
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, Mas. Aku tidak bisa mengkhianati adik tersayangku." Ujar Aruna tulus, dia sungguh-sungguh tidak ingin menusuk Ressa dengan merebut lelaki yang dicintainya.
"Kita sama-sama gak bisa Aru, ini demi Dea. Jadikan pernikahan ini bukan hanya sekedar main-main, tapi jangan jatuh cinta padaku setelah ini." Tian mengingatkan, akan sulit mengurus istri-istrinya yang saling cemburu nanti kalau Aruna jatuh pada pesonanya.
"Iya, dan kamu jangan membuat aku jatuh cinta, Mas." Ucap Aruna sambil tersenyum untuk memecahkan suasana yang canggung.
"Tergantung kamu mengartikannya, masih ingat malam panas kita?" Tanya Tian menggoda sambil mencium pipi, membuat Aruna tersipu malu. "Menyesalkan sekarang tidak mau menikah denganku dulu." Katanya seraya membawa Aruna berbaring. Jangan dipikir miliknya tidak akan bangun lagi kalau tidak bersama Ressa. Salah, hanya hatinya yang merasa seperti sedang mengkhianati perempuan tersayangnya itu.
"Banget, apalagi saat Dea selalu menanyakan dimana Daddy-nya."
Tian mulai mencumbui Aruna. Tubuh seperti tersengat mendapatkan sentuhan yang tidak pernah dia dapatkan lagi. Dadanya berdendang semakin cepat saat Tian menyatukan bibir mereka. Bolehkah dia berharap setiap malam mendapatkan belaian hangat dari Tian.
"Jangan di tahan Aru," goda Tian nakal, dia sudah ahlinya dalam memuaskan perempuan di atas ranjang.
Suara-suara yang dikeluarkan Aruna membuat milik Tian semakin menegang. Pria itu memejamkan mata saat suara Ressa seakan menggema di telinganya."Kalau sampai kamu melakukan hubungan badan dengan perempuan lain detik itu juga kita cerai."
Tian mengembalikan pikirannya ke saat ini, "enak?" Tanyanya untuk menghilangkan Ressa yang berkeliaran di kepalanya. Tangannya semakin bermain cepat di inti milik Aruna, membuat perempuan itu semakin bergelinjang dengan suara lenguhan, tidak sempat menjawab pertanyaannya lagi.
__ADS_1
Tian mengeluarkan miliknya, dia memang masih berpakain lengkap. "Tahan ya, mungkin akan sedikit sakit karena kamu lama tidak melakukannya." Katanya saat ingin melakukan penetrasi. Perempuan itu mengangguk dengan gairah yang sudah semakin memuncak, menunggu Tian datang.
"Apa rasanya masih sama?" Goda Tian, saat Aruna berhasil mendapatkan puncaknya.
"Iyah, terimakasih Mas." Ucap Aruna tersenyum lemas.
Tian mengangguk, "kamu masih ingin punya anak dariku?"
Tian sebenarnya ingin melarang Aruna hamil, tapi itu akan sangat menyakitkan kalau dia katakan langsung. Jadi ia menggunakan trik lain.
"Enggak, aku gak mau mengkhianati Ressa, Mas."
"Aku sudah bilangkan, aku akan ikhlas. Biar aku yang berkorban untuk Ressa sekarang. Jangan perlihatkan kedekatanmu padaku di depan Ressa."
"Aku tetap akan jujur padanya Ru, walau itu akan menyakitinya sementara."
Aruna tersenyum bangga pada suaminya, "kamu memang yang terbaik dari dulu. Sana pulang, Ressa akan mencarimu kalau tau kamu tidak ada di sampingnya saat terbangun nanti."
__ADS_1
"Yakin, mau aku pulang sekarang?" Goda Tian, Aruna menggeleng pelan.
"Sini aku peluk lagi," Aruna beringsut mendekat dan masuk dalam dekapan hangat Tian. "Terimakasih sudah membesarkan anakku, pasti sangat berat membesarkan Dea sendirian." Tian menyeka keringat di kening Aruna.
"Aku bukan penjahat yang tega membunuh anak sendiri, Mas." Aruna meletakkan tangannya di dada Tian yang terhalang kaos.
"Awas tangannya, jangan bikin yang di sana bangun lagi, hm." Canda Tian, dia berusaha terus melakukan komunikasi agar tidak memikirkan Ressa yang pasti kecewa kalau tau dia sudah melakukannya dengan Aruna.
"Benarkah dia bisa bangun, aku tidak percaya." Balas Aruna menggoda Tian balik, walau mereka sudah melakukannya. Tapi suasana masih sangat canggung karena terbawa pikiran masing-masing.
"Kamu tidak sedang menggodaku kan," Tian menyentil hidung Aruna sambil tersenyum kecil. Perempuan itu menggeleng pelan, "aku sedang menggoda dia yang sudah nakal tiga belas tahun yang lalu." Aruna menyentil nakal milik Tian yang ternyata benar sudah bangun lagi.
"Dea, mommy-mu ternyata nakal," lapor Tian mencium gemas Aruna.
"Terimakasih, Mas. Aku bahagia malam ini."
"Aku akan kasih hadiah buat kamu lagi," Tian tersenyum dengan tangan yang sudah menelusup ke balik selimut. Kali ini dia melakukan tanpa bayang-bayang Ressa lagi karena terbawa suasana masalalu.
__ADS_1
Mereka akhirnya tertidur bersama setelah menyelesaikan ritual malam pertama dengan lancar. Walau sempat canggung karena rasa bersalah pada Ressa.