Aksara Cinta

Aksara Cinta
154. Bertemu Keponakan


__ADS_3

"Selamat pagi, wah-wah sudah rame." Sapa Jeri ramah memberikan bucket bunga pada Ressa tanpa mempedulikan tatapan tajam Tian.


"Aku jadi trauma dengan mawar merah ini," ujar Ressa pelan menerima bucket bunga dari Jeri. Matanya melirik Tian yang menatapnya tidak suka. Ia hanya bisa tersenyum tipis melihat kecemburuan suaminya.


"Sorry, buang aja bunganya." Jeri mengambil kembali bucketnya tapi ditahan Ressa.


"Ini terakhir bunga yang aku terima darimu," sebut Ressa meletakkan bunga di atas nakas.


Jeri mengangguk, matanya terkunci pada gadis yang duduk di pangkuan Tian. Gadis itu menatapnya tidak suka.


"Hei, kamu siapa? Kenapa menatapku seperti ingin memangsa seperti itu?" Tanyanya dengan nada bercanda, mencubit gemas pipi Dea.


Deandra mendengus, menyingkirkan tangan Jeri dari pipinya. "Aku tidak suka disentuh orang asing!!" Ucapnya ketus.


"Tian, siapa dia? Kenapa sangat mirip denganmu?" Tanya Jeri tidak menghiraukan kebencian Dea.


"Dia putriku. Dea sapa Om, Sayang. Gak boleh galak-galak." Nasehat Tian menurunkan putrinya dari pangkuan.


"Apa? Keponakanku sudah sebesar ini." Jeri membulatkan mata, setaunya Tian menikah belum sampai satu tahun. Tapi kenapa anaknya sudah sebesar ini. Tidak mungkin juga anak pungut, karena wajahnya sangat mirip dengan sang sepupu.

__ADS_1


"Kenapa menyembunyikannya?" Jeri sedikit berjongkok, memeluk gadis yang berdiri dengan angkuh di hadapannya.


"Aku tidak pernah menyembunyikannya, hanya kamu yang tidak tau." Sahut Tian tenang, biar saja Jeri beranggapan itu anaknya dengan Ressa.


"Oh Tuhan persis seperti daddy-nya ketus sekali." Komentar Jeri, Dea tidak bergerak sedikitpun walau dia tidak suka dipeluk yang katanya om-nya.


Aruna mengulum senyum mendengar komentar Jeri. Ingin tertawa, tapi khawatir putrinya marah-marah lagi.


"Siapa namamu cantik?" Tanya Jeri seraya memejamkan mata.


Ia menyesal meminta Audrey menggugurkan kandungan. Harusnya dia bertanggung jawab dan menjaga Audrey dengan baik. Pasti perempuan itu tidak akan nekat melukai Ressa. Tanpa Jeri sadari air matanya terjatuh saat memeluk Dea, menyesal telah membunuh darah dagingnya sendiri


"Nama yang manis, Deandra Adley." Gumam Jeri menambahkan belakang nama Dea, mengurai pelukannya setelah menyeka air mata yang sempat terjatuh.


"Kenapa menangis?" Tanya Dea heran. Lelaki itu menggeleng pelan.


"Bahagia bertemu kamu," bohong Jeri menepuk kepala Dea sambil tersenyum.


"Dea, ini Om Jeri adik sepupu Daddy." Jelas Tian singkat, sebenarnya malas mengenalkan Jeri sebagai keluarganya.

__ADS_1


"Daddy masih punya keluarga?" Tanya Dea, setaunya sang ayah tidak punya keluarga lagi. Tian mengangguk pelan.


Ressa mengerti kerisauan suaminya, mungkin ada kebencian yang ia tidak tau sebabnya apa. Perempuan itu menarik tangan Tian dan menggenggamnya erat.


"Apa Dea juga punya kakek dan nenek?" Tanya Dea semangat.


Mengingat mendiang kedua orang tuanya, ada yang nyeri di hati Tian. Dia bahkan tidak ingat bagaimana rupa ayah dan ibunya kalau tidak ada foto. Ia tidak suka ada yang membahas perihal keluarganya.


Ressa meminta Tian untuk naik ke atas brankar lalu memeluknya sambil membelai dada Tian. Lelaki itu menghela napas berkali-kali untuk memberikan pasokan oksigen ke paru-parunya.


"Daddy kenapa tidak senang Dea nanya kakek dan nenek?" Tanya gadis itu lagi dengan sendu. Jeri membawa Dea dalam pelukan, menggelengkan kepala dengan pelan agar Dea tidak bertanya apapun lagi.


Jeri mengerti Tian sangat membeci ayahnya, sebab sang ayah lah yang sudah membuat orang tua Tian dan kakeknya meninggal.


"Kita hidup untuk masa depan, Sayang. Dadamu akan terus terasa sesak kalau tidak bisa berdamai dengan masalalu. Aku tidak tau bagaimana sakitnya, tapi aku ada di sini untuk kamu." Lirih Ressa pelan menyelam dalam netra yang menatap masalalu dengan nanar.


"Tian, aku minta maaf atas nama ayah..."


"Pulanglah Jeri, aku tidak ingin mendengar apapun tentang ayahmu." Potong Tian dengan suara dingin, sebelum Jeri menyelesaikan ucapannya. Ayah Jeri-lah sumber kebenciannya.

__ADS_1


"Baiklah," Jeri mengangguk. "Dea, Om pulang dulu." Katanya seraya mengecup kening gadis itu, lalu permisi dari sana. Bukan saat yang tepat meminta maaf pada Tian.


__ADS_2