
"Maaf, aku selalu membuatmu emosi dan bersikap kekanak-kanakan, Sayang." Ressa membelai pipi Tian.
"Kenapa bikin kue sampai tengah malam, hm?" Tanya Tian lembut, sesungguhnya hatinya akan mudah melunak kalau Ressa bersikap lembut seperti ini. Amarahnya akan langsung lenyap, tapi melihat Ressa yang ikut emosi membuat emosinya tidak terkendali.
"Oh itu, aku sedang menunggu suamiku pulang. Syukurlah pulangnya cepat. Kalau tidak, rumah ini akan aku penuhi dengan toples-toples kukis." Ucap Ressa bercanda.
Tian membawa Ressa dalam pelukan, "maaf sudah membuatmu menunggu dan lelah. Maaf juga jadi sering marah-marah."
"Aku yang nakal," ucap Ressa seperti yang sering Erra katakan ketika ada yang memarahinya.
"Aku yang terlalu takut, Sayang. Mari aku kenalkan diriku yang sesungguhnya. Aku adalah Ardiya Tianda Adley, saudara sepupu Jeri Andreas Adley. Adley adalah silsilah keluarga yang berusaha aku hapus dari hidupku selama belasan tahun ini."
Ressa mengangkat kepalanya menatap dalam manik mata Tian. Pantas saja Tian sangat marah ketika melihatnya dengan Jeri. Mereka ada masalah keluarga, gumam Ressa.
"Maaf sudah membandingkan kamu dengan Aru, dan selalu membuatmu mengalah karena Dea. Harusnya kamu tidak ikut menanggung dosa atas kesalahanku di masalalu."
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Mungkin aku sangat egois karena tidak suka milikku ini diganggu. Aku tidak suka milikku diganggu apalagi oleh orang yang sangat aku benci." Jelas Tian lalu memberikan kecupan di kening Ressa.
"Pasti lelahkan membuat kue sebanyak itu."
"Aku lebih lelah saat kamu marah padaku, Tian. Aku sudah menghubungimu, tapi kamu tidak menjawab teleponku."
__ADS_1
"Maafkan aku banyak menuntutmu, aku terlalu emosi dan cemburu sampai tidak bisa berpikir jernih. Tetaplah seperti ini, aku tetap menyayangimu."
"Oh ya, aku tidak percaya kamu masih menyayangiku kalau aku suka membangkang, hm." Sindir Ressa.
"Kamu kalau gini itu lebih menggemaskan. Mau olahraga gak, Sayang?"
"Olahraga apa malam-malam?" Tanya Ressa serius sambil bengabsen jenis-jenis olahraga dalam benaknya.
"Apa ya namanya, langsung aku prektekkan caranya biar kamu tau." Tian mengerling jahil, mengubah posisi tubuh Ressa jadi di atasnya secepat kilat. "Nah, ini olahraganya Sayang, sangat sehat dan bisa bikin bahagia."
"Aaaaa, modus!! Pekik Ressa yang sudah tidak dapat bergerak dalam pelukan Tian.
"Sama aja, iiih." Ressa merebahkan kepalanya di dada Tian. Sesungguhnya matanya sangat mengantuk, sekarang sudah jam satu malam. Bersamaan dengan tangan yang terus membelai kepala hingga punggungnya Ressa tertidur.
Tian tersenyum mendapati istrinya yang sudah terlelap. Ia membiarkan saja posisi tidur Ressa seperti itu. Sampai dia juga ikut terlelap.
"Morning Honey," Tian terjaga lebih dulu karena badannya pegal ditindih Ressa.
"Sayang, kasurnya lebih empuk dari biasanya. Terus ada musiknya juga," gumam Ressa dengan mata masih terpejam. "Hm, ini apa?" Katanya meraba-raba benda yang menusuk diantara kakinya.
Tian membiarkan saja istrinya itu melakukan apa. Adik kecilnya tidak akan bisa tidur juga kalau tau ada selimutnya di dekat sana.
__ADS_1
"Sayaaaang, ada ulaaarr. Di kasur ada ular!!" Teriak Ressa kemudian membuka matanya. Tian sudah tersenyum melihat tingkah sang istri.
"Itu bukan ular," gumamnya pelan menjatuhkan diri ke kasur di samping Tian.
"Mau pegang ular lagi, Sayang?" Tawar Tian genit, sontak Ressa menggeleng cepat. "Tapi sayang kamu sudah mengusiknya, jadi kamu harus menenangkannya kembali, Honey. Kalau tidak, bisa ular ini bisa meracunimu dan membuat perutmu kembung."
"Sayang, aku tadi mimpi. Gak tau megang apa." Kilah Ressa sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Beneran mimpi, hm?"
"Iya, mimpi." Ressa mengangguk lugu.
"Kamu ini kayak gak pernah megang aja," Tian tertawa geli menarik tangan Ressa yang menutup wajah. Pipi perempuan itu bersemu merah.
"Tadi khilaf, Sayang. Aku mandi dulu ya, sudah adzan subuh belum?" Tanya Ressa sengaja menghindari singa laparnya.
"Belum Honey, badanku pegal kamu tindih makanya bangun lebih awal. Kamu juga harus bertanggung jawab untuk itu."
"Salah siapa gak mindahin. Tapi kasurnya empuk, mau lagi tidur di sana." Dengan polosnya Ressa naik kembali ke atas Tian yang membuat singa lapar terusik lalu menyeringai jahil mengeksekusi mangsanya.
"Aaaaaaa, Sayang. Jangan makan aku!!" Pekik Ressa kaget.
__ADS_1