
“Daddy!!” Panggil Deandra pada sang ayah yang sedang memangku laptop di ruang tengah sambil menemani ibunya menonton televisi.
“Yes Honey,” Tian meletakkan laptop ke meja mengulurkan tangan pada putrinya yang berjalan mendekat. “Ada apa Sayang?”
Dea menyambut tangan itu dan duduk manja di pangkuan Tian. Ressa yang sedang memangku Rain tersenyum kecil. Putrinya itu juga minta dimanja.
“Cuma lagi kangen Daddy,” jawab gadis remaja itu. Dengan wajah yang sudah bisa Tian tebak apa yang sedang putrinya itu pikirkan.
“Dea lagi kangen Daddy apa lagi kangen seseorang?” tanya Tian seraya mengusap punggung anak gadisnya.
Deandra hanya tersenyum simpul, tanpa diceritakanpun sang ayah sudah mengerti isi hatinya. “Kangen,” gumamnya lagi tanpa memperjelas untuk siapa.
“Mau apa biar kangennya hilang, hm.” Tian menatap lembut netra Deandra. Dia tidak ingin menghakimi putrinya ini lagi, karena itu akan membuat Dea semakin terluka.
“Gini aja sudah cukup,” jawab Dea sendu membenamkan wajahnya di bahu Tian.
Ressa ikut mengusap belakang kepala Deandra, ini masanya mereka untuk menguatkan hati Dea agar tidak semakin patah.
“Jangan merasa sendirian Sayang, ada Daddy di sini yang menemani Dea melalui semua ini.” Bisik Tian lembut, saat melihat Dea seperti ini ia jadi dilema. Haruskah dua memaafkan Azmi dan membiarkan putrinya meneruskan perasaan pada pria dewasa itu.
“Dea bisa Daddy. Cuma lagi kangen aja," ucapnya yakin.
"Ada yang lagi manja nih," Denis langsung mengecup belakang kepala Dea yang berada dipelukan Tian.
"Daddy Denis bawakan Dea apa?" Tanya Dea ceria, mommy-nya ada di sana. Dia tidak boleh menampakkan wajah sedihnya.
"Daddy cuma bawa diri," sahut Denis sambil tertawa meminta Dea agar berpindah padanya.
__ADS_1
"Iiiihhh Daddy," gadis itu berdecak turun dari pangkuan Tian berpindah pada ayah sambungnya.
Tian menghela napas pelan melihat putrinya yang secepat itu merubah ekspresi wajah.
"Kamu gak ngomong mau dibelikan apa," Denis menarik Dea untuk duduk di sampingnya.
"Daddy gak peka!!"
"Ulu-ulu, ngambek nih. Putri Daddy bisa ngambek juga?" Goda Denis.
"Enggak, Dea gak bisa ngambek!!" Sahutnya ketus.
Denis terkekeh geli mengulurkan tangan pada Aruna. "Daddy gak bawa apa-apa buat Dea. Cuma ini, titipan dari kakek."
Lelaki itu membuka kotak merah yang diberikan sang istri padanya. Mengeluarkan kalung berlian yang terlihat simple dan elegan. Tapi jangan ditanya harganya.
Dea membulatkan mata, "Dea gak berani pake itu Daddy pasti harganya mahal," tolaknya.
"Pakai Sayang, itu hadiah dari Kakek buat Dea." Aruna ikut membujuk putrinya.
"Percaya sama Daddy, kalung ini sama seperti kalung yang dijual di pasar Sayang." Ujar Denis memasangkan kalung itu ke leher Deandra.
"Kakek mau ketemu kamu, kapan Dea bisa ikut ke rumah Kakek."
Dea menoleh ke arah ayahnya, suami Ressa itu mengangguk sebagai isyarat memberikan izin.
"Kalau Daddy ke rumah Kakek, nanti Dea ikut." Putus Deandra.
__ADS_1
"Kakek pasti senang mendengarnya," Denis menepuk puncak kepala Dea dengan lembut diikuti senyuman hangatnya.
"Sekarang Dea tidur Sayang, Daddy antar ke kamar." Tian mengulurkan tangan pada putrinya.
"Gendong," canda Dea seraya menyambut tangan sang Daddy.
"Udah besar masih minta gendong," Tian merangkul gemas putrinya ke kamar.
"Sekarang Dea di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangimu. Daddy berharap Dea bisa melupakan Om Azmi." Tian menggenggam tangan Deandra setelah sampai di kamar.
"Dea usahakan Daddy," jawab Dea sambil tersenyum.
"Maafkan Daddy Sayang," Tian mengecup puncak kepala Deandra. Lalu membaringkan dan menyelimuti putrinya itu.
"Daddy gak salah, sudah seharusnya Dea melupakan orang yang sudah membuat Daddy susah." Ucap Dea sambil membelai pipi sang ayah.
Tian tersenyum, menemani putrinya sampai tertidur. Setelahnya ia kembali ke kamar. Lelaki itu menatap nanar keluar jendela memikirkan putrinya yang semakin dewasa.
Ressa memeluk sang suami dari belakang setelah menidurkan putranya.
“Kita tidak tau bagaimana dunia ini berputarkan Sayang. Kadang kita diuji dengan hal yang sulit, kadang juga dengan kebahagiaan. Semua silih berganti. Apakah kebencian itu juga bisa berganti jadi memaafkan, demi putri kita.” Ucap Ressa sangat lembut.
“Dea masih sangat muda, aku tidak bisa melepaskannya untuk orang yang sudah membuat masalah denganku. Biar aku menyembuhkan Dea dengan caraku sendiri Sayang.” Tian mengusap-usap tangan yang melingkar di pinggangnya.
“Apapun yang menurutmu baik, aku akan selalu mendukung. Kita akan sama-sama menyembuhkan Dea.”
“Thanks Honey,” Tian menempelkan kedua punggung tangan Ressa ke bibirnya.
__ADS_1
“Dea pasti bangga punya Daddy sepertimu,” gumam Ressa. Tian memutar tubuhnya jadi berhadapan dengan sang istri.
“Dan aku bangga punya istri sepertimu, tanpa kamu aku gak akan bisa seperti ini Sayang.” Tian menempelkan tubuhnya, mereka saling berpelukan. "Terimakasih sudah mengajarkanku banyak hal di dunia ini."