
Ressa mengelus dada, jantungnya berdetak cepat. Huh, dia tidak bisa terus berada di sini. Tian akan sulit dikendalikan.
Ia mencari Erfan di ruang tengah, Tian masih di taman. "Bisa bawa gue dari sini Fan, jangan sampai Tian tau di mana gue tinggal sampai melahirkan." Pinta Ressa pelan.
Erfan melirik istrinya yang mengangguk setuju, "oke setelah Tian pulang. Sayang temani Ressa ke kamar, Tian pasti menyusul kalau dia sendirian."
Ia sangat hapal bagaimana gilanya sang sahabat itu. Tian tidak akan melepaskan Ressa begitu saja.
"Honey!" Teriak Tian, belum sempat Hira membawa Ressa ke kamar, lelaki itu sudah mendekati mereka.
"Honey yang mana nih. Erra?" Tanya Erfan usil.
"Bukan, yang ini." Tian langsung memeluk Ressa dari belakang tanpa mempedulikan Erfan yang sudah memasang tampang ingin menghajarnya.
"Perasaan tadi sudah salam perpisahan deh," Ressa berdecak kesal pada mantan suaminya ini.
"Sudah kangen lagi, gimana dong. Ini gak bisa pisah dari kamu." Goda Tian sambil menciumi pipi Ressa.
"Lepas Tian! Calon istrimu itu Aruna." Erfan menatap Tian tajam.
__ADS_1
Tian menggeleng semakin mengeratkan pelukannya, "kangen mereka." Katanya sambil mengelus perut Ressa.
"Sekarang pilih, Aruna apa Ressa?" Tegas Erfan dengan tatapan membunuh.
"Aruna," Tian melepaskan pelukannya dari Ressa. Perempuan itu tersenyum meninggalkan ruangan lalu masuk ke kamar. Hira segera menyusul, tau sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Gue gak mau lihat lo bersikap seperti itu pada Ressa lagi. Lo gak mikir bagaimana terlukanya Ressa dengan semua masalalu yang lo sembunyikan!" Ucap Erfan emosi. Aruna hanya diam, dia tidak bisa mengatakan apapun.
"Ya, gue salah." Desis Tian, "Aru masih mau bicara sama Ressa. Kalau nggak kita pulang."
"Aku pamit sama Ressa dulu," izin Aruna yang diangguki Tian.
Aruna, Aruna dan Aruna. Dari dulu selalu saja Aruna yang jadi kebanggaan. Nikahnya cuma satu minggu, kepikirannya entah sampai kapan. Ressa menepis semua perkataan Tian yang bisa membuatnya klepek-klepek.
"Mau makan sesuatu, biar gue buatin?" Tawar Hira sambil tersenyum. Sahabatnya ini sangat kuat. Ressa menggelengkan kepala.
"Dunia ini sempit banget ya Ra, kenapa harus Tian yang menghamili Aru." Ressa tersenyum simpul, "untung pernikahan ini tidak diketahui banyak orang. Jadi gue masih bisa benapas kalau keluar rumah."
"Sabar ya, Allah pasti sudah menyiapkan kebahagiaan yang sesungguhnya buat lo." Hira menyandarkan kepalanya di bahu Ressa. "Kita sudah lama gak ke pasar malam. Malam ini mau jalan ke sana."
__ADS_1
"Gue capek Ra, pengen istirahat."
"Ya sudah lo istirahat, kalau capek turun naik tangga pindah ke kamar bawah aja. Gue buatin susu dulu, jangan buruan tidur."
"Makasih cerewet," ucap Ressa sambil tersenyum nakal. Hira mengangguk pelan, dia tidak mengerti dengan otak sahabatnya yang bisa selempeng itu.
"Boleh aku masuk?" Tanya Aruna di depan pintu kamar Ressa saat Hira membuka pintu.
"Ya masuk Ru, aku bikinin Ressa susu dulu." Pamit Hira yang diangguki Aruna.
Aruna berjalan pelan mendekati Ressa yang berbaring di tempat tidur. Tangannya terulur mengelus perut ibu hamil itu. Ressa terkejut membuka mata yang baru dipejamkannya.
"Maaf bikin kaget," Aruna tersenyum kecil. "Maaf juga sudah menghancurkan kebahagiaanmu."
"Ngomong apa sih," Ressa menghapus air mata yang terjatuh di pipi Aruna. Kakaknya ini memang paling cengeng sejagat raya. "Tian sudah milih kamu, itu artinya kamu yang pantas mendampinginya."
Aruna menggeleng, "Tian sangat mencintaimu Sa, dia menikah denganku hanya karena Dea."
"Walaupun galak di luar, Tian itu hatinya sangat lembut. Mudah untuk menumbuhkan cintanya kembali. Pelan-pelan Tian pasti jatuh cinta lagi sama kamu, Ru." Ucap Ressa dengan sangat yakin, padahal dia sedang berperang melawan hatinya sendiri. Berharap Tian hanya menjadi miliknya, harapan hanyalah sekedar harapan kalah dengan kenyataan.
__ADS_1