
"Buba kenapa? Dedeknya sudah mau keluar?" Tanya Deandra khawatir, melihat Ressa yang meringis memegangi perut. Sang ibu itu sedang menemaninya berenang.
"Kayaknya iya Sayang, tolong panggilin Daddy ya." Mungkin baby ingin lebih cepat keluar dari waktu perkiraan, yang masih kurang satu minggu lagi, pikir Ressa.
"Yes Buba." Dea naik dari kolam renang dengan tubuh yang masih basah langsung berlari.
"Kamu basah Sayang, jangan lari-larian. Awas licin!" Teriak Ressa memberitahu putrinya itu.
Dea langsung me-rem kakinya agar tidak berlari. Saat seperti ini tidak perlukan dia membuat ibunya cemas karenanya lagi.
"Daddy!!" Teriak Deandra masuk ke rumah, tidak mempedulikan lantai yang jadi becek karena ulahnya.
"Dea, kamu basah-basahan bukannya ke kamar mandi malah masuk lewat pintu depan. Jangan mentang-mentang ada yang bantu bersihin bisa seenaknya ya!!" Omel Aruna panjang.
Denis yang mendengarnya sampai meringis. Kenapa istrinya ini sangat suka marah-marah sekarang. Padahal tidak sedang kekurangan kasih sayang darinya. Katanya perempuan kalau stres suka marah-marah.
"Mommy marahnya di cut dulu ya, panggilin Daddy please. Atau aku buat basah seisi rumah ini. Buba sakit perut!!" Jelas Deandra sambil berteriak.
Mau melangkahkan kaki masuk rumah, semakin dimarahi lagi nanti. Rumah besar juga salah, dia jadi lelah bicara sambil berteriak-teriak.
"Oke, Daddy Denis yang panggil Daddy. Sekarang kamu langsung ganti baju Sayang, Mommy yang lihat Buba." Sahut Aruna berjalan mendekati putrinya.
Istri Denis itu berjalan cepat ke kolam renang, Ressa duduk di kursi memegangi perutnya kesakitan.
"Ressa tahan sebentar, Denis masih manggil Tian." Aruna mengelus-elus perut Ressa. Dia bingung harus melakukan apa untuk mengurangi rasa sakit di perut Ressa.
"Mules banget," lirih Ressa sampai berkeringat dingin.
"Sayang, kita ke rumah sakit." Tanpa babibu Tian langsung menggendong Ressa, Aruna mengikuti di belakang. Dari kolam renang cukup jauh mendatangi halaman depan. Tian membawa beban berat itu sambil ngos-ngosan.
"Aku bisa jalan Mas, kalau kamu capek gendongnya." Ujar Ressa kasihan melihat Tian kelelahan menggendong tubuhnya yang menggelembung.
"Diam Sayang, kamu bisa brojol di sini karena kebanyakan bicara."
Kalau tidak sedang menggendongnya Ressa ingin sekali memukul suaminya itu. Kata-kata pedasnya memang bisa membuatnya tertawa, tapikan gak lucu kalau dia sedang kesakitan malah tertawa.
Denis sudah menunggu di depan rumah bersama ibu mertuanya. Mereka sudah siap berangkat.
__ADS_1
"Tunggu, Dea ikut!!" Teriak gadis remaja itu berlari terengah-engah dari dalam rumah.
"Cepetan Sayang, Buba-mu sudah kesakitan." Ujar Denis yang masih memegang pintu mobil setelah Tian membawa Ressa masuk.
"Ini Dea sudah cepat-cepat Daddy," Dea menggapai pintu mobil dengan napas tersendat sendat.
"Besok nanti kamu Daddy daftarkan lomba lari maraton tingkat kelurahan Sayang," Denis masih sempat bercanda sambil menutup pintu mobil bagian belakang. Suami Aruna itu langsung memutari mobil dan duduk di balik kemudi.
"Daddy bukan waktunya bercanda!!" Seru Dea geram.
"Yes Honey, kita berangkat." Sahut Denis seraya menghidupkan mesin, menjalankan menuju rumah sakit.
"Kenapa ayah dan anak ini sempat-sempatnya bercanda. Aku kan jadinya pengen ketawa juga," gerutu Ressa dalam hati.
"Daddy kenapa lama sampainya!!" Teriak Deandra.
"Sayang, ini mesin mobil bukan pesawat terbang. Kamu lihat di depan sana macet." Jelas Denis, putrinya ini seperti pakai mix mesjid kalau berteriak.
"Ih Daddy gak bisa nyetir!!"
"Dea diam Sayang, Daddy pusing dengar kamu teriak-teriak." Tegur Tian, putrinya itu membuat suasana hatinya tambah kacau saja.
"Sus, tolong istri saya mau melahirkan!!" Teriak Tian memanggil perawat sambil menggendong Ressa.
Seorang suster datang menghampiri membawakan kursi roda.
"Kok kursi roda sih!" Gerutu Tian pelan menurunkan Ressa dengan hati-hati di kursi roda.
"Sayang, aku cuma mau melahirkan. Bukan sedang sekarat!" Ressa balas menggerutu pada suaminya.
"Lagi kesakitan tapi masih bisa mengomel," Tian mengecup pipi Ressa sebelum mengambil alih kursi roda dari perawat.
Ressa membulatkan mata, suaminya itu tidak tahu tempat menciumnya. Tian tersenyum kecil melihat Ressa melotot. Membawanya ke ruang bersalin mengikuti perawat. Ia tidak meninggalkan Ressa sedetikpun di dalam sana.
"Kenapa adek lama keluarnya, Nek?" Tanya Deandra gelisah.
"Sabar Sayang, doakan semoga Buba lahirannya lancar." Rina memeluk cucunya agar lebih tenang.
__ADS_1
"Tapi Buba baik-baik aja kan, Nek?" Dea terus bertanya. Mulutnya tidak bisa disuruh diam.
"Sayang, kamu tenang ya. Jangan ikutan panik," tegur Denis pada putrinya.
"Aku gak bisa tenang sebelum adek keluar," sahut Deandra cemberut.
"Kita jalan-jalan keluar Sayang," ajak Denis.
"Nggak mau, Dea mau nungguin di sini." Tolak gadis itu, Denis terpaksa harus bersabar mendengar celotehan putrinya yang tidak mau diam.
Sedang di dalam ruang bersalin Tian mengomel pada Ressa. Pasalnya sang istri itu berjalan bolak-balik di hadapannya. "Sayang, aku pusing lihat kamu mondar-mandir."
"Ini biar dedek tau jalan keluar mas," ujar Ressa. Pembukaannya belum lengkap, Jadi masih menunggu waktunya melahirkan.
"Sini aku aja yang nunjukin jalan keluarnya Sayang, aku lebih hapal." Sahut Tian, membuat perawat yang berjaga di ruangan itu tersenyum geli.
"Mas ngomong apaan sih, bikin malu aja." Ucap perempuan yang mau melahirkan itu ketus.
"Marah-marah terus, ayo tiduran aja nanti kakimu capek."
Ressa tetap saja mondar-mandir. Karena tidak mempan dengan ucapan. Tian membuat istrinya itu berhenti mondar-mandir dengan memeluknya.
"Kamu ini bisa bikin dedek lama keluar loh, Mas."
"Enggak, dedek pintar sama Daddy. Sayang cepat keluar ya, jangan bikin Mommy kesakitan." Bisik Tian di perut Ressa. Tidak berapa lama setelah itu Ressa mengeluh perutnya sangat sakit.
Bayi yang ada dalam perut Ressa itu patuh pada Tian. Keluar dari sana tidak membuat Ressa kesakitan lama. Walau tetap saja Tian jadi bahan gigitan Ressa.
"Oek... Oek... Oek..." suara tangisan bayi menggema di ruangan bersalin.
Tian menciumi Ressa dengan tangisan bahagia. "Terimakasih sudah kuat dan berjuang untuk putra kita Sayang." Ucapnya seraya membersihkan meringat di kening sang istri. Ressa menjawab dengan senyuman.
"Adek sudah keluar!!" Teriak Dea girang dari ruang tunggu.
"Sayang, ini rumah sakit. Jangan teriak-teriak, nanti dimarahi orang." Tegur Denis.
"Dea mau masuk lihat adek," rengek Deandra.
__ADS_1
"Belum sekarang Honey, tunggu Buba dipindahkan dulu." Tahan Denis, dia yang dari tadi repot menenangkan putrinya itu. Sedang Aruna hanya senyam-senyum memperhatikan perdebatan ayah dan anak itu.