
"Apa?? Dia membuang bunga-bunga yang susah payah aku kirim. Sungguh sebuah pengihanaan. Lihat saja aku akan membuatnya bertekuk lutut padaku." Teriak Jeri langsung mematikan sambungan teleponnya.
Pagi-pagi dia sudah dibuat panas oleh perempuan itu. "Kau menantangku, Nona manis." Jeri tersenyum jahat.
"Ada apa? Siapa perempuan yang bisa membuatmu marah-marah seperti ini?" Tanya Audrey sambil tersenyum.
Ya, Jeri saat ini masih berada di rumah sakit menemani Audrey. Namun mata, kaki dan tangannya berada dimana-mana mengikuti pergerakan Tian dan Ressa.
"Istri Tian," jawab Jeri.
Audrey seperti dihantam belati berkali-kali, kenapa lelaki yang dekat dengannya sekarang mengejar perempuan itu juga. Apa kurangnya dia di mata lelaki. Ada sesak yang tiba-tiba mengunjungi dadanya.
Dua orang yang pernah tidur dengannya dan menanam benih di rahimnya sekarang memuja perempuan yang sama. Itu sangat menyakitkan.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Jeri melihat perubahan wajah Audrey yang jadi lesu.
"Tidak," perempuan itu menggeleng pelan lalu tersenyum.
"Jangan bohong padaku, Audrey?" Tekan Jeri dengan suara tinggi.
__ADS_1
"Perutku hanya tiba-tiba nyeri saja," bohong Audrey.
"Aku panggil dokter," ujar Jeri khawatir.
"Tidak perlu Jeri, nanti juga hilang. Kamu ada di sini semakin membuatku cemas. Sedikit-sedikit ingin memanggil dokter. Kamu tau, aku itu takut dokter. Melihat jasnya putih-putih saja aku sudah gemetar." Audrey mengarang cerita sambil memikirkan cara agar bisa pergi dari Jeri.
"Aku tidak tau kamu takut dokter, kalau begitu kita pulang saja. Aku rawat kamu di rumah."
"Jeriii, kamu ini aneh. Kemaren aku mau pulang disuruh tunggu sembuh dulu. Sebaiknya kamu pulang, aku jadi pusing melihatmu yang plin-plan begini."
"Hei, kau ingin kabur dariku, Nona. Jangan pikir aku tidak tau isi otakmu ini," Jeri menyentil kening Audrey.
"Jangan berpikir ingin pergi dariku, itu tidak akan bisa kamu lakukan." Jeri tidak menggubris perkataan Audrey.
"Siap Tuan, siksa aja terus aku ini." Ucap Audrey lemas memiringkan tubuhnya agar tidak melihat wajah Jeri yang membuat hatinya sakit.
"Aku peduli padamu, bukan ingin menyiksamu Sayang." Jeri berpindah posisi duduk agar bisa menatap wajah Audrey.
"Apa kamu peduli juga dengan hatiku Jeri. Ini hati manusia, bukan hati ayam yang tidak memiliki perasaan terluka ketika lelaki yang pernah tidur dengannya mengejar perempuan yang sama. Aku hanya ingin melupakan semuanya dengan jauh darimu. Aku ingin menjalani hidupku yang baru dengan melupakan semua kenangan menyakitkan ini." Lirih Audrey pelan sambil menekan air matanya agar tidak banjir keluar.
__ADS_1
Jeri terdiam, tidak dapat menyangkal apa yang Audrey katakan.
"Aku ini hanya kalian jadikan pelampiasan. Kalian cari aku saat butuh, aku bukan perempuan yang menjajakan tubuhku pada banyak lelaki, Jeri. Tapi tidak ada gunanya aku membela diri, aku memang hina dan kotor." Audrey tersenyum menikmati rasa sakitnya.
"Ini pantas aku dapatkan," gumam Audrey pelan.
Jeri memang tidak pernah benar-benar serius dengan Audrey. Apalagi berniat menikahinya. "Kalau sudah sembuh kamu boleh pergi dariku. Biar aku merawatmu sampai sembuh dulu."
"Aku menyayangimu Audrey, tapi aku tidak bisa bersamamu." Lanjut Jeri, mengangkat kepala Audrey ke pangkuannya.
"Tidak apa Jeri, aku pernah mendengar kalimat seperti itu juga keluar dari mulut Tian." Audrey tersenyum manis, apa artinya rasa sayang kalau hanya untuk dibuang.
"Menikahlah denganku Audrey."
"Aku tidak ingin dijadikan pilihan terakhir Jeri. Aku ingin dijadikan satu-satunya. Jangan susahkan dirimu dengan menjaga perempuan manja sepertiku. Jangan membuat keputusan yang bisa membuatmu menyesal nanti. Aku ini bekas Tian. Carilah istri yang lebih baik dariku."
"Sudah kamu pulang sana, mandi dulu. Banyak perawat yang menjagaku di sini. Aku tidak akan kabur darimu," janji Audrey. Dia hanya perlu waktu sebentar untuk menangis meluapkan rasa sakitnya.
"Aku tidak ingin mandi. Aku tidak mandi pun kamu masih mau di dekatku," canda Jeri.
__ADS_1
Audrey melengos, "itu karena aku tidak bisa kemana-mana, Jeri." Dahlah, dia lelah menyuruh Jeri pergi. Biarkan saja lelaki itu ingin berbuat apa, salahkan dirinya yang membuat terjerat sendiri.