
Tian tak berkedip menatap Ressa yang datang menggunakan gamis modern berwarna peach dengan pashmina senada. Andai dia tidak berada di sini, ingin sekali Tian mendekati perempuan itu dan memeluknya, tidak ingin melepaskan lagi.
Hati Ressa pasti sedang hancur sekarang. Tapi wanitanya itu tetap tersenyum manis tanpa menunjukkan lukanya.
Setelah selesai melakukan ijab kabul, Tian langsung pergi mencari Ressa yang menghilang dari pandangannya. Ia menyusuri setiap sisi ballrom hotel, harusnya dia memasang chip di tubuh perempuan itu agar mudah melacak kemanapun perginya.
Tian terkekeh geli dengan pemikiran gilanya. Ia mencari Ressa sampai ke toilet, rupanya perempuan itu ada di sana sedang menangis sesenggukan. Dengan pelan ia masuk ke toilet wanita dan mengunci pintu. Untung hanya ada Ressa yang nangkring di sana.
"Jangan menangis, Sayang." Tian memeluk Ressa dari belakang, perempuan itu memutar badan dan langsung membalas pelukan Tian.
"Aku pikir aku kuat melihat kamu menikah dengan kakakku, Tian."
"Sstt, sudah. Aku tau isi hatimu, sekarang aku ada di sini." Tian mengusap punggung Ressa dengan lembut untuk menenangkan, "kamu cantik. Seperti ini setiap hari ya, Sayang."
Ressa mengangguk pelan, apapun permintaan Tian dia akan turuti andai mereka masih bersama.
"Sekarang dedek mau apa, hm." Tian mengangkat Ressa ke atas wastafel menciumi perut yang di dalam ada anaknya sedang bersemayam.
__ADS_1
"Di sini dulu mau peluk kamu. Setelah ini aku gak bisa peluk kamu," ujar Ressa manja mengalungkan tangannya ke leher Tian. Tuhan, maafkan dia yang sudah main belakang dengan suami saudaranya sendiri.
"Bisa, masih bisa Sayang. Kalau kita terus di sini orang-orang bisa pipis di celana." Kekeh Tian lalu menelpon Denis untuk menyiapkan mobil di pintu belakang.
"Kita keluar dari sini, Sayang. Kamu jangan lihat apapun ya. Peluk aku biar gak ada yang kenal sama kamu."
Ressa mengangguk, Tian membawa perempuan itu dalam gendongannya menuju mobil yang sudah Denis siapkan. Anggap saja dia sedang menolong perempuan yang pingsan kalau ada yang bertanya.
"Gila!" Denis berdecak saat Tian datang membawa Ressa. "Semua orang sedang sibuk mencarimu, Tian. Kamu malah sibuk dengan mantan istrimu."
"Emang gue peduli," Tian tertawa kecil sambil memeluk Ressa. "Ke rumah yang dulu," titahnya.
"Itu urusanmu Denis!"
Tian tersenyum menatap Ressa yang hanya diam dalam pelukannya, "kamu mau kita berbuat dosa lagi. Apa mau kita rujuk?" Tanyanya sambil menciumi pipi Ressa.
"Mesraan aja terus, istri ditinggal di hari pernikahan!" Sindir Denis kesal, mereka tidak punya hati sekali melihat jomblo kepanasan main ciam-cium sembarangan.
__ADS_1
"Rujuk," gumam Ressa pelan.
"Good girl," lelaki itu tersenyum. Tanpa mempedulikan kekesalan asistennya, rencananya berhasil dengan sempurna. Cukup sedikit pancingan untuk membuat Ressa cemburu dan kembali padanya.
Bukan tanpa perhitungan Tian menceraikan Ressa. Dia tidak akan membuat anaknya lahir tanpa ada dirinya menemani. Andai malam ini Ressa menolakpun, dia pasti akan membuat perempuannya ini terpedaya dan jatuh dalam pelukannya lagi. Pria itu tersenyum licik yang hanya Denis dapat melihatnya
Denis meninggalkan bos gilanya, setelah dua orang itu rujuk kembali di depan para saksi yang dihadirkannya. Sungguh pria gila yang menjerat istrinya sendiri agar bertekuk lutut. Cinta memang membuat manusia menjadi bodoh, gerutunya sepanjang jalan kembali ke hotel.
"Pasti lelah banget beberapa minggu ini tanpa akukan. Maaf sudah membuatmu begini, Sayang." Tian membawa istrinya dalam pelukan, secepat ini dia bisa membuat Ressa menyerah.
"Bagaimana Aru, Tian."
"Jangan pikirkan Aru, kami sudah membuat perjanjian. Semua demi Dea, semoga kamu mengerti dengan semua ini Sayang. Aku tetap harus berlaku adilkan padanya?"
Ressa mengangguk lemah, hatinya ternyata serapuh ini. Malah setuju dijadikan istri kedua, bodoh Ressa, bodoh. Runtuknya pada diri sendiri.
"Tidur, kamu pasti capek. Meskipun kangen, aku gak akan ganggu kamu malam ini. Kasihan dedek nanti sakit." Ujar Tian menggoda, Ressa tidak menjawab. Perempuan hamil itu sudah terlelap dalam damai.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Bersabarlah semoga ada bahagia yang kekal untuk kita." Tian tersenyum mengecup seluruh wajah istrinya, "maaf sudah membawamu dalam rencana ini." Ia akan membahagiakan istrinya ini dengan cara apapun sebagai penebus dosa.
Setelah memastikan Ressa benar-benar tertidur Tian menyelimuti istrinya itu. Dia akan menyelesaikan masalah yang dibuatnya di hotel. Kasihan Aruna kalau harus menyelesaikannya sendirian.