Aksara Cinta

Aksara Cinta
28. Bos Gila


__ADS_3

"Tahan biar gak nakal, Honey. Dia baru belajar puasa." Bisik Tian pada Ressa sambil memejamkan mata, melihat Audrey tanpa sehelai benang membuat nalurinya sebagai lelaki bangkit. Perempuan itu memang gila. Dia sudah meminta Denis berjaga-jaga agar tidak ada lagi yang masuk ke ruangannya.


"Aku malu!" Lirih Ressa.


"Jangan lihat, tutup mata." Tian mengutuk Audrey yang terlalu berani dan tidak tau malu. Ia pikir Audrey akan mundur dengan adanya Ressa di pangkuannya. Ternyata dia salah.


Audrey menyambar bibir Tian tanpa mempedulikan Ressa yang membenamkan wajah di ceruk leher lelaki itu.


Sedang tubuh Tian sudah memanas, bukan karena Audrey. Tapi Ressa yang bergeriliya di lehernya. Ia mengumpat, mengabsen nama-nama binatang dalam hatinya. Perempuan dalam pelukannya ini tidak mau kalah.


Tanpa Audrey tahu, tangan Tian bergerak menyobek pelindung Ressa lalu melepaskan miliknya di sana. Ressa menggigit bibir, sungguh bosnya ini sangat gila. Mati-matian dia menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan desa*han.


Ressa menggigit bahu Tian untuk meredam erangan, saat lelaki itu makin menggila di bawah sana.


"Aku gak butuh kamu Audrey! Biar berpakaian lengkap dia lebih menggoda buat aku." Bisik Tian, saat perempuan itu mengambil napas. "Pulang, jangan ganggu aku lagi," desisnya mengusir Audrey.


Audrey membulatkan mata menatap Tian kecewa. Ia sudah menjatuhkan harga dirinya tapi lelaki itu mengacuhkannya. Ia bergegas memungut pakaian dan memakainya cepat sambil mengumpat dalam hati.

__ADS_1


"Maaf, gak tahan puasa." Tian memeluk Ressa setelah Audrey pergi. Dia sudah selesai menuntaskan hasratnya. Tangannya menyeka keringat di kening Ressa, pendingin ruangan tidak mampu mendinginkan tubuh mereka yang tengah terbakar api gairah.


"Kalau kita nikah, ini gak akan jadi dosa lagi." Ujar Tian menangkup kedua pipi Ressa, "mau ya, Honey?"


"Aku takut!"


"Kenapa? Aku gak gigit kamu, harusnya aku khawatir sama kamu yang bisa gigit aku. Atas bawah sama-sama bisa gigit." Jawab Tian dengan kekehan.


"Aku gak yakin kamu bisa bertahan dengan satu perempuan, Tian." Entah sudah berapa lama Ressa berada dalam ruangan sang bosnya ini.


Perempuan itu bergeming, tidak tau bagaimana perasaannya sekarang. Ia hanya menuruti nalurinya yang tak bisa dikendalikan.


"Apa sesulit itu buat percaya sama lelaki brengsek seperti aku ini, Sa." Gumam Tian pelan, Ressa menatap dalam netra lelaki itu. Ia ingin percaya, tapi kekhawatirannya lebih besar.


"Mandi gih sana. Habis ini kita ada meeting." Tian menyelipkan anak rambut Ressa ke belakang telinga. Percuma memaksa Ressa sekarang, jawabannya pasti akan tetap sama.


"Bajuku," Ressa menunjukkan kemejanya dengan kancing yang berhamburan di lantai. Belum lagi pelindung asetnya yang dirusak Tian secara sengaja.

__ADS_1


Tian membulatkan mata karena kebrutalannya. Ini kali kedua yang membuatnya candu ingin mengulang lagi, lagi dan lagi.


"Pakaian aku ada di dalam." Tian menunjuk ke arah ruang istirahatnya, "buat penutup ini juga ada." Katanya menyentil nakal di sana, Ressa melotot lalu beranjak meninggalkan lawan mainnya.


Tian menyandarkan punggung di kursi. Dia bingung dengan maunya perempuan itu, diajak menikah selalu menolak.


Ressa keluar dari ruang istirahat Tian dengan wajah masam. Ia menggunakan kemeja putih yang kebesaran. Tian terkekeh geli, ada apalagi dengan gadisnya ini sampai cemberut seperti itu.


"Kebesaran," keluhnya.


"Bagus dong, jadi gak perlu pake rok lagi." Tian menggoda mendekati perempuan itu. Melepaskan pengait rok Ressa lalu memasukkan kemeja yang kebesaran ke dalam.


"Besok-besok pake celana panjang. Aku gak suka ada yang menikmati keindahan kakimu ini." Katanya, Ressa membeku di tempat dengan perlakuan manis Tian.


"Kok masih cemberut?" Tian mengelus pipi Ressa dengan punggung tangannya.


"Bagus-bagus. Di kantor bukannya kerja, malah bercinta!"

__ADS_1


__ADS_2