Aksara Cinta

Aksara Cinta
90. Melepaskan


__ADS_3

Sudah satu bulan ini Ressa jarang bersuara. Hanya berbicara seperlunya kalau Tian tanya. Perempuan itu juga tidak melakukan apapun malas menggerakkan tubuhnya kecuali tempat tidur, kamar mandi dan makan untuk sekedar bertahan hidup.


Untung rumah Aruna dekat, jadi Tian bisa menyempatkan mampir menemui Dea sebelum dan sepulang kerja. Ia tidak bisa menginap meninggalkan Ressa sendirian di rumah.


"Gimana Mas, Ressa ada perubahan?" Aruna membuatkan Tian kopi, Dea sedang berada di rumah neneknya.


"Ressa masih betah diam Ru, aku pusing harus apa. Makan pun susah, aku khawatir dengan kandungannya." Tian mengusap wajah gusar, selama satu bulan ini ia seperti orang gila membujuk Ressa.


Aruna ikutan menghela napas berat, dia tidak berani mendekati adiknya itu. Takut Ressa semakin tertekan, "sebaiknya kamu lepaskan aku, Mas. Kamu gak mau terjadi sesuatu pada Ressa dan bayinya kan?"


"Bagaimana Dea kalau mengetahui perceraian kita?"


"Kita kasih Dea pengertian dan jelaskan dengan pelan." Aruna mengusap tangan Tian untuk meyakinkan.


"Apa semua itu tidak akan membuat Dea kepikiran, kita baru menikah?" Tanya Tian cemas.


"Percayalah, Dea pasti mengerti. Dia juga tidak kehilangan ayahnya kan. Kamu masih ada untuknya. Dea pasti bisa memakluminya. Dia juga sangat menyayangi Ressa."


"Maafkan aku kalau belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu ya." Tian memeluk perempuan yang duduk di sisinya.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Mas. Minum dulu, pasti lelahkan?"

__ADS_1


Tian mengambil gelas kopi yang diberikan Aruna lalu meminumnya.


"Aku di sini sebentar boleh, Ressa taunya aku di kantor juga." Izin Tian membaringkan badannya yang sangat lelah.


"Ini rumah kamu kenapa harus minta izin," Aruna terkekeh kecil melepaskan alas kaki Tian.


"Kemejanya gak dilepasin juga, hm?" Tanya Tian menggoda sambil mengedipkan mata.


"Kalau Ressa lihat kelakuan kamu ini mampus kamu, Mas." Aruna melepaskan dasi dan kemeja suaminya.


"Entahlah Ru, aku benar-benar lelah hari ini kepalaku rasanya mau pecah memikirkan Ressa yang seperti patung hidup." Curhat Tian, Aruna mengusap-usap dada lelaki itu untuk menenangkan.


"Baru satu bulan kan? Belum lagi kamu seumur hidup melihat sikap dinginnya." Aruna mentertawakan penderitaan suaminya.


"Yang sabar Daddy, Mommy Ressa lagi hamil muda harusnya dapat perhatian lebih. Lah ini malah kamu jadikan istri kedua, jelas dia tertekan." Jelas Aruna masih dengan tawanya.


"Baiklah, sekarang Mommy Aruna yang hibur Daddy." Tian menarik kepala Aruna hingga menyentuh dadanya.


"Siap Daddy," Aruna tersenyum mengecup pipi Tian.


"Kamu ini selalu mendengarkan aku bercerita, pasti kamu juga sedang mengalami perasaan yang sama kan?"

__ADS_1


"Kalau aku bercerai denganmu, bolehkah aku menikah dengan orang lain?" Tanya Aruna serius.


"Tentu saja boleh, siapa lelaki beruntung itu, hm?" Tian tersenyum membelai pipi Aruna, walau ada rasa cemburu tapi dia tidak boleh egois.


"Denis," cicit Aruna.


"Yakin?" Tian menaik turunkan alisnya.


"Aku akan memaksanya kalau dia menolak," ucap Aruna riang.


"Hei, hei," Tian menepuk pipi Aruna dengan lembut. "Siapapun pilihanmu, asal itu tidak melukai hatimu seperti aku ini. Aku yakin Denis sangat menyanyangimu."


"Apa itu artinya kamu tidak menyayangiku?"


"Hei, nakal. Malah mengalihkan pembicaraan." Tian menciumi pipi Aruna dengan gemas, "apa mau ini jadi salam perpisahan untuk kita. Aku akan memberikan yang paling berkesan untukmu, bersiaplah."


"Aku jadi takut," Aruna memanja-manjakan suaranya.


"Tidak akan sakit, aku janji. Paling kamu akan kelelahan dan susah berjalan setelah ini." Kekeh Tian, membaringkan Aruna dan mulai mencumbuinya, sambil melepaskan penutup tubuh perempuan itu. Sore itu benar-benar mereka habiskan dengan panas dan berbagai gaya. Aruna sampai kelelahan dan tertidur di atas tubuh Tian.


Pria itu tersenyum membelai rambut Aruna, tidak mungkin dia tidak menyayangi perempuan yang sangat penurut padanya selama satu bulan ini.

__ADS_1


Tian ingin menghabiskan malam ini bersama Aruna. Dia belum pernah menemani istrinya ini tidur semalaman. Ia mengirim pesan pada Ressa bahwa akan menginap di rumah Aruna karena Dea tidak memperbolehkannya pulang. Semoga kesayangannya itu tidak membakar rumah saat dia pulang nanti.


__ADS_2