Aksara Cinta

Aksara Cinta
220. Bonchap 3


__ADS_3

"Honey," Tian memeluk Ressa dari belakang. Waktunya bersama sang istri berkurang saat Rain mulai besar. Anak bayi itu tidak suka kalau sang daddy mendekati mommy-nya.


"Oeek... Oeekkk..." Baby boy yang berada dalam box bayi itu menangis nyaring, menghentikan kesenangan Tian.


Pria itu medesah berat, "bangun lagi. Pelit banget sama Mommy-nya. Massa Daddy gak boleh manja-manja juga sama Mommy," gumam Tian kesal.


Ressa tertawa geli mendengar curhatan sang suami. Ia melepaskan tangan Tian dari pinggang, mendekati box bayi. Baby boy itu langsung berhenti menangis.


Tian memelototkan mata pada putranya yang baru berumur enam bulan. "Kamu ngerjain Daddy ya! Mau Daddy gigit-gigit di pipi, geramnya gemas.


"Maass, ngalah sama anaknya dong. Masa bayi diajak berantem," Tegur Ressa sambil tertawa mengangkat Rain dari box.


"Aku cuma mau manja-manja, Sayang." Rengek Tian mendusel-dusel bahu Ressa. Rain menendang-nendangkan kaki, mengisyaratkan agar Tian tidak mengganggu mommy-nya.


"Pelit banget. Daddy carikan Mommy baru, tau rasa," ucap Tian semakin kesal.


Ressa memelotkan mata, "sana manja-manjanya sama istri baru aja!!" Sarkasnya ikutan jengkel.


"Honey, cuma bercanda." Tian meringis memeluk Ressa yang menggendong putranya dari belakang.


"Jangan dekat-dekat, sana pergi gih!!" Usir Ressa.


Tian menggeleng pelan, "jangan ngambek. Cuma bercanda, Honey." Ucapnya memelas seraya menepuk-nepuk Rain yang menendang-nendangkan kaki.

__ADS_1


"Istriku cuma satu, gak mau yang lain lagi." Katanya mengecup Ressa di pipi.


"Dikit-dikit mau istri baru. Jaga tuh Rain sendiri!" Ressa meletakkan putranya di box lalu keluar dari kamar. Baby boy itu langsung menangis kencang ditinggalkan sang mommy.


Tian menggaruk kepala,  beneran ngambek." Gumamnya pelan, mengangkat si boy kamar agar berhenti menangis.


"Sayang, berhenti nangisnya." Bujuk Tian sambil menimang-nimang putranya, seraya berjalan bolak-balik di kamar.


"Kenapa gak berhenti nangisnya Sayang, kamu lapar." Tian memberikan susu dalam dot sambil menepuk-nepuk paha si boy. Sampai anak lelaki itu tertidur. Istrinya masih belum kembali ke kamar.


"Tidur yang nyenyak boy, jangan ganggu Daddy pacaran sama mommy lagi, oke." Tian meletakkan putranya dalam box bayi. Ia mendatangi Ressa yang pasti ada di kamar Deandra.


"Honey," panggil Tian masuk ke kamar sang putri.


Tian tidak percaya begitu saja, menyingkap selimut Ressa dan menggelitikinya.


"Jangan coba-coba berbohong sama Daddy, Sayang." Tian mendelik pada putrinya, Deandra hanya menyengir lebar.


Ressa berguling-guling menghindari gelitikan Tian sambil tertawa.


"Nakal ya, hm." Tian menangkap Ressa lalu mengangkatnya ke kamar.


Dea menggeleng pelan melihat tingkah kedua orang tuanya itu. Sesuka hati bermesraan dimana saja.

__ADS_1


"Maass, turuniiinn!!" Pekik Ressa nyaring.


"Jangan berteriak Sayang, nanti si boy bangun lagi." Tian menutup pintu dengan sebelah kakinya.


"Aku lagi ngambek, Sayang." Ressa mengalungkan tangan di leher sang suami.


"Kalau ngambekmu seperti aku rela kok." Lelaki itu menurunkan istrinya dengan perlahan ke tempat tidur di kamar si boy.


"Sayang, nanti Rain bangun gak denger loh." Ujar Ressa mencari-cari alasan untuk menghindar.


"Biar aja dia nangis kalau bangun. Aku gak mau diganggu lagi," ucp Tian seperti anak kecil.


"Ngalahin anak kecil deh. Ini ranjangnya sempit Sayang," protes Ressa.


"Biar lebih romantis Honey, gak papa kita dempet-dempetan." Sahut Tian asal, menciumi istrinya di perut tanpa berhenti.


"Aku gak bisa napas Sayang!!" Pekik Ressa.


"Masih belum mati Sayang. Nih masih bergerak perutnya," Tian terkekeh geli.


"Maaass, rese ih!!" Kesal Ressa mencubit pinggang Tian sekuat tenaga.


"Honey, jangan keluarin jari kepiting. Sakit tau!!" Tian terpaksa berhenti mengusili sang istri mengusap-usap pinggangnya yang terasa pedas.

__ADS_1


"Biarin, habisnya nakal!"


__ADS_2