
"Perbaiki laporan kemaren, ditunggu satu jam lagi untuk meeting! Kamu bisa ngitungkan? Kalau enggak mending balik ke TK!" Sarkas Tian.
Denis geleng-geleng kepala melihat kelakuan bosnya mengerjai sang sekretaris. Entah ada dendam apa diantara mereka yang ia tidak ketahui.
Ressa mengambil laporan itu tanpa ekspresi. Ia ingin mencakar-cakar wajah Tian sekarang juga sampai wajah tampan itu tak berbentuk lagi.
"Eh, lo kenapa pagi-pagi sudah loyo." Amel menegakkan tubuh Ressa yang lunglai di kursi sambil menatap kertas yang sudah berulang kali dia perbaiki aksaranya.
"Bos gila ngerjain gue," desisnya kesal sambil *******-***** kertas yang ada di tangannya lalu melemparkan ke arah ruangan Tian. Kalau manusia satu itu ingin mengajak perang dia akan jabanin.
"Ressa!" Panggil Tian.
"Apa, hah. Mau marah!" Ressa mengambil gumpalan kertas di depan pintu tadi lalu melemparkannya ke arah Tian.
Denis mengulum senyum mentertawakan bosnya. Baru pernah menyaksikan aksi sekretaris mengamuk pada bos. Tian menyorot tajam sang asisten.
"Hei, kenapa marah-marah!" Ia menangkap gumpalan kertas sebelum mengenai wajah tampannya. "Denis keluar, tutup pintu. Jangan ada yang boleh masuk!" Titah Tian.
"Capek tau, kamu ngerjain aku!" Ressa memukul-mukul dada Tian. Dia benar-benar lelah diperlakukan Tian seperti ini. Jangan harap dia akan diam menerima semua apa yang bosnya ini lakukan.
"Aku bos di sini. Jadi terserah aku." Tian tersenyum smirk, menangkap tangan Ressa lalu menahannya dipelukan.
"Aku benci kamu Tian, aku benci!"
"Sstt, jangan terlalu benci, nanti jatuh cinta." Tian membawa Ressa ke pinggir jendela, "baru satu hari sudah nyerah!" Ejeknya sambil tertawa penuh kemenangan.
__ADS_1
"Kamu curang!"
"Aku gak ngapa-ngapain, dimana curangnya, hm." Tian semakin menggoda, dia suka melihat wajah merengut Ressa.
"Ini, kamu peluk aku. Kamu curang menaklukkanku dengan cara seperti ini."
Tian ingin tertawa gelak dengan tingkah konyol perempuan dalam pelukannya ini. Sudah tau diperdaya tapi masih menikmati.
"Ini hadiah," Tian menekan kepala Ressa agar berlabuh di dada bidangnya.
"Jangan curang lagi, aku mau kerja seperti biasanya. Aku butuh uang buat bertahan hidup. Aku bukan kamu yang bisa ngelakuin apapun dengan uang yang kamu punya."
"Makanya harus nurut, jangan suka membangkang. Oke."
"Kamu ini nurutnya sebentar aja, nanti membangkang lagi. Aku gak suka!"
"Gak usah diperbaiki lagi ya laporannya," Ressa mengerlingkan manja.
"No, harus perbaiki lagi. Sana keluar, sebelum dapat hukuman dariku." Tian mengecup kening Ressa sebelum mengurai pelukannya.
"Ih, masih aja jahat!"
"Aku gak bisa disogok dengan pelukan Ressa!" Gumam Tian dengan tersenyum licik sebelum mencuri satu kecupan lagi di pipi.
Lihatlah mood perempuan itu sudah lebih baik, walau masih mencak-mencak keluar dari ruangan. Tian menggeleng pelan.
__ADS_1
"Sebenarnya kalian ada hubungan apa?" Tanya Denis penasaran, setelah sekretaris Tian itu keluar.
"Rumit. Perempuan yang selalu membuatnya rumit. Mau tapi malu." Tian kembali ke meja menatap layar laptopnya.
"Kisah yang belum selesai?" Ujar Denis tertarik dengan penjelasan bosnya.
"Kisah yang belum dimulai tapi sudah harus berakhir, Denis."
"Menyedihkan!" Denis tertawa gelak, "seorang casanova yang gagal memikat wanitanya."
"Aku ingin mengikatnya dengan pernikahan, tapi dia menolak."
"Tian, Tian. Perempuan mana yang mau dijadikan persinggahan. Mereka para perempuan butuh kepastian. Lo dengan track record sekarang. Lo pikir ada perempuan yang tidak khawatir."
"Setelah mendapatkan Ressa gue akan berhenti, Denis!"
"Buktikan saja, wanita butuh bukti bukan janji. Ini bukan pilpres"
Tian mendelik, "sekarang lo sedang jadi asisten Denis, bukan penasehat! Jangan banyak bicara." Katanya dengan dengusan, sadar asistennya sudah bicara terlalu jauh memancing hal pribadinya.
"Harusnya gaji gue dua kali lipat, selain asisten gue juga penasehat." Denis semakin tertawa penuh kemenangan.
"Keluar Denis!" Usir Tian.
"Dengan senang hati Tuan," Denis mengerlingkan mata. Lalu pergi masih dengan tawanya.
__ADS_1