
Ressa berangkat ke kantor lebih pagi, agar dia punya waktu untuk menyelesaikan laporan yang tadi malam ditinggalkannya pulang karena kesal pada Tian.
Bagaimana ia tidak kesal, bosnya itu melarangnya dekat dengan lelaki. Sedang mereka tidak memiliki hubungan apapun. Sejak kapan perusahan punya peraturan dilarang dekat dengan lawan jenis.
Hari ini Ressa belum melihat batang hidung bosnya itu. Hanya sang asisten yang menghadiri meeting. Kemana Tian? Kenapa ia jadi memikirkan bos casanovanya itu.
Ressa tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal pribadi Tian pada Denis. Asistennya itu cuma mengatakan sang presdir sedang memiliki urusan lain.
Hari-harinya sepi tidak ada Tian yang mengganggunya. Pekerjaan rasanya membosankan, apalagi hanya bisa melihat wajah Denis. Tidak ada tantangan, tidak ada suara jantung yang berdebar-debar saat dia menatap tajam sang bos.
Ia pulang seperti jam normal kantor biasanya. Tidak ada lembur lagi. Pergi kemana sih bos casanova, tidak ada mengabarinya. Ressa menggeram kesal, siapa dia sampai harus tau kemana perginya Tian. Mengingat tidak ada hubungan spesial diantara mereka.
Perempuan itu memarkirkan mobil di pekarangan rumah. Keningnya bertaut melihat mobil putih terparkir di sana. Siapa yang bertamu ke rumah. Mungkin tamu ayah, pikirnya melangkahkan kaki menuju kamar.
"Ressa kemari," panggil sang ibu saat ia melewati ruang tamu.
Perempuan itu menghentikan langkahnya lalu mendekati Rina.
"Temani calon suamimu," titah Rina sambil melotot.
__ADS_1
Ressa membulatkan mata, calon suami dari Hongkong. Kenal orang yang sedang duduk di samping ayahnya pun tidak. Kalau dilihat sekilas lebih muda darinya. Darimana ibu memungut lelaki yang di klaim sebagai calon suaminya ini.
"Aku mau mandi dulu." Jawab Ressa acuh lalu kembali menggerakkan kakinya ke kamar.
"Ressa!" Rina ingin mengejar putrinya namun ditahan Amrin.
"Biarin aja Bu, dia mandi dulu." Amrin tidak terlalu memikirkan putrinya yang belum menikah. Entah dapat laki-laki dari mana istrinya ini asal keinginannya tercapai.
Ressa menghempaskan diri di kasur. Huft, kepalanya hampir pecah. Beban yang menghantam kepalanya serasa bertambah. Punya ibu bukannya membuat anak tenang malah menyiksa batin seperti ini.
"Tian," gumamnya. Tidak dapat dipungkiri kalau relung hati terdalamnya menginginkan lelaki itu. Tapi ia takut, sepak terjang Tian terhadap perempuan membuatnya mengurungkan keinginan menjadikan bosnya itu sebagai suami.
"Ressa, keluar. Temani calon suamimu!" Teriak Rina dari depan pintu.
Rasanya ingin muntah dengan sebutan calon suami yang ibunya sematkan. Anak lelaki kemaren sore mau dijodohkan dengannya. Oh Tuhan, rasanya dunia ini sudah jungkir balik dibuat sang ibu.
Ressa beranjak ke kamar mandi berendam di bathtub mengabaikan suara ibu yang baginya sumber kebisingan.
"Tian," gumamnya. Lagi-lagi lelaki itu yang ada dalam otaknya. Apa dia harus menyerahkan diri pada bos casanova itu. Membekukan hatinya agar tidak terluka saat Tian bersama perempuan lain daripada dinikahkan ibu dengan anak bau kencur.
__ADS_1
Aarrggh, kenapa otaknya konyol sekali berpikir seperti itu. Dua-duanya bukan pilihan yang bagus. Rasanya ia ingin menangis dan berteriak sepuasnya.
Setelah satu jam berendam, tubuhnya sudah lebih rileks. Rina masih belum menyerah menggedor pintu kamar. Ressa menghela napas kasar, ia membuka pintu mendapati pelototan sang ibu.
"Kamu ini dipanggil kayak gak punya telinga aja!"
"Telinga aku ini sudah tuli karena teriakan ibu." Sarkas Ressa acuh, perutnya lapar. Ia ke dapur bukan ke ruang tamu mengikuti sang ibu.
"Dasar anak durhaka," geram Rina dalam hati saat menyadari Ressa tidak mengikutinya. Ia menyusul ke dapur. "Kamu ini kenapa susah diatur sih, ibu capek ngurusin kamu!"
"Aku gak minta diurusin, Ibu. Aku bisa ngurus diri sendiri. Ibu cukup diam, gak perlu susah-susah nyariin aku jodoh. Jangan harap aku mau nemuin anak ingusan itu." Desis Ressa tidak jadi makan, ia ke kamar mengambil jaket dan tas lalu pergi. Terlalu malas melihat wajah ibunya di rumah.
"Ressa!" Teriak Rina, habis sudah kesabarannya.
"Ibu kenapa teriak-teriak!" Tegur Amrin heran.
"Urus tuh anak Ayah yang gak bisa di atur."
Amrin mengelus dada, selalu dia yang jadi sasaran kalau ibu dan anak itu berdebat. "Ibu kenapa juga pake nyariin Ressa jodoh segala. Anak ibu itu sudah besar, bukan balita lagi. Mending urus tamu ibu sana, Ayah capek denger Ibu mengomel terus."
__ADS_1
"Dasar ayah dan anak sama saja," runtuk Rina melihat sang suami juga mengacuhkannya.