Aksara Cinta

Aksara Cinta
132. Jalan-jalan


__ADS_3

"Sayang, maaf Daddy gak bisa menemani kalian. Dea jalan-jalan sama Mommy Aru dan Mommy Ressa aja ya." Ujar Tian setelah selesai berbicara dengan Erfan dari sambungan telepon.


Sahabat sekaligus partner kerjanya itu memberitahu ada yang mencoba meretas keamanan perusahaan Extnet.


Deandra memajukan bibirnya cemberut lalu berseru, "apa itu lebih penting dariku, Daddy?"


"Dengan sangat menyesal, Daddy katakan iya Sayang. Karena ini untuk kepentingan banyak orang." Ucap Tian dengan tatapan memohon, agar putrinya ini mengerti.


"Baiklah, dengan berat hati aku juga harus menyutujuinya." Jawab Dea dengan dengusan kecil.


"Anak pintar, lain kali kita jalannya ya Honey," Tian mengusap kepala anak gadisnya itu lalu mendekati sang istri.


"Sayang, sebenarnya aku ingin membawamu. Tapi Dea pasti mengamuk kalau itu aku lakukan. Hati-hati, mungkin semua ini ada hubungannya dengan Jeri." Bisik Tian kemudian memberikan kecupan di kening.


"Kamu tidak melepaskanku begitu saja kan Tian?" Tanya Ressa, dia ingat dulu pernah ditabrak dengan sengaja oleh orang-orang yang mengejar Hira, sahabatnya. Ia khawatir itu terjadi lagi pada dirinya.


"Tentu saja tidak, ada pengawalku yang menjagamu dari jauh. Kamu cukup hati-hati, jangan berpisah dari Aru dan Dea. Karena itu akan menyulitkan orang-orangku menjaga kalian," pesan Tian.

__ADS_1


"Bisakah jujur saja pada Dea, aku takut jauh darimu, Sayang." Rengek Ressa, hilang sudah singa betinanya Tian kalau bertingkah begini.


"Tidak perlu, bersikap baiklah pada Jeri kalau kamu bertemu dengannya. Jangan membuatnya emosi karena kamu menentangnya, Honey."


"Kau ingin mengumpankan aku padanya, Tian?" Sentak Ressa marah.


"No... no... Sayang. Aku tidak bisa berdebat sekarang, Erfan akan mengamuk kalau aku terlambat datang dan perusahaan kebobolan." Ucap Tian lalu pergi yang meninggalkan ke khawatiran di hati Ressa.


"Ada masalah?" Tanya Aruna seperti bisikan di telinga Ressa. Perempuan itu mengangguk.


"Kita batalkan saja jalan-jalannya dan tetap diam di rumah," usul Aruna.


"Mommy, apa kita tidak jadi berangkat. Kenapa kalian masih asyik mengobrol," sela Deandra pada dua orang dewasa itu.


"Tentu saja jadi, Sayang." Jawab Ressa sambil tersenyum lalu menggeleng pelan pada Aruna. "Tidak apa kita berangkat saja."


"Kamu yakin ini aman?" Tanya Aruna khawatir.

__ADS_1


"Ada pengawal yang mengikuti kita dari jauh, ayo berangkat. Jangan sampai Dea curiga karena kita terus saja bicara." Ujar Ressa keluar rumah lebih dulu sambil menggandeng bahu Dea.


Kini mereka sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Anak gadis itu ingin memberi perlengkapan sekolah sebelum nonton. Dua mommy-nya hanya mengikuti kemana Deandra mau.


"Mommy, aku mau beli buku. Kita ke Gramed," ajaknya. Dua wanita itu langsung menoleh karena dipanggil mommy. "Sepertinya aku harus mengubah panggilan untuk kalian," ucap gadis itu sambil berpikir panggilan yang cocok untuk salah satu mommy-nya.


Aruna terkekeh kecil, "sebaiknya memang begitu. Jangan membuat kami bingung," timpal Aruna yang di setujui Ressa.


"Baiklah, ini Mommy." Dea menunjuk ke arah Aruna, "dan ini Buba," katanya seraya menarik tangan Ressa.


"Not bad, Mommy suka." Jawab Ressa, "eh Buba maksudnya," ralat perempuan itu sambil tertawa kecil. Seraya mengobrol mereka berjalan menuju Gramedia sesuai keinginan Deandra.


Ressa ikut mencari-cari buku berjalan dari satu rak ke rak yang lain.


"Sedang mencari buku apa?" Tanya seorang pria yang membuat jantung Ressa langsung berdetak kencang. Bukan karena terpesona, lebih tepatnya khawatir. Perempuan itu langsung tersenyum manis untuk menyembunyikan kekhawatirannya.


"Anda juga ada di sini Tuan Jeri. Sungguh Tuhan sangat murah hati mempertemukan kita dari satu takdir ke takdir yang lain." Ucap Ressa ambigu yang entahlah artinya apa.

__ADS_1


__ADS_2