
"Ressa," panggil Tian dari sambungan telepon. Perempuan itu masuk ruangan sang bos dengan wajah cemberut.
"Masih marah?" Goda Tian melihat wajah masam Ressa. Satu-satunya sekretaris yang berani menampakkan wajah begitu.
"Bete!"
Tian tersenyum geli, "undur meeting jam makan siang," titahnya.
Ressa membulatkan mata, ia tau ini hanya akal-akalan sang bos saja. Agar dia tidak punya waktu istirahat.
"Aku boleh gak ikut, ngantuk! Kamu sama Denis aja."
"Hei, kamu sekretarisku. Jangan mentang-mentang aku yang jadi bosmu bisa menolak tugas sesuka hati." Ujar Tian, dalam hatinya tertawa. Dia sengaja meeting saat jam makan siang. Agar Ressa tidak makan siang bersama karyawannya yang sok perhatian itu.
"Justru itu aku punya hak istimewa dong!" Ujar Ressa semakin cemberut.
Tian mengoyangkan telunjuknya di depan wajah Ressa sambil tersenyum manis. "No, kecuali tidurnya sama aku. Baru aku batalin meeting."
"Mesum, ih. Benci!"
"Sstt, kenapa bete, hm?" Tian bangun mendekati perempuan itu, lalu menepuk-nepuk bahu Ressa lembut.
__ADS_1
"Bete sama kamu!"
"Salah aku apa? Aku gak ngapa-ngapain kamu, dari tadi aku kerja lho." Tian melongo, perempuan memang selalu benar.
"Kamu nyebelin, suka bikin kesal." Ressa menyadarkan kepala di pinggang Tian.
"Hm, ya udah aku batalin aja meetingnya. Kamu mau makan di luar?"
"Aku benci kamu!"
"Jangan benci nanti kamu tergila-gila sama aku!" Goda Tian semakin menjadi-jadi, tidak peduli dengan kekesalan Ressa.
"Jangan muncul di hadapanku lagi!" Pinta Ressa dengan tatapan memohon.
"Aku capek kalau lihat kamu."
"Lihat aku itu bisa bikin capek kamu hilang." Tian mensejajarkan tubuhnya dengan Ressa, menempelkan pipinya pada pipi Ressa.
"Jangan goda aku," Ressa mengangkat tangan menempelkan di pipi Tian.
"Kamu ini bikin gemas banget ya, katanya benci tapi masih mau manja-manja." Satu kecupan basah diberikan Tian sambil terkekeh kecil.
__ADS_1
"Kamu bilang nyari aku, tapi kamu masih bersenang-senang dengan banyak perempuan. Apa itu definisi aku penting buat kamu, Tian." Ungkap Ressa.
Sang casanova tersenyum kikuk, apa yang dikatakan Ressa memang benar. "Kasih aku sempatan buat berubah Sa."
Perempuan itu menggeleng, "kita jalani semuanya seperti sebelumnya. Anggap tidak pernah ada apapun, Tian. Kamu bebas mau berhubungan dengan siapapun, begitu juga aku. Tidak ada keterikatan diantara kita."
"Itu maumu, bukan mauku." Tian tersenyum tipis, sangat tipis hampir tidak terlihat. "Aku tidak akan melepaskan kamu, sampai kapanpun!"
Ressa memutar bola mata malas, sia-sia dia merayu Tian. Hasilnya nihil, bos selalu benar.
"Jaga baik-baik anakku, Honey." Tian mengecup bahu Ressa kemudian kembali ke kursinya.
"Mimpi! Aku tidak sudi mengandung anakmu!" Desis Ressa, bosnya ini selalu membuatnya darah tinggi.
"Eits. Kita bikinnya pakai cinta Honey, jangan mengumpat seperti itu." Tegur Tian dengan kekehan, sekretarisnya itu melengos meninggalkan ruangan.
"Unik," gumamnya. "Kenapa aku tergila-gila padamu. Padahal aku sangat benci komitmen." Tian mentertawakan dirinya sendiri, dari sekian banyak perempuan kenapa pilihannya jatuh pada Ressa.
Sampai di meja kerjanya Ressa bercermin, lagi-lagi pipinya bersemu merah karena ulah Tian. Bosnya ini sangat meresahkan jantung dan hatinya. Bagaimana ia bisa lepas dari jerat Tian kalau masih bekerja di sini.
Ressa menghubungi klien mengubah jadwal meeting saat jam makan siang sesuai keinginan bosnya itu dengan wajah bete.
__ADS_1
"Selalu saja semena-mena sendiri!" Gerutu Ressa.