
"Anak tetangga depan rumah minggu depan nikah. Baru lulus kuliah langsung dapat kerja dan kuliah." Curhat Rina sambil mencuci sayur, Ressa sedang menemani ibunya memasak sarapan. Di rumah hanya ada satu art yang membantu pekerjaan rumah.
Perempuan yang kerap dibilang sang ibu perawan tua itu dengan setia mendengarkan.
"Kamu kapan ngenalin calon mantu sama ibu?" Perempuan paruh baya itu mendelik pada putri sulungnya.
"Belum ada yang bisa aku kenalin Bu, mau bawa pacar kontrak gak punya uang buat bayar." Sahut Ressa asal sambil terkekeh, tak ambil hati dengan ucapan ibunya.
"Libur kerja nanti kita ke orang pintar, biar kamu cepat dapat jodoh. Ibu malu punya anak perawan gak nikah-nikah."
"Berarti yang datang ke sana orang bodoh dong, Bu." Ressa mengulum senyum, hari gini masih berharap jimat dan mandi kembang dari orang pintar biar dapat jodoh. Duh, apa kata dunia.
"Jangan ngomong sembarangan nanti kualat!"
Serah ibunya sajalah, selesai menyiapkan sarapan Ressa ke kamar untuk berganti pakaian. Baru kembali meja makan, rumah mereka tidak besar. Hanya ada tiga kamar, adik-adiknya juga jarang menginap. Sesekali mengunjungi saat weekend.
"Coba pakaian kamu itu dilonggarin dikit Sa, roknya dipanjangin." Komentar Rina pada putrinya yang baru bergabung di meja makan.
"Nanti kalau sudah siap aku pake gamis ke kantor Bu." Ujar Ressa seraya mengambil sarapan.
"Kamu itu kalau dikasih tau orang tua di dengerin!" Geram Rina dengan suara tinggi, setiap kali bicara pada Ressa sama seperti bicara dengan tembok.
__ADS_1
"Iya aku dengerin, telingaku masih bagus Bu. Baru dari dokter THT." Sahut Ressa, dia masih fokus dengan sarapan. Mengacuhkan sang ibu yang tak berhenti mengoceh panjang lebar.
"Ini lagi sarapan apa lagi dengerin pidato?" Sela Amrin yang membuat Rina berhenti mengoceh. Ressa pamit ke kantor setelah menyelesaikan sarapannya.
Kantor seperti dewi penyelamatnya, lama kelamaan bosan juga mendengarkan omelan sang ibu. Ressa fokus bekerja, hidupnya tak jauh dari kerja, kerja, makan dan tidur. Aktivitas yang ternyata bisa mengganggu ketenangan ibunya.
Sepulang dari kantor Ressa tidak pulang ke rumah, ia membersihkan apartemen yang sudah dua tahun ini tidak di tempati dibantu jasa cleaning service online. Kalau malas pulang ke rumah ia akan menginap di apartemen untuk menghindari ceramah sang ibu.
Karena kelelahan, Ressa tertidur di apartemen sampai pagi. Sebelum berangkat ke kantor, ia pulang ke rumah untuk berganti pakain.
"Tidur di mana kamu? Jangan bilang tidur sama laki-laki di hotel. Makanya gak mau nikah-nikah." Omel Rina, baru kaki kanan Ressa yang masuk ke dalam rumah suara pedas ibunya sudah memenuhi gendang telinga.
"Ayah ini, anak itu di didik yang baik biar gak suka keluyuran gak jelas."
"Aku bersih-bersih apartemen Bu, kecapean jadi sekalian tidur di sana." Jelas Ressa seadanya, melanjutkan ke kamar, mendengarkan ocehan sang ibu sama saja membuka peluang sakit hati. Nikah, nikah dan nikah. Tiada henti pembahasan tentang nikah.
Setelah berganti baju dan sedikit berdandan Ressa berpamitan kembali untuk berangkat ke kantor. Mengganti raut wajah lelahnya dengan wajah berbinar.
"Ada apaan nih jadi kantor rame?" Tanya Ressa ikut bergabung sarapan di pantry sambil menggosip ria.
"Bos baru hari ini datang, katanya cakep dan masih bujang." Sahut Amel, rekan kerjanya dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Oh ya, beneran. Jadi penasaran sama Pak Presdir baru," ujar Ressa antusias.
"Lo jangan ikutan naksir, ini buat daun muda aja." Zeni menyindir Ressa, si empunya terkekeh geli.
"Iya-iya, mana ada yang mau sama perawan tua kayak gue." Ressa tak merasa tersinggung, kalau mau tersinggung lebih menyakitkan ucapan emak Rina di rumah, pikirnya.
"Gue mau kok sama lo," ujar Agam menanggapi ucapan Ressa.
"Nah tuh, lo sama Agam aja. Kasihan jangan dianggurin," celetuk Zeni.
Ressa menepuk bahu Agam keras, lalu menyengir kuda. "Thanks bro, lo emang teman terbaik." Katanya cengengesan.
"Lo mukul pake tenaga apa sih Sa, selain tangan lo itu bikin bahu gue sakit juga pedas tau. Kayak dikasih cabe sekilo."
"Wuihh, gue gak perlu kerja lagi kalau tangan gue bisa menghasilkan cabe." Ressa heboh sendiri, "gue pukul lagi mau, biar cabenya bisa dijual."
"Jangan!" Sahut Agam cepat, sebelum jadi sasaran pukulan maut Ressa.
"Katanya sayang, dipukul aja ngeluh." Celetuk Budi.
"Sayang sih sayang, tapi gak main fisik juga keleus." Agam mencebik, Ressa terkekeh geli. Mereka sarapan diselingin gosip, canda dan tawa.
__ADS_1