
"Terimakasih sudah menjaga sahabatku Tian, silahkan kamu keluar. Mulai saat ini aku yang akan merawat Ressa." Hira datang membawakan sarapan untuk Ressa, karena dia tau makanan rumah sakit sungguh tidak sehat di lidah.
Tian membelalakkan mata dengan kepossesifan istri sahabatnya ini, "dia istriku Hira, wajar aku menemaninya di sini."
"Kata siapa, coba tanya Ressa apa dia masih mau kamu berada di sini?" Hira tersenyum sinis pada Tian. Sedang sang suami mengulum senyum dari depan pintu.
"Sayang, kamu masih mau aku ada di sinikan?" Tanya Tian memelas pada Ressa. Entah kenapa kalau dua perempuan ini bersatu dia seperti tidak memiliki kekuatan apa-apa.
Ressa tersenyum. Tian menghela napas lega, ada harapan dia tidak di depak dari sini.
"Bagaimana keadaanmu?" Hira memeluk Ressa, dia sungguh sangat khawatir dengan kondisi fisik dan mental sahabatnya ini.
"Sudah lebih baik." Balas Ressa setelah Hira mengurai pelukannya. Perempuan itu kembali menatap Tian dan tersenyum, "Tian, pintu keluar ada di depan. Aku tidak perlu kamu lagi di sini. Terimakasih sudah menemaniku semalam."
Apa? Dia diusir istri sendiri. Tian menggeleng pelan, "aku tidak akan keluar dari sini."
__ADS_1
"Baik, kalau itu yang kamu mau." Ressa tersenyum pada Tian lalu beralih menatap sang sahabat. "Hira tolong bantu urus administrasi dan bawa aku keluar dari sini secepatnya. Aku tidak akan kenapa-kenapa karena dokter kandungan yang bersamaku."
"Tenang saja, semua sudah aku urus, sebentar lagi kita akan keluar dari sini." Hira tersenyum penuh kemenangan. Lihat saja, dia akan menyiksa laki-laki yang sudah menyakiti sahabatnya tersayang ini.
Tian membulatkan mata, "Sayang, jangan seperti ini. Jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak mungkin tinggal di sini seumur hidup, Tian. Sedang kamu tidak ingin keluar dari sini. Aku masih ingin menghirup udara segar." Sahut Ressa santai mengambil sarapan yang dibawakan Hira. Hira dan Erfan yang mendengarnya menahan tawa.
Lagi-lagi Tian membelalakkan mata dengan jawaban istrinya. Siapa juga yang ingin menahan Ressa tinggal di rumah sakit.
"Pulang sama aku ya, Sayang." Bujuk Tian, dia tidak perlu menanggapi ucapan ngawur Ressa barusan.
"Nanti aku bawa Dea ke rumah biar kamu gak kesepian lagi." Ujar Tian sambil menahan perutnya yang kriuk-kriuk melihat Ressa sangat menikmati makannya. Ia sejak sore kemaren belum ada makan apa-apa, selain memakan Aruna.
"Itu anak kamu, bukan anakku. Aku tidak berminat mengganggu hidup kalian."
__ADS_1
"Tapi Erra juga bukan anak kamu, Sayang."
"Terserah aku, suka-suka aku. Hidup-hidupku, kenapa kamu yang repot, Tian."
"Karena aku suamimu, aku berhak atasmu Ressa." Suara Tian sudah meninggi karena kesal dipermainkan Ressa.
"Ya sudah, ceraikan saja aku. Mudah bukan? Jadi aku tidak perlu meminta kamu berung kali untuk menceraikanku."
Oh Tuhan, kepala Tian rasanya ingin meledak saat ini.
"Erfan, bawa istrimu keluar, sekarang. Aku tidak ingin dia ikut campur dengan masalah rumah tanggaku!" Teriak Tian kesal.
Hira maju mendekati Tian dengan tersenyum miring.
"Kamu tidak berhak melarangku ada di sini, Tian. Berapa kali kamu sudah menyakiti Ressa, hah. Kamu menghamili Audrey, bermain dengan banyak perempuan, dan sekarang membawa Aruna dan Dea masuk ke kehidupanmu. Apa kamu merasa masih pantas menjadi suami Ressa, setelah membuat anakmu pergi!" Murka Hira, dia sudah tidak tahan untuk tidak meluapkan segala amarahnya.
__ADS_1
"Sweety," Erfan langsung memeluk istrinya yang sudah mengeluarkan suara beroktaf-oktaf lebih tinggi.
"Kamu benar Hira, aku memang tidak pantas untuk Ressa." Ucap Tian lemas keluar dari ruangan itu. Membujuk Ressa saja dia belum berhasil, sekarang malah Hira datang menyerangnya.