Aksara Cinta

Aksara Cinta
174. Singa Betina


__ADS_3

Tian menyelimuti istrinya yang sudah tertidur karena kelelahan setelah melewati malam panjang.


"Semenjak bersamaku hidupmu semakin berat, semoga kamu tetap kuat mendampingiku Sayang." Gumam Tian seraya menyentuh pelan luka di pipi Ressa.


Ia sudah berkonsultasi dengan dokter kecantikan perihal laser treatment untuk Ressa. Itu cara yang paling aman dan efektif untuk menyamarkan bekas luka. Hanya waktunya saja yang belum tepat, Ressa masih dalam suasana berduka.


Mulai sekarang dia akan benar-benar berfokus pada Ressa dulu. Pekerjaan bisa ia delegasikan terkecuali memang ada hal yang sangat penting.


Adley grup masih Jeri mengelolanya. Untuk sekarang dia belum bisa menangani tiga perusahaan sekaligus. Walau di Extnet Erfan yang memegang kendali, tetap saja ia kadang ikut turun tangan.


"Hidupku bukan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah lagi. Tapi untuk membahagiakan kamu." Tian tersenyum, mengesun gemas pipi Ressa. Ingin dia menggigit luka itu, andai saja itu tidak membuat Ressa kesakitan.


Suami Ressa itu terjaga lebih dulu menyiapkan sarapan. Mulai hari ini ia akan memperlakukan istrinya itu layaknya seorang ratu dan dialah rajanya. Takkan ia mau jadi pelayan, Tian terkekeh sendiri karena pemikirannya itu.


Selepas menyiapkan sarapan Tian kembali ke kamar membangunkan Ressa.


"Sayang," panggilnya lembut mengusap-usap di pipi. Ressa tidur semakin pulas kalau Tian membangunkannya pakai elusan.


"Honey," bisik Tian kemudian mengulum gemas daun telinga Ressa. Perempuan itu malah melenguh, membangunkan milik Tian yang ada dibawah sana.

__ADS_1


Energi listriknya sangat kuat, membuat Tian langsung tersengat.


"Shiitt, sudah mandi!" Gumamnya yang mulai terpancing gairah. Istrinya ini nakal sekali, tidur saja bisa membuat orang tergoda.


Otaknya memiliki ide cemerlang mengangkat Ressa ke kamar mandi. Membaringkannya pelan dalam bathtub seraya mengisi air. Saat terkena air tubuh itu menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Tian tertawa geli, walau miliknya juga ikut menggeliat nakal.


"Baanjiiirrr... banjiiiiirrr!!" pekik Ressa yang perlahan membuka mata. Kerjapan pertama di sambut senyuman manis Tian. Suaminya itu duduk di sisi bathtub sambil memainkan air ke wajahnya. Ressa memejamkan mata kemudian membuka kembali. Ia seperti berada dalam alam mimpi.


"Saayaang banjir, tolongin aku tenggelam!!" Teriak Ressa saat air di bathtub mulai penuh.


"Gak ada banjir Sayang, kamu lagi aku rendam di bathtub biar perutnya bisa kembung." Ucap Tian asal, subuh ini dia sangat terhibur mengerjai istri sendiri.


Ressa mengucek-ngucek mata dan membukanya dengan sempurna.


"Cepat mandi Sayang, nanti kamu kedinginan." Ujar Tian yang mulai mendapat peringatan alarm bahaya pada kejantanannya.


Ressa menyeringai dalam hati, "tidak semudah itu kamu mengerjaiku fergusu!" Desisnya.


"Sekarang jam berapa?" Tanya Ressa lugu. "Kamu memandikanku tengah malam, Sayang."

__ADS_1


"Ini sudah subuh Honey, makanya cepat mandi!" Titah Tian lalu beranjak dari sisi bathtub, tapi Ressa tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Subuh?" Tanya Ressa seperti orang bangun tidur yang linglung.


"Iya Sayang, ini sudah subuh sebentar lagi Azan." Beritahu Tian sekali lagi.


Ressa mengangguk paham tapi tangannya menarik Tian sampai terjatuh dalam bathtub. Bibirnya tersenyum tipis kala sang suami ikut basah, "tidak semudah itu kamu mengerjaiku Sayang." Ucapnya sensual seraya meraba setiap sudut wajah sang suami sampai turun ke leher. Kemudian turun ke dada bidang Tian lalu menyingkap kaos yang suaminya itu pakai.


Tian menegang di tempat, tubuhnya panas dingin karena sengatan listrik Ressa. Beberapa detik kemudian ia tersadar dan mengumpat dalam hati karena terjebak permainan Ressa.


"Sayang, ayo aku mandiin." Tian mengalihkan perhatian Ressa, menyingkirkan tangan nakal itu.


"Of course Honey, kamu yang harus mandiin aku. Karena kamu yang sudah membuatku banjir dalam sini." Sarkas Ressa yang sebenarnya geram dengan suaminya ini, lihat saja pembalasnnya. Ia akan membuat Tian tersiksa dan tidak berdaya menolaknya.


"Sebentak aku ambil handuk dulu," Tian mencari kesempatan untuk melarikan diri dari singa betinanya itu.


"Kamu juga mandi Sayang, kamu suka mandi berduakan bareng aku?" Goda Ressa manja.


"Sayang, kita mau sholat." Tian sebenarnya tidak sanggup menolak, tapi kalau dia menurut bisa sampai siang tidak keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Tapi sekarang aku mau mandi sama kamu," rengek Ressa manja meraba-raba dada sang suami kembali. Tian hanya bisa mengangguk pasrah, miliknya juga sudah ingin terbang bebas.


Ressa tertawa puas, karena tidak hanya dia yang basah sekarang. Dia akan menghukum suami usilnya ini.


__ADS_2