
Setelah Jeri pergi Dea menatap Tian heran, ada masalah apa diantara orang dewasa itu.
"Daddy gak ada yang mau dijelasin sama Dea, kalian ada masalah apa?" Putri Tian itu menatap sang ayah minta diberikan penjelasan. Tapi Tian justru tidak memberikan tanggapan apapun.
"Buba!" Tekan Dea saat sang ayah tidak mau buka suara. Ressa meringis ditatap putri sambungnya itu. Ia saja tidak tau apa masalah Tian dengan Jeri. Suaminya itu belum mau bercerita.
"Dea, ikut Daddy Denis Sayang." Denis mengajak semua orang keluar ruangan, cukup Ressa yang menenangkan Tian. Ia tau sahabatnya itu masih belum bisa berdamai dengan masalalu.
"No!!" Tolak Dea, "kenapa sih orang dewasa itu sangat rumit untuk dimengerti!!" Sarkasnya geram.
Gadis itu membanting pintu dengan kasar keluar lebih dulu, padahal tadi menolak diajak pergi dari ruangan. Denis menggelen pelan, "itukah bakat terpendam calon putriku?" Bisiknya di telinga Aruna, yang sontak mendapat pelototan tajam.
"Ada apa dengan Dea, kenapa akhir-akhir ini suka bersikap kasar?" Gumam Ressa pelan. Tian menghela napas panjang mengecup samping kepala Ressa berkali-kali.
"Kenapa Kak Dea marah-marah Mom?" Tanya Erra yang sedari tadi bingung dengan ekspresi orang-orang dewasa itu. Tadi ketawa, terus diam eh sekarang ada yang marah-marah.
__ADS_1
"Kita main di luar Sayang," ajak Hira membawa Erra keluar ruangan yang diikuti suaminya.
"Apa kakek dan neneknya Dea masih ada?" Tanya Ressa lembut, setelah semua orang pergi. Tian menjawab dengan gelengan kepala.
"Belum mau cerita sekarang, seperti apa masalalu yang sangat kamu benci itu." Ressa menepuk-nepuk tangan Tian, "aku susah ngomong. Kalau kamu gak mau jawab, gak papa. Aku tiduran aja, di sini." Katanya manja menyenderkan kepala di dada Tian.
"Nanti aja ceritanya, kita pacaran dulu." Tian melingkarkan tangannya di pinggang Ressa, perempuan itu mengangguk pelan.
Memaksa Tian bercerita itu sama seperti mengorek luka lama yang sudah sudah payah suaminya tutup agar tidak menimbulkan rasa sakit.
"Nanti dia berhenti sendiri marahnya, mungkin sedang cemburu sama aku atau sama Denis. Beberapa hari ini kan kami sibuk, jadi jarang main sama dia."
"Dibujuk, jangan dibiarin nanti makin ngambek."
"Nanti aja, aku masih pengen sama kamu Sayang. Nggak ngerti banget suami lagi kangen," ucap Tian yang masih ingin bermanja-manja dengan Ressa.
__ADS_1
Sedang di luar Denis mengejar Dea yang pergi menggunakan taksi. Gadis itu pulang ke rumah sendirian lalu mengemasi barang-barangnya.
"Dea kenapa Sayang?" Denis memeluk Dea dari belakang, "kalau Daddy ada salah, Daddy minta maaf."
"Daddy Denis gak salah!!" Sahutnya ketus.
Denis tersenyum, mengerlingkan nata pada Aruna yang berdiri di tengah-tengah pintu kamar. "Kalau gak marah, kenapa harus masukin baju dalam koper?" Denis memutar tubuh Dea agar menghadap ke arahnya.
"Aku benci kalian yang suka sekali punya rahasia!" Tukasnya.
Denis membawa Dea duduk di sisi tempat tidur lalu memeluknya dari samping. "Bukan rahasia Sayang, kadang ada orang yang menutup rapat masalalunya agar bisa melupakan kejadian yang menyakitkan. Mereka perlu waktu untuk bisa bercerita, mungkin itu yang Daddy Tian lakukan. Bahkan sama Buba Ressa daddy belum bercerita."
"Mommy?" Tanya Dea melirik sang ibu yang tidak bergerak dari tempatnya semula. Ibu satu anak itu menggeleng.
"Daddy Denis, tau?" Dea kembali menatap lelaki dewasa yang sedang memeluknya.
__ADS_1
"Of course, karena Daddy Denis yang menemani Daddy Tian dari dulu. Jadi Dea jangan marah-marah lagi ya, kasih daddy-mu waktu agar bisa bercerita. Juga jangan mendesak Buba yang tidak tau apapun sama seperti Dea." Jelas Denis pelan sambil tersenyum mengusap pipi Dea. Untung dia bisa menjinakkan ibu dan anak ini.