Aksara Cinta

Aksara Cinta
120. Pengertian


__ADS_3

"Apa aku masih bisa mempercayaimu lagi, Tian?" Ressa tidak merespon ucapan Tian mengalihkan topik yang dibahas.


"Kamu meragukan apalagi dariku, Honey. Aku setiap saat ada di sampingmu, apa itu belum cukup bukti kalau aku tidak berpaling darimu." Katanya seraya membelai lembut pipi Ressa.


"Satu bulan itu tidak sama dengan satu tahun Tian. Dalam waktu satu bulan mungkin kamu bisa setia denganku, tapi tidak tau satu tahun ke depan bagaimana."


"Kamu berpikir terlalu jauh, Honey. Semua yang ada dipikiranmu ini belum tentu terjadi. Apa yang menjadi ketakutan itu sering kali jadi kenyataan karena seperti doa yang selalu dirapalkan oleh pikiran. Berhentilah menanamkan ketakutan seperti itu. Berdoalah yang baik-baik untuk hubungan kita."


Tian mengusap puncak kepala Ressa yang tertutup pashmina, memberikan satu kecupan di sana.


"Di saat aku sudah percaya dan memantapkan hati, ada saja kenyataan yang membuatku ragu kembali. Audrey, Aruna dan setelah ini siapa lagi? Aulia, Aurel atau Aqua?"


"Sayang, kau sedang marah atau mengajakku bercanda. Aku tidak terlalu ingat nama perempuan-perempuan yang pernah menemaniku. Sekarang yang aku ingat hanya namamu."


"Kau terlalu pandai menaklukkan perempuan dengan kata-kata, Tuan."


"Tidak, aku hanya sedang meyakinkan istriku yang sangat khawatir dengan masalaluku. Entah bagaimana lagi aku harus mengatakannya, kesalahanku memang tidak termaafkan."


"Apa aku tidak boleh terluka dan merasa marah pada perempuan-perempuan yang mengandung anakmu?"

__ADS_1


"Sayang," Tian menghela napas panjang. "Masalaluku memang sangat menyakitkan untukmu. Mari aku sembuhkan luka di hatimu ini." Katanya memagut sangat erat sang kekasih.


"Sudah berapa banyak luka yang aku buat di sini. Tak terhitung lagi, maafkan aku."


"Aku sudah bosan mendengar maaf darimu, Tian."


"Hm, oke. Bolehkah merajuknya nanti saja, Sayang. Aku bekerja dulu," rayu Tian sambil tersenyum.


"Tentu saja, aku akan tunda merajuknya sampai malam. Sekarang bekerjalah suamiku."


"Aaaa Sayang, aku sangat beruntung bisa memilikimu. Dimana lagi aku bisa menemukan perempuan yang sangat pengertian sampai mau menunda merajuk." Tian tertawa kecil melepaskan istrinya kembali ke sofa.


Tian tidak jadi membuka dokumen melirik wajah Ressa yang cemberut.


"Baiklah, temani aku periksa laporan-laporan ini. Bawa kursinya ke sini, Honey."


"Aku tidak jadi ganti suami kalau begini, kamu sangat pengertian." Seru Ressa menggoda dengan mengedip-ngedipkan mata manja. Seraya menarik kursi dan duduk tepat di samping Tian.


"Sesungguhnya bukan kepalaku ini yang ingin bekerja kalau kamu ada di sini, Sayang." Tunjuk Tian pada kepalanya, "tapi kepala bawahku yang menjerit ingin bekerja keras."

__ADS_1


"Astaga Tian, aku tidak melakukan apapun. Pikiranmu saja yang terlalu kotor, tak bisa mencari waktu yang tepat." Cetus Ressa.


"Jadi waktu yang tepat untuk berpikiran kotor itu kapan, Honey?" Tian tersenyum smirk.


"Kerja, Sayang. Atau aku akan berbaik hati membantumu membakar semua berkas ini dan menemanimu sampai puas di atas ranjang." Sarkas Ressa garang.


"Baik Honey, aku bekerja. Kamu tidak perlu menyulitkan diri dengan membakar berkas ini, yang ada kamu kelelahan."


"Baguslah kalau kamu bisa memutuskan mana yang terbaik," sebut Ressa.


"Tentu, aku selalu memutuskan untuk memilih yang terbaik. Seperti kamu contohnya." Ujar Tian dengan mata fokus pada berkas, tapi mulut masih meladeni ucapan istrinya.


"Fokuslah bekerja Sayang, atau aku bisa membuatmu sangat serius bekerja tanpa melirik kemanapun lagi." Ressa tersenyum tipis pura-pura merapikan dasi Tian.


"Oke Sayang, aku fokus. Singkirkan tanganmu please." Mohon Tian sebelum ada yang bereaksi berlebihan dan membuat pekerjaannya tertunda lagi.


"Selamat bekerja My Tian." Ressa mengulum senyum menepuk adik kecil Tian sebagai penyemangat.


"Aaaaaargh, kau membuatnya bangun, Honey!!" Teriak Tian frustasi.

__ADS_1


__ADS_2