
"Kita mau kemana?" Tanya Tian setelah berada di mobil. Membawa kuda besinya meninggalkan rumah Ressa.
"Gak tau Tian, aku sangat khawatir pada Ressa. Tidak biasanya dia tidak menjawab telepon dariku." Jawab Aruna gelisah.
"Kita tidak bisa mencari orang tanpa tau alamat dan tujuan, Aru." Tian masih bersikap seolah tidak tau apa-apa.
"Aku tidak tau sekarang dia tinggal dimana." Aruna menghela napas berat, berulang-kali menghubungi Ressa tapi tidak ada jawaban. Ada apa, apa yang terjadi dengan Ressa. Apa ibu bertengkar lagi dengan adik tirinya itu.
"Aru," panggil Tian karena kasihan pada perempuan di sampingnya ini. Hubungan mereka sepertinya memang sangat dekat.
"Ya, aku masih belum tau kita mau kemana Tian." Sahut Aruna lemah, dengan perasaan tidak enak sudah merepotkan Tian. "Kalau kamu sibuk, turunkan saja aku di sini. Biar aku naik taksi mencari Ressa," lanjutnya.
"Ressa mantan istriku," ucap Tian tenang. Aruna membulatkan mata, apa yang dia dengar tidak salahkan. "Aku menceraikannya demi Dea dan agar kalian tidak memusuhi Ressa. Sekarang dia sedang mengandung anakku."
__ADS_1
Aruna mendadak blank, matanya langsung berkaca-kaca. Jadi dia yang sudah menyebabkan rumah tangga adiknya berantakan. Kesalahan apalagi yang sekarang dilakukannya.
"Kenapa kamu tidak bilang, Tian?" Lirih Aruna penuh sesal karena sudah hadir dikehidupan adiknya. Pantas saja Ressa menghindar darinya.
"Aku ingin bilang, tapi kamu yang memintaku untuk tidak mengecewakan Dea, Ru."
"Kalian kembali ya, biar aku yang memberitahu Dea pelan-pelan." Pinta Aruna, dia tidak bisa menghancurkan hati adiknya itu.
"Tian, please jangan sakiti Ressa. Selama ini dia sudah terlalu banyak menderita. Dia selalu mengalah untukku, kali ini aku tidak ingin merebut apa yang telah menjadi miliknya."
"Ini sudah jadi keputusanku, lagian Ressa belum tentu mau kembali padaku. Biarlah ini sebagai bentuk tanggung jawabku pada Deandra." Tegas Tian, entah apa yang sedang otaknya rencanakan. Yang jelas dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuat ibu Ressa itu menyesal karena telah bermain-main dengannya.
"Antar aku pada Ressa, kamu pasti tau dimana dia tinggal."
__ADS_1
"Tentu, aku juga sangat merindukannya." Ucap Tian, Aruna sadar lelaki di sampingnya sangat mencintai Ressa. Tidak sepantasnya dia menjadi duri dalam pernikahan adiknya sendiri.
"Bagaimana kita akan menikah kalau kamu masih mencintai perempuan lain, Tian?" Tanya Aruna, berharap Tian mengurungkan niat untuk menikahinya.
"Hei, tujuan kita menikah jelas bukan cinta." Tian menoleh pada Aruna sebentar kemudian fokus kembali pada jalanan.
"Semua demi Dea. Kalau kamu tidak suka bersamaku nanti itu terserah padamu. Sejak dulu kamu memang tidak pernah suka padaku," sindir Tian kesal. Sepertinya luka lama masih belum sembuh.
"Maaf, semua salahku." Lirih Aruna, air mata itu akhirnya merembes keluar. Karena kesalahannya sampai harus mengorbankan kebahagiaan sang adik. "Aku yang pergi meninggalkanmu. Harusnya aku tidak perlu datang mencari dan mengusik kehidupanmu lagi."
"Sudahlah, jangan diungkit lagi. Hapus air matamu, kita akan bertemu Ressa. Jangan sampai dia melihat air matamu itu."
Tian mendesah berat. Hah, kenapa kejadian menyakitkan belasan tahun yang lalu itu harus terungkit kembali. Semua terulang saat Ressa meminta sentuhan darinya malam itu. Kejadian yang hampir sama, kenapa Tian baru menyadari. Sekarang dialah yang menyakiti perempuan tersayangnya itu.
__ADS_1