanya Dea yang sedang memasukkan pakaiannya ke lemari lagi.


"Daddy tidur kelelahan bantu Daddy Tian nyari Buba tadi malam." Sahut Aruna seraya membantu putrinya.


"Aku kadang terpikir Daddy Denis lah yang ayah kandungku. Daddy Tian sangat jarang menemaniku, apalagi sampai tertidur."


Aruna menoleh pada sang putri, melepaskan pakaian yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Sayang, tidak baik bicara seperti itu. Wajarkan karena daddy tidak tinggal satu rumah denganmu. Kalau kamu mau ditemani daddy sampai tidur, Dea bisa menginap di rumah daddy. Daddy Tian gak bisa tidur di sini karena mommy bukan istrinya lagi," jelas Aruna lembut.


"Saat mommy jadi istri daddy juga gak pernah tidur di sini," Deandra menjawab sewot.


"Apa Dea cemburu sama Buba? Daddy dan Buba baru menikah Sayang, tiba-tiba Mommy dan kamu hadir. Semua itu pasti sangat berat buat Buba. Makanya daddy kasih perhatian lebih pada Buba." Aruna menarik Deandra dalam dekapannya.


"Buba bisa saja egois tidak memberikan daddy buat kamu. Tapi buba gak ngelakuin itukan, mereka sayang sama kamu. Bisakah Dea mengalah sama buba, jangan cemburu kalau daddy memberikan waktu lebih buat buba pulih dari luka di hati dan fisiknya."


"Bisakah Dea bersimpati pada buba, saat itu buba sedang hamil tapi malah diceraikan dan Daddy menikah dengan Mommy demi kamu. Itu sangat menyakitkan Sayang."


"Kenapa Mommy selalu meminta aku yang memengerti buba!! Tidak bisakah mereka yang mengerti denganku!" Seru Dea.


"Mommy harus bagaimana Sayang, katakan Mommy harus bagaimana?" Ucap Aruna menangis di hadapan Dea. Dia juga lelah dengan takdir yang seperti ini.


"Dea lihatkan kondisi buba sekarang? Kenapa Dea seperti ingin memaksa Mommy melakukan hal yang tidak bisa Mommy lakukan."


Dea mematung di hadapan mommy-nya yang menangis. Baru ini Dea melihat mommy menangis tanpa berpura-pura kuat di hadapannya.


"Maafin Dea Mom," gadis itu menggeleng pelan. "Dea gak maksa Mommy kembali sama Daddy Tian. Semua terlalu cepat sampai Dea bingung."


Aruna mengecup kening putrinya, "Mommy bukan membela buba Sayang. Tapi buba juga merasakan sakitnya ini, sama seperti yang Dea rasakan."


Dea mengangguk mengerti, diusianya yang sekarang dia dituntut untuk mengerti perasaan orang dewasa.

__ADS_1


__ADS_2