Aksara Cinta

Aksara Cinta
64. Pertemuan


__ADS_3

"Gimana, sudah tau dimana keberadaan ayah Dea?" Tanya Ressa pada saudara tirinya, Aruna. Anak sang ayah dengan almarhum istri pertama sebelum menikah dengan ibunya. Mereka bertemu di apartemen Aruna, umur mereka hanya berjarak tiga tahun.


"Sudah, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menemuinya. Semoga dia mau bertemu dengan putrinya."


"Tante, kapan datang?" Sapa Deandra, gadis yang sedang beranjak remaja itu memeluk dan menciumi Ressa. Mereka lama tidak bertemu karena Aruna tinggal di Sydney. Sehari-hari di rumah ibunya mengajarkan bahas Indonesia, jadi dia tidak canggung mengucapkannya.


"Barusan, kamu makin besar dan cantik. Pasti Daddy-mu senang bertemu denganmu."


"Benarkah, semoga Daddy mau menerimaku jadi anaknya." Harap gadis berusia dua belas tahun itu. Sejak lahir dia tidak tau siapa ayahnya, Aruna selalu menceritakan tentang ayah hal-hal yang baik. Tidak ada kebencian yang tumbuh di hatinya, hanya rindu ingin bertemu dan memeluk sang ayah.


Andai ayah sudah menikah dia akan menerimanya. Dianggap sebagai anak saja sudah cukup baginya. Tapi ibunya bilang, ayahnya belum menikah, jadi dia memiliki kesempatan untuk menyatukan orang tuanya.


"Pasti Sayang," Ressa memeluk keponakannya dengan bangga. Ia tidak bisa menyalahkan ayah Dea, karena Aruna lah yang memilih pergi ketika laki-laki itu ingin bertanggung jawab.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin menjenguk ayah dan ibu Ru?" Tanya Ressa.


"Setelah aku bertemu ayah Dea baru aku menjenguk mereka."


Ressa mengangguk setuju, "setelah bertemu Daddy kamu mau lanjut sekolah di sini apa kembali ke Sydney?" Ressa menatap bola mata ceria keponakannya.


"Aku mau tinggal sama Daddy kalau dia mau, Tante." Jawab Dea dengan berbinar-binar.


"Semoga daddy-mu masih mau bertanggung jawab, Sayang. Kalaupun tidak, kamu punya kami di sini. Jangan sedih," hibur Ressa. "Kalau kamu Ru, pulang ke Sydney?"


"Mommy gak mau nikah sama daddy. Bukannya Mommy bilang, aku hanya mewarisi darah daddy, kalau mommy tidak menikah dengannya aku bukan mahramnya."


"Itu benar Sayang, tapi Mommy gak bisa maksa kan? Kalau Daddy sudah punya istri atau kekasih gimana? Mommy gak mau merebut kebahagiaan perempuan lain." Jelas Aruna lembut, Deandra mengangguk mengerti.

__ADS_1


Ressa tersenyum simpul mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Aruna mendidik Deandra dengan sangat baik, sampai anak itu sangat bijak dan dewasa diumurnya yang masih belia.


"Tenang saja, aku akan buat daddy menikahi mommy," ucapnya percaya diri sambil memainkan alis menggoda. Ressa dan Aruna terkekeh geli melihat kelakuan gadis itu.


"Apapun yang terbaik, Tante akan dukung kamu." Ressa mencubit gemas pipi keponakannya.


"Wajib," Deandra mengedipkan mata pada sang tante. Senyuman itu mengingatkan Ressa pada seseorang, sangat mirip. Jika dilihat garis wajahnya juga mirip.


Perempuan hamil itu menggeleng pelan dengan segala pikiran konyolnya. Mana mungkin itu terjadi. Sedang ayah Dea masih belum menikah, mungkin karena penyesalan di masalalu atau terjerat cinta yang membekukan hati. Atau hal yang lain, Ressa tidak tau apa pastinya.


"Kamu bisa menikah dengan lelaki lain Aru, tidak perlu menunggu ayah Dea. Bukannya kamu yang bilang kalau tidak ingin menikah dengannya karena tidak cinta." Ujar Ressa setelah mereka hanya tinggal berdua.


"Aku tidak ingin mengecewakan Dea, Sa. Setelah Dea bertemu ayahnya baru aku pikirkan itu. Aku tidak ingin Dea tersia-siakan karena menikah dengan laki-laki yang tidak bisa menerimanya seperti putri sendiri," jelas Aruna.

__ADS_1


Ressa mengangguk mengerti, Aruna benar lebih baik sendiri daripada tersiksa nantinya. "Semoga kamu menemukan ayah yang tepat untuk Dea nanti, walau itu bukan ayahnya."


Hanya dukungan yang bisa Ressa berikan pada saudaranya itu. Setelah cukup lama mengobrol dan melepas kangen ia berpamitan pulang.


__ADS_2