
"Honey, apa ini?" Tian mengibas-ngibaskan kartu nama yang tersembul keluar dari tas Ressa. Saat perempuan itu mengambil ponselnya.
"Oh itu, tadi aku tidak sengaja menabrak orang. Lalu orang itu memberiku kartu nama. Anehkan, apa dia nanti akan meminta pertanggung jawaban dariku karena sudah membuat tulang bahunya bergeser." Jelas Ressa panjang lebar.
Tian mengambil korek api lalu membakar kartu nama itu dan membuangnya ke tempat sampai.
"Apa salah kartu nama itu, Sayang. Dia tidak akan mengganggu kalau aku yang tidak memulainya lebih dulu."
"Kartu ini memang tidak bisa mengganggumu, Honey. Tapi pemilik kartu nama ini yang bisa jadi pengganggu milikku." Ucap Tian setengah bercanda mendekati Ressa yang menggelengkan kepala di tempat tidur.
"Apa kamu cemburu karena kamu kalah tampan, Sayang?"
Tian menggelengkan kepala, "bukan aku yang cemburu karena kalah tampan, Sayang. Tapi dia yang selalu kepanasan dengan apa yang menjadi milikku."
"Kamu seperti mengenalnya saja," Ressa menyentil kening suaminya pelan.
"Aku bermimpi dia akan mengganggu milikku, jadi aku mengenalnya dalam mimpi." Tian berucap asal sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Oh Tuhan, suamiku sedang halu."
"Kamu terlalu banyak memberikanku pil ekstasi sehingga membuatku berhalusinasi, Sayang." Tian membaringkan kepalanya di pangkuan Ressa, yang disambut belaian lembut.
"Siapapun orang itu kamu tidak boleh mengenalnya, Honey." Ucap Tian dengan tatapan teduh.
"Kenapa kamu begitu takut dengan kartu nama itu, Sayang. Jangan berlebihan hanya karena kamu suka menjelajahi perempuan. Kamu berpikir aku akan melakukan hal yang sama ketika melihat lelaki yang lebih darimu."
"Bukan itu Honey. Bukan itu yang aku takutkan, aku hanya takut orang itu terobsesi dengan milikku. Kalau kita bermimpi itu bisa jadi sebuah petunjukkan, Sayang." Tian memberikan tatapan lugunya, ia baru saja mendapatkan ilmu bunglon.
"Mimpinya tadi malam, persis seperti yang kamu ceritakan, Honey." Ujar Tian lagi, membuat Ressa semakin tertawa.
"Kamu bukan ahlinya mengarang cerita, Sayang. Jangan dipaksakan. Aku takut film yang tayang jadi berantakan, kalau kamu menulis ceritanya asal."
"Aku serius, Honey." Ucap Tian semakin manja.
"Ya, ya. Aku percaya, Sayang. Daripada nanti bayi besarku ini merajuk. Aku tidak bisa menyusuinya."
__ADS_1
"Kamu benar-benar pengertian, Sayang. Aku memang sedang haus sekarang, haus belaianmu." Tian mengedipkan mata genit.
"Nah-nah, mulaikan." Ressa mencubit kedua pipi Tian gemas. Membenamkan kepala lelaki itu di dadanya. Membuat Tian susah bernapas karena terjepit diantara squishy.
"Tidur Sayang, nanti kebablasan." Ressa membaringkan kepala Tian ke bantal. Lelaki itu menurut, karena memang ingin membuat Ressa cepat tertidur.
"Tumben gak protes disuruh tidur cepat," sindir Ressa.
"Kamu capek Honey, aku gak mau semakin lama berpuasa. Benih-benihku ini sudah siap untuk di semai. Good night, Honey." Tian mengecup seluruh wajah Ressa yang berakhir dengan singkat di bibir.
"Night, Sayang. Jangan kemana-mana, awas meninggalkanku demi menjenguk Audrey."
Tian tertekeh kecil mendapati ancaman dari sang istri, "aku memang harus ke sana. Ada yang ingin aku selidiki." Tian sengaja menggoda.
"Kamu pergi malam ini, maka tidak akan pernah bisa melihatku untuk selama-lamanya lagi!"
"Enggak Sayang, aku gak kemana-mana. Denis yang sudah mengurus semuanya. Ayo kita tidur sambil berpelukan biar mesra."
__ADS_1