
Jeri langsung masuk ke apartemen tanpa membangunkan Audrey. Dilihat perempuan itu sudah meringkuk di bawah selimut. Ia langsung membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah melewati malam panjang pencarian Ressa tubuhnya sangat lelah.
Selesai mandi Jeri menyelinap masuk ke dalam selimut Audrey. Lalu mengecup di tangan perempuan itu sambil tersenyum. Entah kenapa dia jadi sangat rindu dengan Audrey hari ini.
"Darah," gumam Jeri melihat noda merah yang tertinggal di kuku Audrey.
Ia bangun memeriksa kamar, Audrey tidak punya kucing. Jadi tidak mungkin darah kucing terluka yang menempel di kukunya.
Atau tidak bersih mencuci tangan setelah memotong ayam. Sungguh bukan Audrey sekali yang mau bersusah payah bekerja di dapur.
Jeri memeriksa bawah tempat tidur, lemari dan bawah meja. Mungkin tikus yang dibunuh Audrey, tapi tidak ada bangkai apapun. Ia memeriksa laci, netranya menemukan cutter yang bernoda darah.
"Sebenarnya apa yang dibunuh Audrey, darahnya masih segar."
Pikiran Jeri berkecamuk, lelaki itu meninggalkan kamar memeriksa seluruh isi apartemen, tapi tidak menemukan apapun. Hanya satu tempat yang belum ia periksa, kamar di samping Audrey.
Jeri langsung masuk ke kamar itu untuk memeriksanya, tangannya meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Matanya membulat sempurna melihat Ressa yang dipenuhi noda darah di wajahnya.
__ADS_1
"Astaga, apa Audrey yang tega melakukan ini." Gumam Jeri yang tidak tau harus berbuat apa. Ia segera menelpon Tian untuk datang ke apartemen Audrey.
"Ressa, bangun." Panggil Jeri pelan, mencubit tangan Ressa agar segera sadar.
"Jeriii, sakit." Lirih Ressa pelan saat membuka mata, entah sakit di pipi atau bekas cubitan Jeri yang dikeluhkan perempuan itu.
Kemudian Ressa menutup mata kembali, "Tian," gumamnya berkali-kali.
"Jangan bicara dulu, Tian sedang menyusul ke sini." Beritahu Jeri, membersihkan darah yang menempel di pipi Ressa dengan sangat pelan.
Di mobil, Tian yang sedang menuju arah balik bersama Denis dan Erfan mendapati telepon dari Jeri segera meluncur ke apartemen Audrey.
Sesampainya di basement Tian berlari terburu-buru masuk ke dalam lift meninggalkan Denis dan Erfan. Ia langsung menuju apartemen Audrey. Untung Tian masih ingat password apartemennya.
Tian berlari mendatangi kamar yang pintunya terbuka, di sana Jeri sedang membersihkan darah di pipi Audrey.
"Sayang!" Tian membawa Ressa dalam pelukan, kondisi istrinya itu sangat memprihatinkan.
__ADS_1
"Cepat bawa Ressa ke rumah sakit. Biar gue yang urus Audrey." Ucap Jeri, saat ini tidak ada lagi pikiran untuk merebut Ressa dari Tian. Yang lebih penting keselamatan Ressa sekarang.
"Thanks," ucap Tian menggendong Ressa keluar dari apartemen Audrey. Berpapasan dengan Denis dan Erfan yang baru ingin masuk ke dalam apartemen.
"Asstaghfirullah Ressa!" Pekik Erfan saat melihat luka yang menganga di kedua pipi perempuan itu. Wajah Ressa sudah pucat seperti mayat.
"Sabar Sayang, kita ke rumah sakit." Tian tidak berani menyentuh pipi Ressa. Ia hanya membelai di kepala untuk menyalurkan kekuatan. Ressa sudah tidak dapat bersuara lagi, matanya terpejam menahan sakit yang teramat di pipinya.
Denis melajukan mobil menuju Rumah sakit. Apa reaksi Aruna dan Dea kalau melihat kondisi Ressa seperti ini. Pikirannya ikut lelah, sampai tengah malam mereka belum ada beristirahat. Makanpun tidak sempat.
Sesampainya di rumah sakit Tian berlari menggendong Ressa ke IGD. Suami Ressa itu mengusap wajah gusar. Tergores pisau sedikit saja sakit, bagaimana dengan luka sebesar itu seperti sedang operasi. Tian bergidik ngeri membayangkan saat Audrey menggores pipi Ressa tanpa rasa kasihan.
Tiga orang lelaki itu menunggu di depan IGD dengan cemas. Denis berinisiatif mencari tempat makan yang buka tengah malam karena perutnya sangat lapar. Dan kembali dengan membawa tiga bungkus nasi goreng, air mineral dan kopi.
"Makan dulu, buat nambah energi." Katanya seraya membagikan apa yang dibawanya.
Denis memakan nasi goreng dengan lahap, mereka sudah seperti keluarga pasien yang masuk rumah sakit lewat jalur bpjs. Sampai makan di ruang tunggu IGD.
__ADS_1
"Kalian pulang sana, istirahat." Ujar Tian, mereka sudah selesai makan malam yang dirapel dari siang.
"Kami pulang setelah Ressa dipindah ke ruang rawat." Sahut Erfan yang disetujui Denis. Bagaimana tidak setuju dia pulang ikut daddy Erra itu, mobilnya di rumah Tian.