Aksara Cinta

Aksara Cinta
135. Menghilang


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu semenjak kutinggal, Sayang?" Tanya Jeri dengan wajah yang lebih cerah pada Audrey.


Setelah mengantar Ressa pulang tadi ia pulang ke apartemen sebentar untuk mandi. Baru ke rumah sakit, entah kenapa dia jadi lebih peduli pada wanita ini. Tidak tega Jeri membiarkannya sendirian di rumah sakit.


"Sudah lebih baik, kamu tidak perlu menjagaku malam ini Jeri. Besok kamu bekerja kan."


"Kamu tidak perlu mencemaskanku, yang penting kamu cepat sembuh. Agar kita bisa cepat pulang." Jeri merapikan anak-anak rambut yang menutupi kening Audrey.


"Terserah saja, aku larang pun tetap kamu akan ada di sinikan." Audrey tersenyum menepuk pipi Jeri, "aku bosan di sini," keluhnya.


"Aku usahakan kamu besok bisa pulang, Sayang. Mau tidur sambil kupeluk?"


"Tempatnya kecil Jeri, tidakkah kita bisa pulang malam ini." Rengek Audrey yang membuat Jeri tersenyum.


"Gak bisa Manjaaaa," tukasnya seraya mencubit pipi Audrey. "Bersabar satu malam, Sayang. Apa perlu akau gendong kamu di sini agar bisa tenang," kekeh Jeri.


"Ih, bosan, bosan, bosan!!"


"Cup, cup, cup. Bayi besarku, tenanglah." Goda Jeri naik ke atas tempat tidur sambil tertawa kecil.


"Bosan Jeri," Audrey masih merengek manja.


"Tenanglah Sayang, aku bisa melakukan yang tidak-tidak kalau kamu masih seperti ini." Jeri membelai pipi Audrey, "tidur." Katanya sambil memberikan seulas senyuman manis.

__ADS_1


"Bacakan cerita biar aku bisa cepat tidur," ucap Audrey sengaja ingin mengerjai Jeri dan bermanja-manja dengan lelaki itu.


"Mau dongeng apa?" Jeri mengeluarkan ponselnya dari saku.


"Aku mau dongeng dari mulutmu, bukan dari youtube Jeri." Rengek Audrey semakin manja.


"Oh Tuhan, bayi besarku ini sangat menyebalkan sekali." Jeri memeluk gemas Audrey, apa yang sebenarnya ada dalam otak Jeri. Dia mengejar Ressa tapi sekarang malah terjebak dengan perempuan manja ini.


"Aku ingin bermanja-manja denganmu malam ini. Setelah aku sembuh kamu tidak perlu merawatmu lagi. Aku tidak akan mengganggu hidupmu ataupun Tian lagi." Ucap Audrey sambil tersenyum.


Ia tau Jeri baru saja menemui Ressa makanya wajah lelaki itu sangat cerah. Sebelum lelaki itu pergi, Audrey sempat mendengar pembicaraan Jeri di telepon.


"Kenapa sangat keras kepala seperti ini, Audrey. Aku sudah berbaik hati untuk merawatmu. Kamu pikir aku ini tidak ada kerjaan jadi mau merawatmu."


"Aku tidak ingin berdebat denganmu malam ini, Sayang."


"Bisakah jangan memanggilku Sayang lagi, jangan buat aku jatuh cinta padamu." Ujar Audrey menggoda.


"Panggilan itu sudah melekat untukmu, kamu masih kekasihku malam ini. Ingat itu!!"


"Ya terserah anda saja Tuan Jeri. Anda yang berkuasa di sini," kekeh Audrey.


"Mau pergi meninggalkanku kemana?" Jeri mengelus lembut rambut Audrey.

__ADS_1


"Aku tidak akan memberitahumu kemana aku pergi. Tidak ada orang kabur yang memberikan pengumuman sebelum melancarkan aksinya."


"Mudah bagiku menemukanmu, Audrey. Walau kamu tidak memberitahuku."


"Ya, aku tau. Tapi kamu tidak akan sempat mencariku. Karena kamu sibuk mengejar Ressa." Lanjut Audrey dalam hati.


"Akan kusempatkan untuk mencarimu nanti. Pergilah, jangan sampai hamil lagi. Bahaya kalau kamu menggugurkannya lagi," pesan Jeri.


Audrey hanya menganggukkan kepala, saat seperti ini dia merasa sangat disayangi. Seperti Tian memperlakukannya dulu. Tapi setelah mereka menemukan pujaan hati masing-masing, mereka akan pergi menghilang. Hanya tinggal dia sendirian dalam kelamnya kenangan.


"Maaf aku tidak bisa membahagiakanmu," ungkap Jeri tulus.


"Aku bahagia, kamu sudah menyayangiku. Walaupun ini hanya pura-pura."


"Istirahatlah, kamu butuh energi buat kabur dariku."


Audrey memajukan bibirnya, "aku tidak kabur, Jeri."


"Apapun namanya sama saja. Kamu ingin pergi meninggalkanku," dengus Jeri.


"Malam ini kita tidak akan berdebat kan, itu akan mengurangi keromantisan kita. Biar kita lewati malam ini dengan kenangan indah," usul Audrey.


"Aku pasti akan merindukan ini," Jeri membelai bibir Audrey dengan jari-jemarinya.

__ADS_1


Audrey tersenyum, dalam hatinya menangis. Ia sudah kehilangan ayah, bunda, Tian dan sekarang akan kehilangan Jeri juga.


__ADS_2