
"Sayang, istirahat di dalam ya, kami akan segera menemukan Ressa." Ucap Erfan meyakinkan Hira setelah sampai di kantor. Ia membawa dua orang kesayangannya itu ke kamar.
"Temani mommy di kamar ya Sayang. Daddy bantu cari Tante Ressa dulu." Bujuk Erfan pada putrinya yang tidak mau turun dari gendongan.
"Erra mau ikut cari tante," katanya menggeleng sambil menguatkan pelukan pada Erfan.
"Kalau Erra ikut Daddy gak bisa nangkap penjahatnya," Hira mengambil dengan pelan putrinya dari gendongan sang suami. Salah sedikit bisa tulak lunak Erra yang bergeser.
"Erra, temani mommy ya. Mommy takut sendirian," ucap Hira mendekap Erra dengan erat.
"Erra juga takut, mau ikut Daddy aja." Rengeknya, Erfan mengusap kepala Erra lalu mencium dari belakang.
"Di sini aman Sayang." Ujarnya menenangkan sang putri. "Jangan kemana-mana sampai Mas kembali, Sweety."
Hira mengangguk lemah. Sebenarnya Erfan juga khawatir pada istri dan anaknya itu. Ia kembali bergabung bersama Tian dan Denis.
"Apa Jeri yang menculik Ressa?" Tebak Denis, hanya lelaki itu yang terang-terangan ingin merebut Ressa dari Tian.
"Jeri memang yang paling memungkinkan," sahut Erfan.
__ADS_1
"Kita ke kantor Adley Grup sekarang," ucap Tian. Dia tidak akan memaafkan siapun yang menyentuh dan menyakiti istrinya tersayang itu.
Tiga orang itu bersegera menuju Adley grup menggunakan satu mobil untuk menghemat energi dan BBM yang harganya sedang menanjak tower.
Sesampainya di depan pintu Adley grup mereka dicegat security.
"Maaf, mau bertemu siapa, Pak?" Tanya security yang mencegatnya.
"Jeri Andreas Adley." Jawab Tian tegas, tanpa basa-basi.
"Apa kalian sudah membuat janji, kami tidak bisa mengijinkan masuk kalau kalian belum membuat janji dengan Tuan Jeri."
"Mohon maaf Pak, mari saya antar." Ujar security itu mendadak ciut mendengar nama belakang Tian. Tanpa menyahut, Tian dan dua orang itu mengikuti security.
"Ini ruangan Tuan Jeri, Pak." Beritahu security itu dengan sopan lalu pergi dari sana.
Tian tidak membuka pintu ruang Presdir Adley Grup dengan tangan. Tapi menendangnya dengan kasar, menandakan kalau saat ini dia sedang marah.
Denis meringis melihat itu, sedang Erfan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dimana-dimana kalau orang bertamu pasti mengetuk pintu. Lah Tian, malah menendang.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga berkunjung ke kantor ini, Tian!" Jeri tersenyum sambil bertepuk tangan. "Matt jamu tamu kehormatanku," perintahnya pada sang asisten.
"Tidak perlu!" Tian mendekati Jeri dengan tatapan membunuh, mencengkram kerah baju sepupunya itu dengan kuat. Seluruh energinya berpindah ke tangan. Jeri agak kesulitan bernapas tapi masih bisa menyesuaikan diri.
"Katakan dimana kamu menyembunyikan istriku, Jeri. Atau kujadikan kalian gembel seumur hidup!!" Teriak Tian lantang.
"Istrimu? Apa urusannya denganku, Tian." Sahut Jeri masih dengan tampang arogannya, walau tidak bisa leluasa bernapas.
"Aku sedang tidak ingin bermain-main Jeri!" Tegas Tian. "Denis, ambil alih Adley Grup. Mulai hari ini aku yang akan memimpinnya!" Sarkasnya marah.
"Siap Tuan," sahut Denis formal. Semua sudah mereka siapkan, hanya menunggu waktu untuk mengambil Adley Grup.
"Apa maksudmu Tian!" Jeri mencengkram tangan Tian, menarik tangan itu agar lepas dari kerah bajunya.
"Kamu mencari istrimu ke sini? Apa yang sedang ada dalam pikiranmu, memang aku suaminya!!" Balas Jeri dengan angkuh. Merapikan kerah bajunya yang baru saja menjadi sasaran kemarahan Tian.
"Jangan berpura-pura bodoh Jeri! Kamu kan yang sudah menculik Ressa?"
Tian ingin sekali membuat babak belur wajah Jeri. Tapi itu tidak akan ada gunanya, hanya membuang-buang energinya saja.
__ADS_1