
"Pagi Sayang," sapa Jeri pada Audrey seperti biasanya saat bangun tidur.
"Hooaam, kok kamu di sini?" Tanya Audrey sambil menutup mulut. Ia harus hati-hati, jangan sampai Jeri tau kalau Ressa menjadi tawanannya.
"Aku sudah bilangkan pasti datang," Jeri memeluk Audrey erat.
"Kan aku juga sudah bilang kamu gak perlu datang," sahut Audrey cemberut.
"Ya sudah, kalau diusir aku pulang sekarang deh." Ujar Jeri mengecup kening Audrey, tapi tidak melepaskan pelukannya.
Ia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi gerak-gerik Audrey. Biarkan saja perempuan itu terkejut karena Ressa hilang di kamar.
"Baiklah," sahut Audrey dengan tersenyum manis, mencubit hidung Jeri.
"Kamu istirahat, jangan banyak tingkah." Jeri mengayun-ayunkan tangan Audrey dengan manja lalu mengecupnya.
"Aku pulang ya, mau bantu Tian nyari Ressa, katanya kemaren siang diculik." Pamit Jeri, sekalian memancing reaksi Audrey.
"Hilang dari kemaren masih belum ketemu?" Tanya Audrey khawatir, padahal dalam hatinya tertawa sangat bahagia.
__ADS_1
"Belum, gak ada jejak yang tertinggal. Sepertinya penculik itu sangat profesional. Aku jadi ingin belajar darinya cara menculik Ressa nanti," puji Jeri pada si penculik.
"Hei, kau ingin menculik istri orang!" Pekik Audrey geram menjewer telinga Jeri.
"Tentu saja, sekalian kamu mau kuculik juga." Gurau Jeri sambil meringis. Setelah Audrey melepaskan tangan dari telinganya, ia mencubit gemas pipi Audrey.
Melihat pipi Audrey, Jeri jadi ingat pipi Ressa yang dipenuhi darah tadi malam. Tapi dia harus sabar mengikuti permainan perempuan di depannya ini.
"No... no... no, pulang sana, pulang!" Usir Audrey sambil tertawa mendorong tubuh Jeri agar pelukannya terlepas.
Setelah Jeri pulang Audrey mencari tawanannya. Ia membuka pintu denga pelan, tidak mungkin Ressa masih pingsan kan.
Audrey berteriak histeris melihat tempat tidur itu kosong. Hanya ada seprai yang bernodakan darah Ressa. Siapa yang membawa Ressa pergi dari apartemennya. Tidak mungkin Jeri kan? Jeri tidur dengannya sampai pagi. Jadi siapa yang menyelamatkan Ressa, gumamnya berpikir keras.
Agam sedang mengamati puing-puing sisa rumahnya yang terbakar.
"Aku tidak akan melepaskan Ressa, Tian. Akan kubuat kau menangis darah karena sudah membuatku rugi besar." Sarkas Agam pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang tersisa, semua hangus terbakar. Juga tidak ada bukti yang bisa membuat Tian mendekam di penjara. Hanya Ressa satu-satunya senjata untuknya balas dendam.
__ADS_1
Ia akan kembali ke apartemen Audrey, saatnya melakukan pembalasan. Lelaki itu menyeringai devil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Agam memencet bel apartemen Audrey, perempuan itu membuka pintu dengan lesu.
"Lo kenapa lemas, puasa?" Tanya Agam sambil tertawa. Kalau Ressa ada di tangannya ia bisa menguras harta Tian sebagai ganti rumahnya yang dilalap api.
"Ressa hilang," sebut Audrey. Agam membelalakkan mata, berlari ke kamar Ressa. Tempat itu kosong hanya ada noda merah yang menempel di bantal. "Ini darah apa, Audrey? Kau melukai Ressa."
Kalau benar Audrey melukai Ressa itu berarti di area wajah. Astaga apa yang perempuan ini pikirkan.
"Jawab Audrey, ini darah apa dan dimana Ressa? Jangan menyembunyikan Ressa." Ulang Agam, dia jadi sanksi kalau Ressa menghilang. Bisa jadi ini hanya akal-akalan Audrey.
"Ressa beneran hilang, itu darahnya. Aku membuat goresan di pipinya." Jawab Audrey sambil tersenyum bangga, "pasti mudah menemukannya nanti. Karena ada tandanya."
"Kau gila Audrey!!" Teriak Agam marah, "kenapa melukainya." Lelaki itu membanting pintu apartemen Audrey dengan keras, pergi dari sana.
Pupus sudah semuanya, siapa yang menyelamatkan Ressa. Agam mendatangi bagian keamanan, dia ingin melihat rekaman cctv.
Nyawanya bisa melayang kalau sampai Tian yang menemukan Ressa lebih dulu. Setelah melobi pada pihak keamanan, Agam diijinkan melihat akses cctv di apartemen itu.
__ADS_1
Matanya membulat sempurna melihat Tian yang menggendong Ressa. Wajah perempuan itu di penuhi darah.
"Astaga, sedalam apa Audrey melukai Ressa." Tidak mungkin dia mencari Ressa ke rumah sakit sekarang. Pasti Tian tidak akan melepaskannya, semua gara-gara Audrey rencananya jadi berantakan.