
"Sayang, maaf." Ucap Tian, saat bangun tadi Ressa tidak ada di kamar. Ternyata istrinya itu sudah menyiapkan sarapan.
"No problem, sarapan dulu." Ucap Ressa sambil tersenyum mengambilkan nasi goreng untuk Tian.
"Mau ikut ke kantor?" Ajak Tian.
"Aku di rumah aja ya." Ressa ingin menghindari Tian untuk sementara. Membalas Tian dengan marah-marah hanya membuang energinya saja.
"Nanti Jeri datang ke sini..." belum selesai ucapan Tian Ressa sudah memotongnya.
"Ya, aku ikut ke kantor." Sela Ressa saat Tian menyebutkan nama Jeri, entah apa hubungan dua orang itu sehingga harus melibatkan dirinya.
"Kalau kamu mau di rumah gak papa, nanti aku minta Aru menemanimu."
"Aku ikut aja," putus Ressa.
Jika Aruna penurut maka dia pembangkang. Ya itu memang sebutan yang tepat untuknya. Setelahnya Ressa hanya diam sampai ke kantor Tian. Tidak mengucapkan apapun, hanya sesekali menanggapi pertanyaan sang suami.
"Masih marah, Honey?" Tanya Tian, Ressa hari ini lebih dingin. Dia memang salah memarahi Ressa tadi malam.
__ADS_1
"Semua yang kamu katakan benar, jadi untuk apa aku marah." Jawab Ressa sambil tersenyum manis, sangat menyeramkan bagi Tian. Lebih baik Ressa meluapkan segala kekesalan padanya daripada tersenyum seperti ini.
"Honey, maaf aku menyakitimu tadi malam." Sesal Tian.
"Tidak perlu minta maaf, tidak ada yang sakit kok, semua masih sehat." Jawab Ressa seraya duduk di sofa.
"Aku takut kehilangan kamu, Sayang. Maaf aku terlewat emosi dan melukai hatimu." Tian menggenggam tangan Ressa berjongkok di hadapan istrinya.
"Tidak ada yang sakit Tian, sudah sana kerja aku temani dari sini." Ressa melepaskan tangan Tian yang menggenggamnya. Mengusap lembut rambut lelaki itu.
Ia tidak perlu susah payah menggambarkan betapa sakit hatinya saat dibandingkan dengan Aruna. Tapi Ressa sedang belajar mematikan hati. Melupakan semua yang terjadi tadi malam dan bersikap seolah tidak ada terjadi apapun.
Tian terpaksa beranjak ke meja kerjanya, mengusap wajah dengan gusar. Harusnya kata-kata menyakitkan itu tidak pernah keluar dari mulutnya. Tapi apa yang sudah dilakukannya, membandingkan Ressa dengan Aruna.
"Daddy, Buba!!" Seru Dea memeluk keduanya bergantian.
Ressa mengusap kepala Dea dan tersenyum tanpa mengatakan apapun. Dia duduk di sofa mengamati ayah dan anak itu. Sedang Tian tersenyum pada putrinya saat mendengar panggilan baru untuk Ressa.
"Kalau diam terus Dea bisa tau kamu marah sama aku." Ucap Tian pelan di telinga Ressa.
__ADS_1
"Dea tadi sekolah, Sayang. Sudah sembuh sakitnya?" Tanya Ressa berbasa-basi.
"Dea tadi gak sekolah, sakitnya baru sembuh." Jawab Dea masih bermanja-manja dengan sang ayah.
"Kalian mau sekalian makan malam di sini?" Tanya Aruna sambil membawakan minuman dingin dan cemilan.
"Boleh," jawab Tian. Dipikirannya biar Ressa tidak perlu memasak lagi saat sampai di rumah. Tapi yang Ressa tafsirkan berbeda, perempuan itu merasa Tian memang selalu bersikap lembut dan perhatian pada Aruna.
"Buba, aku kemaren beli buku mau membacakan untukku?"
"Of course, Honey." Jawab Ressa dengan seulas senyum.
"Ayo..!!" Dea menarik tangan Ressa dengan semangat.
"Ressa kenapa, Mas? Kalian bertengkar?" Mungkin Dea tidak menyadari sikap Ressa, tapi Aruna tau adiknya itu tidak banyak bicara sejak datang tadi.
"Aku memarahinya kemaren pulang bersama laki-laki lain tadi malam." Jawab Tian yang masih bisa di dengar Ressa.
Perempuan itu mengikuti langkah Dea ke kamar sambil merenung. "Jeri memegang tanganku tidak sampai lima menit. Sedang dia sudah berapa sering melewati malam panas bersama Aru. Apa aku terlalu murahan hanya karena di antar Jeri tadi malam. Sampai kalimatnya begitu menyakitkan untuk didengar," gumam Ressa dalam hati.
__ADS_1
"Buba kenapa, sakit?" Tanya Dea melihat Ressa yang diam sejak masuk ke kamarnya.
"Cuma gak enak badan, mana bukunya yang mau Buba bacakan." Ujar Ressa mengalihkan pikirannya pada Dea.