Aksara Cinta

Aksara Cinta
09. Audrey


__ADS_3

"Tiannya ada?" Tanya seorang perempuan cantik dalam balutan dress kuning selutut. Dengan rambut bergelombang yang menggantung indah. Riasan natural dan bibir pink yang memikat. Walaupun seorang model, Audrey lebih suka menggunakan make up tipis kalau tidak sedang bekerja.


Ressa seperti pernah bertemu namun lupa dimana.


"Ada di dalam," jawab Ressa ramah mengantarkan tamunya masuk. Setelah memberitahukan kepada sang bos dari sambungan telepon.


"Pesankan mocca float dua Sa," pinta Tian dengan tatapan datar. Ia sedang malas mengganggu Ressa. Kalau sekretarisnya itu beneran nekat berhenti kerja dia jadi repot sendiri. Repot tidak bisa menyegarkan mata dengan melihat Ressa sepanjang hari.


"Siap bos," jawab Ressa dengan anggukan, kemudian menelpon kantin untuk membuatkan pesanan sang bos.


"Kenapa datang ke sini? Aku bisa ke apartemen kamu nanti malam," tanya Tian lembut.


Perempuan itu tanpa segan duduk di meja setelah menggeser laptop. Kakinya dengan sengaja menjepit kedua paha Tian.


"Aku kangen, kamu gak nemuin aku tadi malam." Jawab Audrey cemberut.


"Aku baru di perusahaan ini, gak enak kalau ada yang lihat kamu gini." Tian mengelus-elus kaki jenjang yang Audrey mainkan dengan sengaja sampai mengenai adik kecilnya. Ia membiarkan saja, sepertinya mood perempuan ini sedang tidak baik.

__ADS_1


"Kita duduk di sofa yuk." Bujuk Tian mengulurkan tangan. Audrey menolak dengan gelengan kepala.


Ia tau apa yang diinginkan perempuan ini, baru satu malam tidak dia puaskan sudah merengek seperti ini. Tian membawa Audrey duduk di pangkuannya.


"Permisi," ucap Ressa dari depan pintu. Setelah mendapat izin untuk masuk ia meletakkan minuman di atas meja. Seolah tidak melihat apapun diantara dua orang itu.


Tian berharap Ressa cemburu, namun ekspresi perempuan itu biasa saja.


"Ayo kita minum dulu," berusaha menghindari Audrey. Adik kecilnya sudah kepanasan ingin jalan-jalan keluar.


Tian memejamkan mata, tubuhnya menegang karena sentuhan Audrey. Tidak tahan ia menuruti keinginan Audrey, melepaskan lahar panasnya dengan cepat. Sampai perempuan yang duduk dalam pangkuannya berulang kali mendesah manja dan bergelinjang hebat.


"Habis ini pulang ya, aku masih banyak kerjaan. Nanti aku ke apartemen." Tian memeluk tubuh Audrey yang lemas. Dari sekian banyak perempuan, hanya Audrey partner ranjang yang diperlakukannya dengan istimewa. Yang lain hanya sekali pakai ia tinggalkan.


"Janji?"


"Iya," Tian tersenyum mengecup kening Audrey. Dia suka Audrey yang merengek manja dan tidak malu untuk meminta lebih dulu.

__ADS_1


Setelah berasa cukup istirahatnya, Tian membawa Audrey duduk di sofa.


"Aku masih banyak kerjaan, banyak yang harus aku pelajari di perusahaan ini. Kamu pulang dulu."


Bujuk Tian, kaum wanita hobinya mengganggu kaum pria saja. Kalau ada Audrey di sini, adik kecilnya tidak akan bisa tidur dengan tenang. Pekerjaannya akan terganggu.


Audrey mencebikkan bibir, "iya-iya aku pulang. Kamu gak suka banget aku ada di sini."


Tian terkekeh kecil, tangannya mengusap lembut pipi Audrey. "Bukan gak suka, kerjaanku emang lagi banyak. Kenapa sih cemberut aja, masih pengen lagi, hm."


Audrey mengangguk cepat, Tian benar-benar tidak mengerti dengan Audrey yang selalu haus sentuhan. Itulah kenapa Tian sangat menyayangi partner ranjangnya ini. Audrey mampu mengimbangi dan memuaskannya. Seminggu minggu terakhir ini hanya Audrey teman mainnya.


Ia menepuk paha, mengisyaratkan Audrey untuk berpindah ke pangkuannya. Tian mengulang aktivitasnya dengan cepat. Dinginnya AC tidak mampu meredakan panas dari penyatuan mereka, walau masih menggunakan pakain lengkap. Keringat lagi-lagi mengalir deras di tubuhnya.


"Sekarang pulang ya, pagi-pagi sudah minta dua kali." Kekeh Tian, mengecup seluruh wajah Audrey.


Tian mengguyur tubuhnya di kamar mandi setelah berhasil membuat Audrey pulang. Ia tidak terlalu memusingkan Ressa yang pasti tau apa yang sudah mereka lakukan tadi.

__ADS_1


__ADS_2