Aksara Cinta

Aksara Cinta
214. Daddy Nakal


__ADS_3

"Hei kenapa menangis?" Aruna menepuk pipi putrinya lembut. Setelah sampai rumah tadi ia langsung ketiduran. Bangun-bangun Dea sudah menangis di sampingnya.


"Mommy kenapa sakit?" Tanya Deandra pelan.


"Cuma kecapean Sayang, udah jangan nangis ah. Lihat, kamu diketawain Daddy." Tunjuk Aruna pada sang suami yang senyam senyum sendiri.


"Daddy emang nakal," Dea memanyunkan bibir cemberut seraya menyeka air mata. Nasib punya ayah dua-duanya usil ya begini.


"Daddy salah terus deh, kan Daddy gak nyubit kamu kenapa jadi dibilang nakal." Denis sangat gemas dengan putri sambungnya ini, mengunyel-unyel di pipi.


"Nih buktinya Daddy nakal!!"


"Daddy sayang sama kamu bukan nakal," Denis terkekeh geli.


"Mau makan atau minum yang hangat-hangat, Nak?" Tawar Rina yang kembali ke kamar pasangan itu setelah putrinya bangun.


"Perutnya masih belum enak Bu, pengen wedang jahe aja."


"Ibu buatkan dulu, Dea mau makan sesuatu sekalian Nenek bawakan?" Rina beralih pada cucunya.


"Dea bisa ambil sendiri kalau lapar Nek, mungkin Daddy yang lapar."

__ADS_1


"Daddy cuma mau makan pipi bakpao kamu," sahut Denis tidak beralih mendusel-dusel pipi Deandra.


"Ya sudah, nanti Ibu bawakan saos sekalian biar enak makan pipi Dea-nya," sahut Rina asal.


"Nenek, aku bukan daging panggang!!" Protes Dea. Denis dan Aruna saling pandang lalu mereka tertawa gelak.


"Kamu Daddy panggang mau, hm. Sekalian bawakan panggangan dan pisaunya ke sini Bu," gurau Denis.


"Daddy jahat!!"


"Iya, tusuk satenya nanti juga Ibu bawakan," ujar Rina lalu beranjak dari kamar. Menantunya itu ada-ada saja.


"Kamu kenapa bikin gemes sih Sayang. Jadi baby lagi mau, mau Daddy timang-timang." Denis memeluk Deandra, dia sangat menyayangi gadis ini walau bukan darah dagingnya.


"Sekalian Daddy masukin aja Dea ke perut Mommy lagi, terus dikeluarin." Sahut Dea judes, dia sampai susah bernapas karena sang daddy memeluknya sangat erat.


"Mas, kamu bikin Dea sesak napas." Aruna mencubit tangan suaminya agar melonggarkan pelukan.


Denis menyengir melepaskan Deandra dari pelukannya beralih pada Aruna. "Sekarang Mommy yang gantiin ya," katanya menarik paksa Aruna dalam pelukan.


"Daddy lagi kenapa sih?" Gumam Deandra heran.

__ADS_1


"Daddy lagi gemas sama kalian Sayang, rasanya pengen meluk terus."


"Tapi tiap malamkan Daddy meluk Mommy, hm."


"Belum puas Honey," Denis menyengir lebar menampilkan deretan gigi putihnya pada sang putri.


"Aneh," gumam Dea turun dari tempat tidur sebelum dia yang jadi sasaran daddy-nya kembali.


"Minum dulu wedang jahenya Ru," Rina datang membawakan wedang jahe dan sekalian cemilan untuk cucunya.


"Itu apa Bu, kok baunya gak enak." Aruna menutup hidung ketika perutnya kembali bergejolak.


"Ini peyek udang kesukaan Dea," jawab sang ibu bingung. "Kamu gak suka baunya?"


"Bau banget  Dea makan di luar aja Sayang. Mommy gak tahan nyium baunya." Aruna berlari ke kamar mandi, Denis yang bingung menyusul istrinya yang muntah-muntah lagi. Tapi tidak ada yang dikeluarkan selain air.


"Mommy kenapa Nek?" Tanya Dea heran pada sang nenek. Tadi mommy-nya itu baik-baik saja.


"Mungkin ada dedek kamu di perut Mommy, Sayang. Ayo kita bersihkan kamarnya biar gak bau.


Dea menurut, mengeluarkan apa yang membuat mommy-nya itu kembali muntah-muntah. Yang satu baru keluar dari perut buba, terus ada lagi di perut mommy-nya. Deandra menggaruk kepalanya pusing.

__ADS_1


__ADS_2