Aksara Cinta

Aksara Cinta
210. Melupakan


__ADS_3

“Sayang, kenapa sampai sakit. Kemaren baik-baik aja,” Tian melempar jaket yang ia gunakan ke sembarang arah.


Istrinya terbaring lemah di tempat tidur, perempuan hamil itu baru bisa tertidur setelah terjaga semalaman karena mengkhawatirkannya. Hanya ibu mertuanya yang menjaga, Aruna sedang menjemput Dea ke sekolah.


“Kamu mandi dulu Nak,” cegah Rina saat Tian ingin memeluk Ressa. Menantunya itu baru saja melakukan perjalanan jauh, ia khawatir putrinya rentan terhadap penyakit karena daya tahan tubuhnya sedang lemah.


“Iya Bu,” Tian menurut saja demi kebaikan Ressa. Ia langsung mandi kilat, entah istrinya itu sakit apa. Atau cuma kena virus rindu karena lama tidak bertemu dengannya.


“Ibu istirahat aja, biar aku yang jaga ressa.” Ujar Tian setelah selesai mandi.


“Iya, kalau Ressa bangun suruh makan dulu. Dari tadi pagi belum mau makan.” Beritahu Rina, Tian mengiyakan sambil mengangguk.


“Sayang, aku pulang.” Seperginya sang ibu mertua Tian naik ke atas ranjang, memeluk Ressa. Dia sangat merindukan istrinya ini, dua minggu tidak bertemu membuatnya sangat tersiksa.


“Honey,” panggil Tian seraya menciumi pipi Ressa. Badan ibu hamil itu masih terasa hangat saat Tian menyentuhnya.


“Mas,” lirih Ressa pelan mengerjap-ngerjapkan mata. Berharap bukan mimpi apa yang ada dihadapannya ini.


“Mas ini beneran kamu?” tanya Ressa untuk memastikan saat matanya terbuka sempurna. Ia memeluk Tian sambil menangis saat yakin yang ada di depan mata sang suami yang sangat dikhawatirkannya.


“Iya, ini aku suamimu Sayang. Kamu kenapa menangis?” Tian bingung, istrinya bukan senang melihatnya pulang malah menangis sesenggukan.


“Aku mimpi pesawat yang membawamu pulang hilang, aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku takut kamu gak kembali lagi. Aku takut gak bisa lihat kamu lagi,” lirih Ressa semakin terisak.


“Aku di sini Sayang, aku gak kenapa-kenapa. Aku baik-baik aja.” Tian mengeratkan pelukan dengan hati-hati sambil mengusap belakang kepala Ressa pelan. Istrinya ini masih terpasang infus di tangan, tapi sudah banyak bergerak.


“Jadi sakit gara-gara mimpi, sekacau apapun hatimu. Kamu harus tetap makan Sayang, biar sehat. Karena bukan Cuma kamu yang perlu asupan nutrisi, anak kita juga.” Nasehat Tian dengan lembut seraya menciumi puncak kepala Ressa.


“Aku kepikiran kamu, mana bisa aku makan. Kamu gak bisa dihubungi,” katanya memanyunkan bibir.


“Mas dalam pesawat Sayang, gak main hp.” Tian mendongakkan dagu Ressa pelan. Menghapus pipi yang basah dengan air mata itu.


“Aku gak suka lihat kesayanganku ini menangis. Sekarang kita makan, kamu terlalu banyak mengeluarkan air mata Sayang. Aku belum siap kebanjiran.” Gurau Tian, Ressa tersenyum menganggukkan kepala pelan.

__ADS_1


"Gitu dong, jadinyakan makin cantik. Dedek jangan stres ngikutin Mommy ya Sayang."


Tian mengecup perut Ressa, "kalau mau nangis sambil diingat-ingat, dedek bisa stres di dalam sini." Katanya lalu bangun meminta art untuk membawakan makan siang untuk Ressa melalui interkom.


Rumah yang sekarang mereka tempati cukup besar. Akan melelahkan kalau harus berteriak memanggil art.


Tidak berapa lama makanan yang Tian minta datang. Pria itu menarik kursi duduk di samping ranjang setelah membantu Ressa duduk. Ia menyuapi ibu hamil itu dengan sabar. Lelahnya belasan jam dalam pesawat hilang setelah bertemu istrinya ini.


"Kalau aku gak pulang, mau sampai kapan gak makan, hm." Ucap Tian disela-sela menyuapi Ressa makan. Istrinya itu hanya menyengir, tidak ada lagi wajah mendung di sana.


"Cuma disuapi langsung sembuh, fix ini kena virus kangen." Celoteh Tian sambil mengelus-elus di pipi dan membersihkan sudut bibir Ressa, saat perempuan itu asik mengunyah.


"Dedek yang kangen," elak Ressa sambil tersenyum manja.


"Nanti Daddy jenguk dedeknya, biar kangennya hilang." Lelaki itu menciumi perut buncit Ressa.


"Sekarang!" Pinta Ressa dengan wajah memelas.


"No Honey! Sehat dulu, kalau gak sehat Daddy gak mau jenguk." Tian meletakkan piring yang isinya sudah bersih itu ke atas nakas. "Lapar tapi ditahan-tahan, jadinya sakit."


"Gak ada jatah apapun kalau masih sakit!" Tegas Tian, sengaja agar istrinya itu tidak malas makan lagi.


Ressa semakin memberengut masam, membaringkan tubuhnya.


"Eee..ee.. baru selesai makan masa langsung tidur." Tian menahan tubuh Ressa agar tidak jadi berbaring. "Ngambek nih," goda Tian mendusel-dusel pipi sang istri.


"Sudah berapa hari belum mandi, hm. Bau acem." Tian masih tetap menggoda walau istrinya membuang muka.


"Patung hidupku beneran ngambek nih," Tian memiringkan wajah Ressa. Menyesap bibir merekah itu dengan lembut sampai mendapatkan balasan.


"Sudah berhenti ngambeknya?" Tian terkekeh geli menggigit pelan hidung Ressa.


"Orang kangen gak dibolehin manja-manja!" Ujar Ressa jutek.

__ADS_1


"Bukan gak dibolehin manja-manja Sayang, dari tadikan manja-manja, hm." Tian naik ke atas tempat tidur agar lebih leluasa memeluk sang istri.


"Daddy...!!" Teriak Deandra dari depan pintu dengan tersenyum cerah merentangkan tangan sambil berlari mendekati sang ayah.


"Kangen banget, iihh!!" Serunya memeluk Tian dari samping agar tidak mengganggu bubanya yang masih berada dalam pelukan ayahnya itu juga.


"Daddy juga kangen Dea," tangan Kiri Tian memeluk pinggang sang putri sambil mencium di kening. "Makasih sudah jagain Buba, Sayang."


"Buba langsung sembuh pas Daddy datang, dedek memang nakal suka ngerjain yang jaga." Keluh Deandra, Ressa ikut tertawa mendengar pengaduan putrinya itu. Padahal dia tidak pura-pura sakit.


"Bukan dedek yang nakal Sayang, tapi Buba-mu yang minta dimanja." Tian mengerling jahil pada sang istri.


"Buba nangis terus daddy tinggal, terus puasa makan sama bicara juga. Mulai sekarang Daddy gak boleh tinggalin Buba lagi."


"Daddy juga gak mau ninggalin Buba, tapi gimana. Gak mungkin Daddy bawa Buba perjalanan jauh Sayang." Tian memberikan pengertian pada anak gadisnya.


"Apa yang membuat Daddy sangat cinta sama Buba?" Tanya Dea serius. Dia sering cemburu melihat daddy-nya sangat menyayangi ibu sambungnya itu.


"Cinta kadang tanpa alasan Sayang, kenapa Dea bertanya seperti itu." Tian melirik Ressa, jawaban umum yang dia berikan itu bisa menjebaknya.


"Kalau suatu saat nanti Dea mencintai seseorang tanpa alasan, apa Daddy akan merestuinya. Walau orang itu sangat Daddy benci."


Tian sangat mengerti kemana arah pembicaraan itu.


"Jangan pertanyakan itu sekarang Sayang, kan belum terjadi." Ucap Tian tersenyum, pura-pura tidak mengerti dengan ucapan putrinya.


"Of course Daddy, aku hanya iseng bertanya seperti itu. Dea mau makan siang dulu, oke." Ujar Dea ceria, mengecup pipi Tian sebelum beranjak.


"Makan yang banyak Honey."


"Yes Daddy." Putri Tian itu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelahnya ia duduk di meja rias, tangannya membuka laci mengambil ponsel dan kalung pemberian Azmi.


"Sepertinya kita tidak bisa bertemu lagi Om," gumam Dea pelan sambil tersenyum mengelus foto di liontin. "Dea sangat menyayangi Daddy, dan gak mungkin menyakiti hatinya hanya untuk bersama Om."

__ADS_1


Ia harus bisa melupakan pria dewasa itu. Perjalanan hidupnya masih panjang, dia juga tidak mungkin menemani Azmi selamanya.


Deandra menelungkupkan wajahnya ke meja. Dia harus bersikap biasa saja agar daddy-nya tidak curiga kalau dia masih memikirkan pemilik liontin ini.


__ADS_2