
"Uncle sayang sama Erra, tadi cuma bercanda." Kata Tian seraya memindahkan Erra ke pangkuannya, si kecil itu sudah berhenti menangis.
"Say hello dedeknya, Honey." Ia mengeluskan tangan kanan Erra ke perut Ressa.
"Perut Tante kenapa belum besar, Mom?" Tanya Erra pada mommy-nya yang baru datang dari dapur.
"Belum waktunya, Sayang. Dedek juga perlu makan seperti Erra biar bisa membesar," jelas Hira.
"Dedek di sini makan?" Tanya Erra antusias.
"Iya, semua makhluk hidup perlu makan untuk untuk tumbuh dan berkembang. Erra paham?"
Gadis kecil itu mengangguk, "yes Mommy. Biar bisa besar seperti Erra harus makan yang banyak ya?"
Hira mengangguk membenarkan, "Erra juga harus semangat makan buah dan sayur biar sehat dan cepat besar." Tambahnya, lagi-lagi Erra mengangguk.
"Mau ikut Uncle pulang, hm?" Ajak Tian.
"No, jahat!" Desisnya yang membuat empat orang dewasa itu tergelak. Tian menciumi pipi chubby itu dengan gemas.
__ADS_1
"Tangannya masih sakit, Sayang?"
"Sedikit," jawab Erra sewot.
"Sini Uncle pijat biar sakitnya hilang," goda Tian lagi.
"No no no, sakit tau!" Ketusnya.
"Erra, ngomong sama yang lebih tua harus apa?" Tanya Erfan tegas.
"Sopan," jawab Erra lemas.
"Jadi ngomong sama Uncle harus sopan," Erfan menegaskan. Gadis kecil itu mengangguk menurut, ekspresinya sangat lucu.
"Anak pintar kesayangan Uncle ini," puji Tian lalu membawa Erra berjalan-jalan dalam gendongannya.
Ressa mengamati interaksi dua orang berbeda umur itu. Tidak dapat dipungkiri kalau Tian memang sangat penyayang. Siapapun pasti akan menyukainya.
Erfan memberikan waktu pada dua orang perempuan itu. Dia beranjak menyusul Tian dan sang puteri.
__ADS_1
"Gak nyesalkan dengan keadaan sekarang?" Ujar Hira serius, pertanyaan itu terdengar seperti tidak bersahabat. Tapi ia sunggu benar-benar peduli dengan sahabatnya ini. Hira ingin Ressa mendapatkan lelaki terbaiknya.
Istri Tian itu tersenyum lalu menggeleng, "apa akan mengubah takdir kalau gue menyesalinya Ra. Dari awal ini pilihan gue agar bisa bebas dari kehendak ibu. Gue sudah capek dengerin semua ocehan ibu."
Hira memang tau semua tentang Ressa, begitu juga sebaliknya. Mereka bersahabat sejak jaman sekolah.
"Tapi bukan dengan cara lo nyerahin diri ke Tian, Sa." Hira memeluk sahabatnya itu, dia dapat merasan tekanan yang selama ini Ressa rasakan. "Gue harap Tian benar-benar berubah dan gak mengecewakan lo, apapun yang terjadi lo masih punya gue. Jangan menghilang lagi dan menanggung semuanya sendirian."
"Semoga saja Ra, semoga gue bisa berbesar hari dengan semua masalalunya Tian." Lirih Ressa, dia sudah tidak dapat menahan diri untuk tidak menangis.
"Jalan menuju kebaikan memang tidak mudah Sa, pasti akan banyak jalan terjal yang menghalanginya. Semoga kalian bisa saling menguatkan."
Ressa mengangguk lemah, "Tian mau gue pake hijab. Tapi gue belum siap Ra."
Hira tersenyum menyeka air mata sahabatnya, "gue yakin Tian sayang banget sama lo Sa. Dia ingin lo terlindungi, pelan-pelan dicoba ya."
"Apa gue bisa jadi ibu yang baik, sedang gue gak ngerti ilmu agama sama sekali. Sholat aja masih sering bolong," curhat Ressa.
Hira kembali memeluk sahabatnya, jujur dia terharu. Ada kepingan hati yang terbuka untuk mengingat kelalaian, itulah bentuk hidayah. "Belajar pelan-pelan Sa, dari perbaiki sholat ya."
__ADS_1
Perempuan hamil itu kembali mengangguk malu.
"Selalu ada tempat untuk kembali, jangan ragu untuk menjemput hidayah. Jangan ditunda lagi." Hira mengurai pelukannya, memberikan tissue pada Ressa. Tidak lama suami mereka bergabung dan Tian mengajak Ressa pulang.