Aksara Cinta

Aksara Cinta
126. Takdir Kita


__ADS_3

Jangan cemburu, oke.


Tertulis sebuah pesan yang dikirimkan Deandra pada sang daddy.


Tian menggeram marah melihat foto yang putrinya kirimkan itu. Serasa ada yang membakar jantungnya saat ini. "Dia mengusik milikku, Denis!!"


Denis ikut membaca tulisan yang tertera dalam foto itu, lalu tertawa.


...Tuhan selalu memiliki cara yang indah mempertemukan setiap jiwa dengan takdirnya. Aku percaya kamu adalah takdirku, Nona. ...


...-Jeri Andreas Alden-...


"Hanya melihat isi pesan seperti saja lo sudah kepanasan. Belum melihat tanda percintaan diseluruh tubuhnya," ejek Denis.


"Aku tidak sedang ingin diingatkan atas kesalahanku, Denis!! Jeri sudah tau tempat tinggal Ressa. Sebentar lagi dia akan mengawasi rumah itu dan mengetahui aku suami Ressa. Setelah itu dia akan semakin gencar menghancurkan apa yang sudah aku miliki. Apa ini terdengar seperti lelucon, Denis!!" Teriak Tian dengan amarah yang menyala-nyala.


"Ini bukan lelucon, Tian. Tapi kamu bisa menggunakan Ressa untuk menghancurkan Jeri sehancur-hancurnya."


"Aku tidak akan mengumpankan istriku untuk serigala, Denis."


"Pikirkanlah, itu cara menghancurkan Jeri yang paling cepat setelah sekian tahun kamu diam, Tian." Ujar Denis memanasi.


"Tidak, jangankan untuk mengumpankannya. Mengijinkan Ressa bertemu Jeri saja aku tidak akan mengijinkan." Tian menggepalkan tangannya kuat sampai urat-uratnya menyembul keluar karena amarah yang siap di salurkan keluar.


Dering ponsel mengalihkan perhatian Tian. Lelaki itu langsung melunak melihat siapa yang menelponnya.

__ADS_1


"Sayang," panggil Ressa lemas.


"Yes, Honey. Kenapa lemas, Sayang. Kamu baik-baik saja?" Tanya Tian khawatir dengan suara yang sangat lembut.


Denis yang mengamati perubahan Tian geleng-geleng kepala. Ternyata begitu besar pengaruh cinta.


"Bisa jemput aku di sekolah Dea. Aku tadi keluar sebentar mengantar Dea. Sewaktu kembali ban mobilku sudah bocor," adu Ressa.


"Of course, Honey. Tunggu aku sebentar, jangan kemana-mana." Ujar Tian mematikan sambungan teleponnya.


"Denis, kirim pengawal untuk Ressa. Tapi jangan sampai istri nakalku itu tau, dia akan protes. Apa bisa dalam beberapa menit ban mobil bocor di tempat. Pasti ada yang sudah mengikutinya."


"Oke, serahkan padaku. Cepat susul sana, sebelum kau gila melihat Ressa ditolong laki-laki lain." Goda Denis, suami Ressa itu mendengus.


"Hai Nona, kita bertemu lagi di sini." Sapa seorang pria yang Ressa masih sangat ingat wajahnya.


"Hai Tuan, sungguh sebuah kebetulan lagi. Semoga saja kebetulan ini bukan menjadi takdir kita!" Seru Ressa jengah, mengingat isi tulisan yang dibacanya pagi tadi.


"Dia tau alamat rumahku dan sekarang ada di sini bersamaku. Apa laki-laki ini mengikutiku," batin Ressa.


"Malah aku berharap kalau kebetulan ini akan menjadi takdir kita," ucap Jeri sambil tersenyum.


"Itu maumu, dasar pria gila." Gerutu Ressa, kemana Tian jadi lama sekali.


"Kenapa belum pulang, apa anda menunggu di sini sampai jam sekolah berakhir, Nona?" Tanya Jeri pura-pura tidak tau kalau ban mobil Ressa bocor. Itu karena dia yang melakukannya.

__ADS_1


"Oh tidak, aku sedang menunggu seseorang. Karena ban mobilku bocor." Tunjuk Ressa pada ban mobil depannya.


"Aku bisa mengantarmu pulang dengan selamat sampai tujuan, Nona." Tawar Jeri dengan senyuman manis, yang bisa menggetarkan hati perempuan. Tapi tidak untuk Ressa tentunya.


"Ah terimakasih, aku tidak terbiasa merepotkan orang lain." Jawab Ressa dengan senyuman terpaksa.


"Honey, kenapa menunggu sambil panas-panasan." Tian mengelap kening Ressa menggunakan sapu tangannya, lalu memberikan kecupan di sana.


"Kenapa lama sekali, Sayang?"


"Maaf sudah membuatmu menunggu. Siapa, Sayang?" Tanya Tian pada Ressa, padahal dia mengenal lelaki di depannya ini luar dalam.


"Ah ini Tuan Jeri, kebetulan bertemu di sini kami tidak sengaja bertemu." Jawab Ressa bergelayut manja di tangan Tian. Membuat Jeri jengah melihat pemandangan itu. Kenapa perempuan yang dia inginkan harus milik Tian.


"Senang bertemu dengan anda, Tuan Jeri." Tian mengulurkan tangannya yang disambut Jeri dengan senyuman.


"Senang bertemu dengan anda juga, Tuan..."


"Tian," sebut suami Ressa itu.


"Ya, senang bertemu dengan anda Tuan Tian," ulang Jeri dengan seulas senyum.


"Bisa kita pulang sekarang, Sayang. Kakiku pegal kebanyakan berdiri." Ucap Ressa manja, jangan sampai senyuman yang dilihatnya saat ini tiba-tiba berubah menjadi taring.


"Of course Honey. Permisi Tuan Jeri." Tatap Tian dengan penuh misteri.

__ADS_1


__ADS_2