Aksara Cinta

Aksara Cinta
44. Syarat


__ADS_3

"Kamu mau nikah sama aku, aku akan jagain kalian." Tian menatap Ressa penuh harap, ia tidak ingin jauh dari perempuannya ini lagi dan calon anaknya.


"Aku dapat apa kalo nikah sama kamu?" Tanya Ressa lugu.


"Hei, serius kamu mempertanyakan itu. Dapat apa kalau nikah sama aku, hm." Tian tersenyum sambil seolah sedang berpikir keras. "Aku akan membuatmu keenakan setiap malam," bisiknya jahil yang mendapat pukulan keras di tangan.


"Dasar mesum! Banyakin olahraga biar gak kelebihan hormon." Omel Ressa bangun dari tidurnya, Tian dengan sikap menyandarkan kepala perempuan itu ke bahunya. Dengan tangannya yang melingkar di pingggang Ressa.


"Aku sukanya bikin keringat sama kamu, Honey." Tangan kanan Tian terulur mengelus perut Ressa. Perempuan itu tidak protes dengan suasana yang ia ciptakan.


"Aku mau nikah sama kamu dengan syarat." Ucap Ressa semakin menjatuhkan kepalanya ke dada Tian.


"Hm, ini bukan nikah kontrak kan Sa, pake syarat dan harus ada hitam di atas putih?"


"Serah aku, kan aku yang nikah. Kalau kamu gak suka, jangan sama aku nikahnya." Jawab Ressa jutek, Tian meneguk ludah kasar. Belum apa-apa dia bisa dianggap bucin akut nih. Bisa jadi suami takut istri.


"Oke-oke. Katakan kamu mau syaratnya apa yang harusku penuhi?" Ujar Tian mengalah, daripada gagal nikah.

__ADS_1


"Pertama, kamu gak boleh bawa perempuan lain ke rumah ataupun kantor. Kedua, kamu tidak boleh ada hubungan dengan perempuan manapun lagi. Ketiga, kalau sampai kamu melakukan hubungan badan dengan perempuan lain detik itu juga kita cerai."


"Aku gak mau keluargaku sampai tau kalau kamu suka main perempuan," lanjut Ressa.


Tian susah payah meneguk ludah, dia tidak bisa melarang perempuan-perempuan itu datang ke kantor, apalagi Audrey. "Honey, aku gak bisa melarang orang buat datang ke kantor."


"Pikirin aja sendiri, kalau sanggup dengan persyaratan itu kita nikah." Ujar Ressa bangkit dari kasur, melepaskan pelukan Tian. "Tapi kalau enggak, mending kamu pulang sekarang."


"Oke aku sanggup," putus Tian cepat. Jangan sampai perempuan labilnya ini berubah pikiran. Ia bakal pusing, sedang adik kecilnya sudah meronta-ronta minta dilepas.


Hanya dengan beberapa jam persiapan, akad nikah tertutup itu segera dilaksanakan. Yang menghadiri cuma ayah Ressa selain para saksi dan penghulu, ibunya tidak ikut datang.


Erfan dan Hira mendampingi Tian. Walaupun tidak rela temannya menikah dengan Tian. Tapi Hira tidak dapat berbuat apa-apa lagi.


"Tante gak kangen Erra?" Gadis kecil itu bermanja-manja di pangkuan Ressa. Semua tamu sudah pulang hanya tinggal mereka.


"Maaf tante sibuk, Sayang." Ressa mengelus bahu kiri Erra yang masih menggunakan arm sling. Dengusan keluar dari bibir kecil itu.

__ADS_1


"Erra mau tinggal sama tante di sini," katanya cemberut.


"Eee, no Honey." Tolak Tian cepat, bisa terganggu ritual yang ditunggu-tunggunya malam ini kalau Erra menginap.


"Uncle jahat!" Rajuk Erra, Hira dan Erfan membiarkan saja putrimya bertingkah seperti itu pada pengantin baru. Biar mereka tahu rasa.


"Erra gak papa kok kalau mau tinggal di sini, nanti Uncle temani." Ujar Denis mengajukan diri jadi babysitter bocah itu.


"Horeee!" Teriak Erra girang, Denis sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat Tian yang melotot padanya.


"Uncle gak sayang lagi kalau Erra gak menurut, malam ini Erra tidur sama mommy dan daddy." Tegas Tian, bibir kecil itu kembali manyun.


"Tian!" Tegur Ressa.


"Honey, nanti Erra ganggu kita." Ujar Tian memelas sambil menggeleng kecil, berbisik di telinga Ressa.


"Emang kita mau ngapain sampai Erra gangguin?" Ressa mengangkat sebelah alis membuat Tian mati kutu.

__ADS_1


__ADS_2