
"Yakin mau tinggal di apartemen sendirian, gak mau ikut aku?" Jeri mengantar Audrey yang baru pulang dari rumah sakit ke apartemennya.
"Yakin, yakin. Dah pulang sana. Aku mau lanjut tidur," usir Audrey pada Jeri.
"Aku mau tidur juga," Jeri menyengir berjalan dengan santai ke kamar. Naik ke atas tempat tidur lebih dulu.
"Iiihh, Jeriiii." Pekik Audrey menyusul Jeri ke kamar. Menarik-narik tangan lelaki itu agar turun dari tempat tidurnya.
"Mau tidur juga? Sini aku peluk," ujar Jeri usil menarik tangan Audrey sampai jatuh dalam pelukannya.
"Tempat tidurku! Iih ganggu aja." Sewot Audrey, memukul-mukul dada lapang Jeri.
"Kita sudah biasa berbagi tempat tidur, Sayang. Tadi malam kan kasurnya sempit, sekarang kasurnya sudah lebar, ayo kita pacaran dulu." Jeri tersenyum merapikan rambut Audrey yang berantakan karena ulahnya.
Perempuan itu mendengus, kenapa lelaki di depannya ini jadi tambah manis sekarang. Huh, merepotkan hatinya saja.
"Tadi malam sudah berakhir Jeri. Tidak ada pacar-pacaran lagi!" Peringat Audrey dengan ketus.
__ADS_1
"Kita memang tidak pernah jadian, Audrey. Jadi tidak ada yang perlu diakhiri, semua akan tetap berjalan seperti ini." Jeri tersenyum tipis, sedang Audrey sudah memberengut masam. Lelakinya ini memang suka menjebaknya dengan kata-kata.
"Kamu mempermainkanku Jeri, kamu yang mengijinkan aku pergi. Kenapa menahanku lagi?"
Jeri menjawab dengan senyuman lalu memberikan sapuan lembut di bibir chery Audrey. Perempuan ini tidak pernah bisa menolak kalu dimanjakan. Mudah bagi Jeri untuk menaklukkannya. Audrey membalas kenakalan lidah Jeri. Semakin lama permainan lidah itu semakin panas dan menuntut.
"Tidak perlu katakan apapun, Sayang. Kamu pasti tidak bisa menolak ini." Lelaki itu menyeringai jahat, menanggalkan satu persatu kain yang melekat di tubuh Audrey.
"Jeriii, aku belum bisaaa!!" Teriak Audrey ditengah-tengah suara seksinya dengan napas yang turun naik.
"Tenang Sayang, aku tidak akan melakukannya. Nikmati saja." Senyuman iblis itu kembali keluar jadi bibir Jeri.
"Kamu jahat Jeri," ucap Audrey lemas dalam pelukan lelaki itu.
"Bagaimana rasanya, masih tetap sama, hm?" Jeri membelai pipi Audrey.
"Kamu membuatku gila Jeri, aku capek."
__ADS_1
"Tidurlah aku temani."
"Pergilah Jeri. Jangan cari aku lagi. Jika apa yang kamu kejar nanti tidak membuatmu bahagia. Tolong jangan mengemis dan memintaku untuk bersamamu kembali." Ucap Audrey serius, menatap dalam manik mata Jeri yang mendekapnya tubuhnya.
"Kenapa aku jadi takut saat kamu berkata seperti ini, kamu sepertinya ingin benar-benar menghilang dari hadapanku. Duh, aku tidak bisa melihat bidadari cantikku ini lagi nanti." Jawab Jeri dengan guyonan, seraya mengecup pipi Audrey.
"Semakin kamu bilang seperti itu, aku jadi tidak rela melepasmu. Mari kita bekerja sama, Sayang. Aku akan menikahimu, kita lumpuhkan Tian dengan menghancurkan istrinya."
"Kamu gila Jeri, ingin menikahiku tapi masih mau mengejar istri orang!!" Serang Audrey geram.
"Dengarkan aku, Sayang!!" Jeri mengeratkan pelukannya.
"Cukup Jeri, kamu hanya terobsesi dengan apa yang Tian miliki. Aku capek mengikuti permainanmu. Aku ingin hidup tenang," lirih Audrey benar-benar lelah dengan keegoisan Jeri.
"Aku hanya ingin menjagamu dan orang tuamu tidak merendahkanmu lagi, Sayang." Ucap Jeri memberikan pengertian pada Audrey.
"Aku tidak ingin di duakan Jeri. Itu sangat melelahkan, pulanglah. Aku butuh waktu sendiri. Aku juga capek, kamu main serang aja." Ucap Audrey dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Baiklah, aku pulang dulu. Tapi aku pasti ke sini lagi nanti." Jeri tersenyum mengecup kening Audrey. Perempuan itu menghela napas pelan, lagi-lagi perasaannya harus kandas di tengah jalan.