Aksara Cinta

Aksara Cinta
130. Rival Seumur Hidup


__ADS_3

"Sayang, bunga lagi dan cokelat dari orang yang sama." Ressa membawa sebucket bunga mawar dan cokelat dengan manyun ke hadapan Tian.


"Buat koleksi Honey, kalau banyak nanti kita jual. Lumayan buat beli martabak," canda Tian.


"Apa suamiku ini mendadak miskin setelah menikah denganku," sindir Ressa.


"Bukan miskin Sayang, sedang memanfaatkan barang yang tidak terpakai. Kan bisa dijual di situs online." Tian menarik Ressa untuk duduk di pangkuannya. Ia sedang menyelesaikan sedikit pekerjaan.


"Hari ini Dea mau jalan kemana, Sayang?" Setiap hari libur Tian memang selalu menyempatkan membawa putrinya itu jalan-jalan.


"Dea cuma mau daddy-nya gak terlalu sibuk bercinta sama mommy-nya hari ini," celetuk Ressa.


"Itu bukan keinginan Dea, Honey. Tapi keinginanmu." Tian terkekeh kecil menutup laptopnya, "baru jam sembilan Honey, masih ada waktu kalau mau main." Godanya dengan kedipan mata genit.


"No Daddy," Ressa menirukan suara Erra kecil.


"Kamu semakin menggemaskan kalau bicara seperti Erra." Tian mencubit gemas pipi Ressa, "kapan Dea mau tinggal di rumah kita?"


"Kamu yang daddy-nya. Kenapa nanya aku, Tian. Harusnya kamu yang tau banyak tentang Dea."


"Anak perempuan biasa lebih dekat dengan ibunya." Ujar Tian seraya melingkarkan tangan di pinggang Ressa.

__ADS_1


"Dia akan ikut kita kalau Aru sudah menikah dengan Denis. Asistenmu itu semakin gila, Sayang."


"Denis tidak melakukannya, Honey. Dia tidak bajingan sepertiku. Aru cinta pertamanya, jadi dia sangat menyayanginya. Dia hanya ingin menyenangkan Aru."


"Apa bedanya Tian, hanya tidak memasukkan bukan berarti tidak bajingan!" Seru Ressa tidak terima.


"Setidaknya Aru tidak akan hamil sebelum waktunya, Honey." Tian membela diri.


"Otak lelaki memang sama saja, hanya mementingkan kepuasan!" Sarkas Ressa geram.


"Itu kebutuhan Honey, mereka perlu disalurkan." Ucap Tian dengan tersenyum manis.


"Whatever!!"


"Tiaann!! Bisa-bisanya kamu membuat kesimpulan seperti itu. Setelah setiap malam puas menggagahiku!" Sarkas Ressa geram. "Tidur di luar, cari istri lagi sana!!"


"Sungguh, apa boleh aku mencari istri lagi?" Tanya Tian menggoda dengan tawa renyahnya.


"Tentu saja boleh, tapi sebelum itu akan kubuat belalaimu itu tidak berfungsi lagi!" Cetus Ressa.


"Ngeri sekali istriku ini, aku rela kamu ikat Sayang daripada kamu buat milikku tidak berfungsi lagi."

__ADS_1


"Itu mau mu..!!"


"Kita berangkat Honey, sebelum aku benar-benar memakanmu lagi." Putus Tian mengakhiri perdebatan tak berfaedahnya.


Setelah membawa Ressa pergi Tian meminta asisten rumah tangga membuang bunga-bunga yang di kirim ke rumahnya. Ia sangat yakin ada anak buat Jeri yang mengawasi di sekitarnya. Dan laporan akan langsung sampai pada rival seumur hidupnya itu.


"Lihatlah, bagaimana terhinanya dirimu nanti, ketika perempuan yang kau kejar tak melirikmu, Jeri." Gumam Tian dengan senyuman licik.


"Hei, kenapa senyum-senyum sendiri. Setan apa yang sedang merasukimu, Tian. Atau ada malaikat yang sedang menempel di tubuhmu?"


Ressa sedang menatap heran suaminya yang tersenyum tanpa sebab sambil menyetir.


"Aku tersenyum karena ada bidadari yang duduk di sampingku," gombal Tian.


"Basi Tian, rayuanmu sangat tidak bermutu. Aku tidak merasa tersanjung sedikitpun. Karena semua orang juga tau kalau aku tidak akan kalah cantik jika disandingkan dengan bidadari." Ucap Ressa dengan sombongnya.


"Apa istriku ini sedang menyombongkan diri karena dikejar laki-laki yang bernama Jeri."


Ressa mendengus kasar mendengar nama pria itu disebut-sebut.


"Aku tau kamu mengirim Agam ke kantor cabang dengan alasan rotasi kerja, agar dia tidak dekat denganku lagi, Tian. Entah apa yang sedang suamiku ini rencanakan agar manusia bernama Jeri itu menjauh dariku. Jadi aku tidak perlu khawatir dengan kejaran lelaki itu."

__ADS_1


"Istriku memang sangat cerdas!" Puji Tian dengan tawa kecil.


__ADS_2