Aksara Cinta

Aksara Cinta
143. Pencarian


__ADS_3

Pembicaraan serius itu berakhir dengan perdebatan matematika sederhana yang sama sekali tidak sederhana. Hanya warung sederhana yang sederhana.


Dering ponsel Erfan mengalihkan perhatian kedua pria itu. "Hira," gumamnya seraya menggeser tombol hijau di layar.


"Yes Sweety, ada apa?" Jawab Erfan setelah mengucapkan salam.


"Ressa Bee, Ressa!!" Ucap Hira panik dari seberang telepon.


"Ressa kenapa, Sayang. Tenang dulu, cerita pelan-pelan." Erfan melirik Tian yang menunggu penjelasan lebih ketika nama istrinya disebutkan.


"Ressa gak tau kemana Bee, tasnya ada di mobil. Aku sudah cari ke sekeliling taman tapi gak ada juga. Tadi dia ke mobil ngambil minum Erra. Botolnya jatuh di tanah, tapi orangnya gak ada." Jelas Hira dengan satu tarikan napas, yang mendengar pun ikut menahan napas.


"Tunggu di mobil Sayang, jangan kemana-mana. Jangan buka mobil sebelum Mas datang," perintah Erfan memasukkan ponsel ke saku jas tanpa mematikan sambungan telepon. Ia memasang headset bluetooth ke telinga.


"Ressa kenapa?" Tanya Tian cemas saat nama istrinya disebut-sebut.

__ADS_1


"Prediksi gue diculik. Astaga, pengawal lo kemana?" Ucap Erfan frustasi, mereka setengah berlari meninggalkan ruangan.


"Gak bawa pengawal, karena Ressa sama gue." Sahutnya seraya menghubungi orang-orangnya untuk mencari keberadaan Ressa dan meminta Denis untuk menyusulnya ke taman.


Letak taman itu tidak jauh dari kantor Extnet, hanya membutuhkan waktu lima menit mereka sudah sampai di sana. Mereka langsung mencari letak parkir mobil Erfan yang dibawa istrinya.


"Sweety," Erfan mengetuk pintu mobil. Hira langsung menghambur ke pelukan suaminya setelah membuka pintu.


"Ressa hilang Bee, Ressa hilang." Isak tangis Hira pecah saat itu juga.


"Uncle, Tante Ressa hilang." Erra ikut-ikutan menangis ketakutan karena melihat mommy-nya menangis.


"Ayo kita cari tante, Sayang." Tian berjalan-jalan di sekitar taman diikuti asistennya. "Denis ambil botol itu periksa sidik jarinya, semoga ada petunjuk di sana."


Area sekitar taman dan daerah terdekat sedang dilakukan pencarian. Tian masih bersikap tenang meski hatinya sedang kalut luar biasa. Ia memperhatikan Denis memasang sarung tangan mengambil dua botol itu dan menyimpannya.

__ADS_1


"Uncle Denis ngapain?" Tanya Erra penasaran dengan apa yang dilakukan orang dewasa itu.


"Ini, untuk nyari Tante Ressa, Honey." Jawab Denis seraya menanggalkan sarung tangannya.


"Cari Tante Ressa bisa pake botol?" Gadis kecil itu berdecak kagum. "Tante gak dimasukin jin dalam botol itu kan, Uncle?"


Denis dan Tian terkekeh geli mendengar pertanyaan nyeleh bocah itu.


"Kalau yang suka masukin Tante Ressa itu jin miliknya uncle Tian, Honey." Denis mengerling jahil, tiba-tiba mendapat ketukan di belakang kepala. Lelaki itu memutar kepala, mendapat pelototan tajam dari Hira. Si empunya langsung menyengir tanpa dosa.


"Uncle Tian punya jin? Erra takut, takut. Mau turun!" Teriaknya dramatis beringsut turun dari gendongan Tian.


"Mulut, mau di jahit!" Sarkas Tian menjitak kepala Denis. Erra kecil berlari memeluk kaki Erfan.


"Daddy! Uncle Tian punya jin, Erra gak mau ikut uncle lagi." Teriaknya minta di gendong. Erfan tersenyum mengangkat putrinya lalu berkata, "gak ada jin, Sayang. Uncle Denis cuma bercanda."

__ADS_1


"Kita kembali ke kantor, cukup mereka yang berpencar mencari Ressa." Putus Erfan, yang disetujui keduanya. Mereka akhirnya kembali ke kantor Extnet.


__ADS_2