
"Honey, sudah bangun?" Sapa Tian saat pintu kamar terbuka. Ia merentangkan tangan sebagai isyarat agar Ressa mendekat.
Perempuan itu berjalan sangat pelan, seperti orang yang sedang mengendap-endap membuat Tian gemas. "Honey, jangan menggodaku seperti itu. Rasanya aku ingin mengejar dan segera memakanmu saat ini juga."
Ressa tertawa gelak saat sudah sampai di pangkuan Tian. Perempuan ini selalu bisa membuat Tian jatuh cinta dengan celotehan, bahkan tingkah yang kadang absurd. Tawa itu membuat hati Tian terasa adem.
"Mamanya dedek kenapa jadi punya tingkah begitu, hm." Tian sangat suka menempelkan pipinya di pipi Ressa dengan satu tangan membelai lembut di bagian kepala. Memperlakukan istrinya itu persis seperti anak kecil.
"Lagi mau ngajak papa main," Ressa tersenyum berbinar.
"Papa sukanya main di kasur, Sayang." Bisik Tian.
"Mesum, mesum, mesum ih!" Ressa mencubit pelan tangan Tian yang berada di perutnya.
"Tadi ada siapa yang masuk ke sini, hm?" Tian melirik pada dokumen yang ada di meja. Ressa mengikuti arah tatapan suaminya. Ingin berbohong tidak bisa, pasti Tian sudah tau makanya pertanyaannya seperti itu.
"Zeni, jangan diambil hati." Ressa menepuk pipi kiri Tian dengan lembut. Seakan dia tau kalau suaminya itu sedang ingin memangsa musuh.
"Aku beneran gak suka ada merendahkan milikku. Aku berusaha menjaganya dengan baik, tapi ada orang lain yang dengan sesuka hati menyakitinya."
__ADS_1
"Hei aku gak kenapa-kenapa, Sayang. Kenapa suka emosi banget sih sekarang, apa karena tadi malam gak dapat jatah, hm." Goda Ressa, mengalihkan perhatian Tian.
"Sejak kamu tinggalkan, aku sudah terbiasa puasa, Honey. Aku selesain kerjaan dulu baru kita pulang, mampir ke tempat Erra. Kalau kamu masih di sini kayaknya bukan otakku yang kerja, tapi belalaiku yang ingin bekerja keras untuk memuaskanmu."
Ressa membulatkan mata dengan perkataan panjang yang Tian ucapkan. Kalimat itu cukup membuat pipinya bersemu merah lagi.
"Kamu suka banget bikin aku malu ya, kalimat keramat seperti itu gak perlu diulang-ulang. Malu-maluin tau," omel Ressa.
"Malu-maluin apa mau-mauin, hm. Aku bisa muasin kamu sekarang kalau lagi kepengen, Honey." Tian semakin menggoda, Ressa menggeleng cepat kemudian kabur dari pangkuan Tian. Suaminya ini sangat berbahaya, membuatnya cenat-cenut saja.
Tian tertawa gelak, ia tidak mengejar Ressa. Kalau dikejar sudah dapat dipastikan kepala bawahnya yang akan bekerja keras untuk membahagiakan istri tersayangnya itu. Bersama Ressa hari-harinya akan jadi lebih berwarna.
"Hai Honey, nice to meet you." Tian berjongkok merentangkan tangan, tapi gadis itu melengos masuk ke dalam rumah.
"Yah kok pergi," ucap Tian kecewa. Ressa menahan tawa, melihat tingkah anak kecil yang masih merajuk.
"Kok Unclenya dicueki?" Tanya Hira yang menyusul ke luar.
"Uncle Tian jahat, udah gak sayang Erra. Erra gak mau dekat-dekat lagi." Ujarnya cemberut, Hira mengulum senyum membawa tamunya masuk. Lalu ia beranjak ke dapur membuatkan minuman.
__ADS_1
"Katanya sudah maafin Uncle Tian, kok masih marah?" Ujar Erfan yang baru ikut bergabung, gadis kecil itu langsung naik ke pangkuan sang daddy tanpa mempedulikan Tian yang terus menggodanya.
"Sama tante juga marah?" Tanya Ressa lugu sambil mengelus perutnya untuk memancing gadis kecil itu. "Dedek kangen katanya."
Erra menggeleng, "enggak, Erra sayang Tante Ressa. Tapi gak mau dekat sama Uncle Tian. Uncle pergi aja ngapain dekat-dekat tante terus," usirnya.
"Erra sudah gak sayang Uncle lagi. Jadi Uncle sayangnya sama tantemu aja." Goda Tian dengan mengecup pipi Ressa yang membuat Erra semakin marah.
"Jangan cium-cium tante, Uncle bau!" Teriak Erra kesal.
"Tantemu suka kok, nih lihat!" Tian semakin menjadi memeluk dan menciumi pipi Ressa, membuat Erra menangis histeris karena marah. Lelaki itu tertawa gelak, ekspresi Erra sangat menggemaskan.
"Tian, udah jangan godain Erra lagi." Tegur Ressa, ia merentangkan tangan pada gadis kecil itu, "sini sama Tante, Sayang."
Erra cepat turun dari pangkuan Erfan berpindah pada Ressa. "Uncle nakal ya, biar Tante cubit ya."
Gadis kecil itu mengangguk. Ressa mencubit pinggang Tian agar berhenti tertawa.
"Sakit Sa," ringis Tian dengan sangat terpaksa menghentikan tawanya.
__ADS_1